Memahami Apa Itu Ilmu Tasawuf

Inti dan pokok Agama Islam adalah At-Tazkiyah (penyucian diri). At-Tazkiyah adalah maqam (tingkatan) ilmu ihsan (hakikat). Apabila ilmu fikih menjaga Islam, ilmu akidah menjaga Iman, maka ilmu tazkiyah dan suluk menjaga ilmu Ihsan. Orang-orang saleh dan para kekasih Allah senantiasa melihat hati mereka di dalam proses perjalanan menuju Allah Swt. Ketika sampai pada tujuannya, mereka akan merasakan seolah-olah melihat Allah ketika sedang beribadah.

Para ulama dan orang-orang saleh senantiasa berfikir tentang apa yang terjadi pada diri mereka selama melakukan ibadah. Kemudian mereka mencatat segala sesuatu yang dirasakannya. Hal ini bertujuan agar nantinya catatan ini dapat dimanfaatkan sebagai kitab panduan dan petunjuk oleh generasi berikutmya. Kitab inilah yang disebut ilmu Tasawuf. Ilmu Tasawuf berlandaskan 3 sumber, yaitu Al-Qur’an, Al-Hadis, dan perasaan-perasaan hati yang dialami oleh para wali dan kekasih-kekasih Allah, ketika dan setelah mereka mengerjakan praktek ibadah.

Namun disayangkan, banyak orang yang menentang Tasawuf. Mereka tidak percaya dengan keadaan dan perasaan-perasaan yang dialami oleh para ahli ibadah. Mereka juga tidak percaya dengan apa yang ditulis oleh para ‘ubbaad (ahli ibadah) mengenai maqamaat (tingkatan-tingkatan) dan ‘ubuudiyah’ (tata cara beribadah yang benar). Keraguan akan ilmu Tasawuf telah menguasai sebagian besar orang. Semoga kita termasuk orang yang percaya dan mencintai ilmu tasawuf, Amiin.

Para imam ahli Tasawuf mengatakan,

مَنْ ذَاقَ عَرَفَ، وَمَنْ عَرَفَ إِغْتَرَفَ

Barangsiapa yang merasakan ia akan mengerti, dan barangsiapa yang mengerti maka ia akan menggayung (baca: mengambil manfaat)

Orang yang telah mendapatkan makrifat dan mengetahui tuhannya akan merasakan kenikmatan iman. Kenikmatan iman itu akan melebur merasuk kedalam hatinya, sehingga ia akan terus-menerus menggayung. Seseorang tidak akan puas apabila ia hanya mengambil dua atau tiga gayung. Ia akan terus dan terus menggayung dengan cara melakukan berbagai macam ketaatan, ibadah, dan kebaikan-kebaikan. Inilah halaawah rabbaaniyah (kenikmatan kebersamaan bersama tuhan).

Oleh karena itu, benar apa yang dikatakan oleh Abu Sufyan saat ditanya oleh salah seorang sahabat mengenai bagaimana iman seorang mukmin, apakah bertambah atau berkurang?, Abu Sufyan berkata, “tidak berkurang, tetapi ia terus bertambah dan bertambah”. Kemudian nabi Muhammad Saw bersabda, “beginilah kenikmatan iman, karena iman telah meresap kedalam hati”.[1] Para wali dan kekasih Allah telah mempraktekkan dan merasakan kenikmatan ini. Dan selanjutnya tujuan akhir dari ilmu tasawuf adalah mengantarkan murid untuk mencapai wushuul ila Allah (mata hati yang senantiasa melihat Allah).

Syaikh Ali Jum’ah, At-Thariq ila Allah

[1] Hadis riwayat Bukhari dan Muslim

Allah Adalah Satu-Satunya Tujuan Hidup

Satu prinsip dasar bagi seseorang yang akan menempuh perjalanan menuju Allah Swt. adalah meyakini bahwa, Allahu maqsuudul kul (Allah adalah tujuan dari segalanya). Ungkapan, ‘Allah tujuan segalanya’ adalah pondasi utama dalam perjalanan menuju Allah. Ketika kita bertanya, “apa maksud dari semua ini?”, maka para Mursyid (pembimbing jalan menuju Allah) dan Syaikh (guru) akan berkata, “Allah”. Dari jawaban itu, sepintas kita mengetahui maksudnya, namun kita belum memahami secara detail.

Ketika para syaikh menjawab pertanyaan kita, sungguh mereka sedang tenggelam di dalam Allah (baca: dzikir mengingat Allah). Ini adalah suatu kondisi yang dialami oleh syaikh-syaikh besar. Oleh karena itu, mereka sering mengatakan, “Allah maqsudul kul” (Allah adalah tujuan dari segalanya), maksudnya bahwa tujuan yang ingin dicapai oleh para syaikh dan kekasih-kekasih Allah adalah Allah Swt.

Para ulama kemudian menyebut pendidikan dan usaha untuk mencapai Allah dengan istilah ‘jalan’. Jadi seolah-olah Allah berada di akhir perjalanan, dan ‘jalan’ ini berada di posisi antara Tuhan dengan manusia. Mereka menamakannya dengan ‘jalan’ karena mereka berfikir bahwa inilah penyerupaan yang paling mudah untuk menggambarkan tanda-tanda makrifat dan perasaan yang dialami selama proses ini. Lalu ‘jalan’ ini mereka namakan dengan At-Thariq Ila Allah (Jalan Menuju Allah).

Syaikh Ali Jum’ah, At-Thariq ila Allah

Segala Pujian Dan Kekuasaan Hanya Milik Allah Swt (Tafsir Surah Al-Faatihah Ayat 1-4)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (١)الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (٢)الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (٣)مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, yang menguasai di hari Pembalasan. (QS. Al-Faatihah: 1-4)

Dengan surat Al-Fatihah ayat satu sampai empat di atas, Allah ingin mengajarkan kepada hamba-hamba-Nya bagaimana cara memuji dan mengagungkan Allah Swt. Allah memerintahkan kepada mereka dengan firman-Nya, katakanlah ‘الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ’ yang mengandung pujian yang bagus yang hanya dimiliki oleh Dzat yang Mahaagung dan Mahamulia. Tidak ada selain-Nya yang berhak untuk menyandang pujian bagus ini. Karena pada hakikatnya tidak ada pemberi rezeki dan penyebab kenikmatan kecuali Allah Swt.

Allah berfirman,

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ

Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, Maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan. (QS. An-Nahl: 53).

Semua pujian hanya milik Allah swt. Allah Swt telah tepuji sejak zaman azali, zaman ketika belum ada makhluk. Dan ketika Allah telah menciptakan makhluk, Ia memerintahkan mereka agar memuji-Nya dengan pujian yang telah ada sejak zaman azali, yaitu, الْحَمْدُ لِلَّهِ

Hanya Allah yang berhak menyandang pujian ini, karena Ia adalah رَبِّ الْعَالَمِينَ . Seolah-olah seseorang bertanya kepada Allah, “mengapa hanya Engkau yang memiliki pujian yang bagus itu?”, Allah berkata, “karena Aku adalah Tuhan semesta alam. Aku mewujudkan alam semesta dengan rahmat-Ku, Aku melimpahkan rezeki kepada seluruh makhluk dengan kenikmatan-Ku, tidak ada sang pemberi nikmat kecuali Aku, sehingga hanya Aku yang berhak memiliki pujian itu. Seluruh alam semesta dan segala macam isinya berada dalam kekuasaan dan pengawasan-Ku”.

Sebagian ulama mengatakan bahwa Allah Swt. menciptakan 18.000 alam, setengahnya berada di darat, sementara setengah yang lain berada di laut. Imam Fakhrur Razi berkata, “diriwayatkan bahwa jumlah seluruh manusia 1/10 (sepersepuluh) dari jumlah jin, jumlah keseluruhan jin dan manusia 1/10 nya jumlah binatang darat, dan keseluruhan manusia, jin, dan binatang darat adalah 1/10 dari jumlah burung. Lalu jumlah semua manusia, jin, binatang darat, dan burung adalah 1/10 dari jumlah binatang laut. Jumlah kesemuanya itu 1/10 dari jumlah malaikat-malaikat penjaga manusia yang ada di bumi, seluruh malaikat-malaikat bumi berjumlah 1/10 dari jumlah malaikat-malaikat yang berada di langit yang pertama, jumlah malaikat yang ada di langit pertama 1/10 dari jumlah malaikat yang berada di langit kedua, kemudian begitu seterusnya sampai langit yang ketujuh. Lalu jumlah seluruh malaikat yang ada di semua langit dan yang ada di bumi adalah sangat sedikit apabila dibandingkan dengan jumlah malaikat yang memikul Kursi, lalu kesemuanya berjumlah 1/10 dari jumlah satu lingkar malaikat yang mengelilingi Arsy. Jumlah lingkaran malaikat yang mengelilingi Arsy ada 100.000 lingkaran, dimana jarak antara lingkaran yang satu dengan lingkaran yang lain sangatlah jauh, lebih jauh dari jarak antara langit dan bumi. Dan jumlah malaikat yang berada di 100.000 lingkaran itu adalah jumlah yang sangat sedikit -ibarat setetes dari luasnya lautan- apabila dibandingkan dengan malaikat-malaikat yang mengangkat ‘Arsy Allah Swt”.

Allah berfirman,

وَمَا يَعْلَمُ جُنُودَ رَبِّكَ إِلا هُوَ

Tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan Dia sendiri. (QS. Al-Muddatsir: 31).

Setelah Allah menciptakan manusia dan jin, Allah mengutus para rasul dan nabi yang bertujuan untuk mendidik mereka. Dan pendidikan Allah adalah bentuk rahmat, kasih sayang, dan kebaikan Allah Swt kepada hamba-hamba-Nya, dan bukan kewajiban yang harus dilakukan oleh-Nya. Oleh karena itu Allah mengatakan, الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ, maksudnya Allah Maha Ar-Rahmaan dengan nikmat penciptaan-Nya, dan Allah Maha Ar-Rahiim dengan sifat pemberian nikmat dan kerunia-Nya. Dua kenikmatan, dimana setiap makhluk membutuhkannya, yaitu ni’matul iijaad (nikmat dijadikan) dan ni’matul imdaad (nikmat diberi rezeki, agar keberadaan tetap lestari).

Atau juga bisa dikatakan bahwa Allah Maha Ar-Rahmaan di dunia dan akhirat, dan Maha Ar-Rahiim di akhirat, karena rahmat Allah di akhirat hanya khusus bagi orang-orang yang beriman. Atau bisa juga dikatakan bahwa Allah Maha Ar-Rahman dengan nikmat-nikmat-Nya yang besar, dan Allah Maha Ar-Rahiim dengan nikmat-nikmat yang kecil. Nikmat yang besar itu seperti: nikmat Islam, Iman, Ihsan, makrifat, terbukanya hijab, dan hidayah. Adapun nikmat yang kecil seperti: nikmat sehat, harta yang halal, dll.

Dan yang mampu menjadikan dan yang mampu memberi rezeki dan kenikmatan yang pantas menyandang gelar raja. Oleh karena itu Allah menyebut diri-Nya, مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ , maksudnya Allah berhak melakukan apa saja atas hamba-hamba-Nya. Tidak ada yang bisa menolak keputusan Allah, dan tidak ada yang mencegah atas keinginan-Nya. Dialah rajanya semua raja, penguasa seluruh penguasa, di dunia dan di akhirat.

Ibnu Ajibah, Al-Bahrul Madiid