Syariat Islam Unggul Di Atas Syariat Agama-Agama Yang Lain

Islam adalah risalah / syariat Allah yang terbaik bagi seluruh umat manusia. Islam adalah agama terakhir yang diturunkan untuk nabi yang terakhir, Muhammad Saw, nabi yang menjadi rahmat bagi seluruh alam. Setiap rasul pasti membawa syariat khusus dari Allah yang diperuntukkan untuk umat tertentu. Tetapi nabi Muhammad Saw. datang dengan membawa syariat bagi seluruh umat manusia dan jin.

Allah berfirman,

قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا

Katakanlah: “Hai manusia Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua”. (QS. Al-A’raf: 158).

Nabi bersabda,

كَانَ النَّبِيُّ يُبْعَثُ إِلَى قَوْمِهِ خَاصَّةً، وَبُعِثْتُ إِلَى النَّاسِ عَامَّةً

Setiap nabi diutus bagi umat tertentu, namun aku diutus bagi seluruh umat manusia.

Islam adalah agama yang mudah yang tidak ada kesulitan di dalamnya.

Allah berfirman,

هُوَ اجْتَبَاكُمْ وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ

Ia Telah memilih kamu, dan Ia sekali-kali tidak menjadikan untuk kalian dalam agama, suatu kesempitan. (al-Hajj: 78)

Allah berfirman,

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. (QS. Al-Baqarah: 185)

Allah Swt. telah membangun Agama Islam dengan lima pondasi, yaitu syahadat, shalat, zakat, puasa, dan haji. Membangun Akidah di atas enam pilar, yaitu Iman kepada Allah, Malaikat-Malaikat Allah, Kitab-Kitab Allah, Rasul-Rasul Allah, hari akhir, dan Takdir Allah -baik yang baik maupun yang buruk-. Sebagaimana yang disabdakan oleh nabi Muhammad Saw, yang diriwayatkan oleh sayidina Umar Ra, beliau bersabda, ketika kami berada di sisi nabi Muhammad Saw., tiba-tiba datang seorang laki-laki yang memakai pakaian yang sangat putih dan warna rambutnya sangat hitam. Tidak ada seorangpun dari kami yang mengetahui dari mana ia berasal. Kemudian laki-laki itu mendekati nabi Muhammad dan duduk dihadapannya seraya menempelkan kedua lututnya pada kedua lutut nabi Muhammad Saw. Kemudian ia meletakkan kedua telapak tangannya diatas kedua paha nabi seraya berkata, “wahai Muhammad beritahukan kepadaku apa itu Islam?”, nabi berkata, “Islam adalah engkau bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah, bersaksi bahwa Muhammad utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa ramadhan, dan haji bagi yang mampu”, ia berkata, “engkau benar!”. Sayidina Umar berkata, kami heran, bagaimana ia bertanya kemudian membenarkannya?!”. Ia kembali bertanya, “beritahukan kepadaku apa itu iman?”, nabi menjawab, “iman adalah engkau beriman kepada Allah, Malaikat-Malaikat Allah, Kitab-Kitab Allah, Rasul-Rasul Allah, hari akhir, dan beriman kepada takdir -yang baik dan yang buruk-”, ia berkata, “engkau benar!”. Ia kembali bertanya, “beritahukan kepadaku apa itu Ihsan!”, nabi berkata, “Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, jika engkau tidak melihat-Nya, maka Ia melihat engkau. “Apa itu hari kiamat?”, nabi berkata, “yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya”. “Apa tanda-tandanya?”, nabi menjawab, “seorang budak yang melahirkan tuannya dan engkau melihat penggembala kambing yang saling berlomba-lomba dalam meninggikan gedung”. Tidak selang berapa lama laki-laki itu pergi meninggalkan kami. Nabi berkata kepada Umar, “tahukah engkau wahai Umar! siapa dia?”, “Allah dan rasul-Nya yang lebih tahu”, nabi berkata, “ia adalah Jibril, ia datang kepadamu untuk mengajarkan tentang agamamu”. (HR. Muslim).

Adapun tentang penamaan agama ini dengan ‘islam’ adalah karena ‘islam’ berasal dari lafaz bahasa Arabإِسْلاَم dan إِسْتِلاَمyang berarti: pasrah dan berserah diri kepada Allah. Ajaran Islam mengajarkan manusia untuk patuh dan tunduk kepada Allah dan memerintahkannya untuk berlepas diri dari tuhan-tuhan selain-Nya. Menyekutukan Allah tidak hanya terbatas pada penyembahan kepada matahari, gunung, pohon, atau api, tetapi kebanyakan manusia menyekutukan Tuhannya dengan cara mengikuti hawa nafsunya.

Allah berfirman,

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ

Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhan?!. (QS. Al-Jaatsiyah: 23).

Nabi bersabda,

اْلمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

Orang Islam adalah orang yang membawa kedamaian bagi muslim lainnya.

Islam adalah satu-satunya agama yang diridhai oleh Allah Swt, dan Allah sendiri yang memberikan nama ‘islam’ untuk agama ini.

Allah berfirman,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإسْلامَ دِينًا

Hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, Aku cukupkan nikmat-Ku kepadamu, dan Aku rela Islam menjadi agama bagimu. (QS. Al-Maidah: 3).

Allah berfirman,

مِلَّةَ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمِينَ مِنْ قَبْلُ وَفِي هَذَا لِيَكُونَ الرَّسُولُ شَهِيدًا عَلَيْكُمْ وَتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ (٧٨)

Ikutilah agama bapakmu Ibrahim. Dialah (Allah) yang memberi nama kalian dengan ‘muslimin’ sejak dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al-Qur’an) ini agar rasul Muhammad menjadi saksi atas dirimu. Dan agar kalian semua menjadi saksi atas segenap umat manusia. (QS. Al-Hajj: 78).

Sesungguhnya penamaan Allah dengan nama ‘muslimin’ adalah bagian dari kekhususan umat Muhammad Saw. Hal ini berbeda dengan umat yahudi yang memberikan nama sendiri pada agamanya mereka. Penamaan nama ‘yahudi’ mereka ambil dari lafaz hudnaa dalam doa yang dibaca oleh nabi Ibrahim yang disebutkan di dalam Al-Qur’an,

إِنَّا هُدْنَا إِلَيْكَ

Sungguh kami telah kembali (bertaubat) kepada-Mu. (QS. Al-A’raaf: 156).

Begitu pula dengan agama nasrani, mereka sendiri yang memberi nama agamanya dengan ‘nasrani’, dengan mengutip dari firman Allah,

وَمِنَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّا نَصَارَى

Dan diantara orang-orang yang mengatakan bahwa kami ini adalah orang nasrani. (QS. Al-Maaidah: 14).

Segala puji bagi Allah yang telah mengkhususkan kita dengan penamaan agama ini, dan melebihkan kita di atas umat-umat yang terdahulu.

Prof. Dr. Syekh Ali Jum’ah, Al-Bayaan lima Yusyghilul adzhaan

 

Islam Adalah Agama Terakhir Dan Agama Semua Nabi

Ajaran yang diperintahkan Allah kepada seluruh umat manusia sejak zaman nabi Adam sampai zaman nabi Muhammad adalah laa ilaaha illallah (tiada tuhan selain Allah). Allah Swt. sangat sayang kepada hamba-hamba-Nya, sehingga Ia mengutus para rasul yang bertugas memberi peringatan kepada mereka. Dan agar mereka mengimani apa-apa yang dikatakan oleh para rasul. Karena segala sesuatu yang mereka katakan pada hakekatnya berasal dari Allah Swt.

Allah berfirman,

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا أَنَا فَاعْبُدُونِ

Aku tidak mengutus seorang rasulpun sebelum engkau (Muhammad), melainkan telah Aku wahyukan kepadanya ‘laa ilaaha illallah’, maka sembahlah Aku. (QS. Al-Anbiyaa’: 25).

Allah juga berfirman,

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلا بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ

Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. (QS. Ibraahiim: 4)

Mengesakan Allah kemudian beribadah kepada-Nya adalah dasar syariat yang dibawa oleh semua rasul.

Allah berfirman,

أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ

Sembahlah Allah oleh kamu sekalian, sekali-kali tidak ada Tuhan selain daripada-Nya. (QS. Al-Mukminuun: 32).

Islam adalah agama semua nabi dilihat dari dimensi akidah.

Allah berfirman,

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الإسْلامُ

Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. (QS. Ali Imraan: 19)

Allah berfirman,

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإسْلامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ

Barang siapa yang mencari agama selain agama Islam maka sekali-kali tidak akan diterima. (QS. Ali Imron: 85).

Allah berfirman,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإسْلامَ دِينًا

Hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, Aku cukupkan nikmat-Ku kepadamu, dan Aku rela Islam menjadi agama bagimu. (QS. Al-Maidah: 3).

Allah Swt. menghendaki agar agama Islam menjadi agama yang terakhir secara syariat. Tetapi dari sisi akidah semua agama adalah Islam. Adapun persamaan agama Islam dengan agama-agama sebelumnya terletak pada prinsip-prinsip ibadah seperti shalat, zakat, dan beberapa perintah dan larangan, seperti haramnya membunuh dan berzina. Adapun perbedaannya terletak pada bentuk dan gerakan shalat, nisab zakat dan jumlah yang harus dikeluarkan, dan lain-lain -menyesuaikan dengan zaman dan kondisi setempat-.

Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa Agama Islam mencakup akidah, syariat Islam, dan prinsip syareat agama-agama terdahulu. Oleh karena itu, Allah berfirman kepada umat Muhammad bahwa Islam adalah agama yang sempurna, nikmat yang lengkap, dan Allah ridha atas agama ini.

Allah berfirman,

وَمَنْ يَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ إِبْرَاهِيمَ إِلا مَنْ سَفِهَ نَفْسَهُ وَلَقَدِ اصْطَفَيْنَاهُ فِي الدُّنْيَا وَإِنَّهُ فِي الآخِرَةِ لَمِنَ الصَّالِحِينَ (١٣٠)إِذْ قَالَ لَهُ رَبُّهُ أَسْلِمْ قَالَ أَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ (١٣١)وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Dan tidak ada yang membenci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri, dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia. Dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh. Ketika Tuhannya berfirman kepadanya, “tunduk patuhlah!”, Ibrahim menjawab: “Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam”. Dan Ibrahim Telah mewasiatkan Ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata), “Hai anak-anakku! sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah engkau mati kecuali dalam memeluk agama Islam. (QS. Al-Baqarah: 130-132).

Allah berfirman,

قَالَتْ رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي وَأَسْلَمْتُ مَعَ سُلَيْمَانَ

Balqis berkata, ‘Tuhanku! sesungguhnya aku telah berbuat zalim kepada diriku. Dan aku berislam (berserah diri) kepada Tuhan bersama dengan nabi Sulaiman. (QS. An-Naml: 44).

Allah Swt. juga menyebutkan di dalam firman-Nya bahwa nabi Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’qub, Asbat, Nuh, Musa, Isa, Sulaiman dan orang-orang yang mengikutinya sebagai muslimiin (orang Islam).

Dari penjelaskan diatas dapat disimpulkan bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang ada sejak zaman nabi Adam sampai zaman nabi Muhammad SAW. Wallahu A’lam.

Prof. Dr. Ali Jum’ah, Al-Bayaan lima Yusyghilul Adzhan

Memahami Lebih Dalam Hadis Malaikat Jibril

Pada suatu hari Malaikat Jibril datang kepada Rasulullah Saw. yang sedang duduk bersama dengan para sahabat. Malaikat Jibril datang dalam rupa seorang laki-laki tampan yang rambutnya sangat hitam dan baju yang sangat putih -sebagaimana dikisahkan di dalam suatu riwayat-. Kemudian ia duduk di depan Muhammad seperti duduknya seorang murid di depan gurunya, dan Rasulullah meletakkan kedua tangannya di atas kedua paha Jibril. Lalu Malaikat Jibril berkata, “ya Rasulullah apa itu Islam?”, Nabi menjawab, “Islam adalah engkau bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan nabi Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa di bulan ramadhan, dan pergi haji ke baitullah bagi yang mampu”, “benar!” sahut Malaikat Jibril. Sayyida Umar berkata, “Aku heran, bagaimana ia bertanya, tetapi ia membenarkannya”. Malaikat Jibril melanjutkan pertanyaannya, “apa itu Iman?”, nabi menjawab, “Iman adalah engkau beriman kepada Allah, malaikat, kitab, para rasul, hari kiamat, dan beriman kepada qadha’ dan qadar”, “benar!”, sahut Malaikat Jibril. “Apa itu Ihsan?”, “Ihsan adalah engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, jika engkau tidak melihat-Nya maka Ia melihatmu”.

Para ulama menjadikan hadits ini sebagai dasar dalam menciptakan ilmu-ilmu syar’i, lalu mereka membukukan ilmu yang membahas tentang iman, yang dinamakan dengan ilmu tauhid. Ilmu ini mengandung pembahasan mengenai iman kepada Allah, rasul, kitab-kitab, dan hari akhir. Lalu mereka membagi ilmu tauhid ini menjadi tiga bagian. Bagian pertama menjelaskan tentang Allah dan hal-hal yang berkaitannya dengan-Nya yang mencakup sifat-sifat wajib (harus ada) bagi Allah, sifat-sifat mustahil (tidak mungkin), dan sifat ja’iz (boleh), dimana keseluruhannya bersumber dari Al-Qur’an dan Al-Hadits.

Bagian kedua membahas tentang kenabian yang berisi penjelasan tentang sifat-sifat wajib, mustahil, dan sifat ja’iz. Adapun bagian ketiga berisi tentang sam’iyyat (hal-hal yang didengar) yang membahas informasi-informasi yang datang kepada kita melalui pendengaran -dan bukan melalui pikiran, penglihatan, maupun perenungan-. Misalnya adanya hari akhir, surga, neraka, siroth (jembatan), mizan (timbangan), hisab (perhitungan amal), malaikat, jin, dan lain-lain, yang kesemuanya bersumber dari Al-Qur’an dan Al-Hadits.

Para ulama juga menciptakan ilmu fikih yang berfungsi untuk menjaga Islam (syariat). Penelitian dan kajian yang amat mendalam dalam bidang fiqih menjadikan permasalahan yang dibahas dalam ilmu ini kian berkembang luas. Ada sebagian ahli fikih yang mencoba untuk menelitinya sampai akhirnya menemukan bahwa ada lebih dari satu juta permasalahan yang telah dikaji oleh para fuqaha’ (ulama ahli ilmu fikih) yang telah termaktub di dalam kitab-kitab mereka. Dan semuanya bersumber dari Al-Qur’an dan Al-Hadits.

Perbedaan pemahaman kaum muslimin ketika membaca dan mempelajari Al-Qur’an dan Al-Hadits menyebabkan munculnya banyak madzhab fiqih yang konon jumlahnya mencapai lebih dari 90 madzhab. Namun seiring dengan berjalannya masa, banyak madzhab yang tidak memiliki banyak pengikut sehingga madzhab tersebut menghilang. Jumlah madzhab pun terus-menerus berkurang hingga tersisa menjadi 45 madzhab. Dan setiap tahun jumlah madzhab ini terus-menerus mengalami penurunan hingga yang masih hidup dan berkembang sampai sekarang hanya ada 8. Diantara 4 madzhab yang paling terkenal dan paling banyak pengikutnya adalah Hanafiyah, Syafi’iyyah, Malikiyyah, dan Hanabilah. Adapun 4 madzhab lainnya tidak begitu terkenal, mereka adalah Ja’fariyah (banyak diikuti oleh kalangan syiah), ‘Ibaadhiyyah (banyak diikuti oleh penduduk negara Oman dan Al-Jaza’ir), Zaidiyah (diikuti oleh banyak penduduk Yaman), dan zhahiriyah (banyak diikuti oleh penduduk Maghrib).

Adapun imam-imam madzhab yang terkenal diantaranya adalah Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad bin Hambal. Imam Abu Hanifah wafat pada tahun 150 H, dan usianya mencapai 70 tahun. Imam Malik wafat pada tahun 174 H, dan usianya sekitar 84 tahun. Imam Syafi’i wafat pada tahun 204 H, dan usianya 54 tahun. Dan Imam Ahmad bin Hambal wafat pada tahun 241 H. Mereka adalah ulama-ulama ahli fikih yang menyebarkan ilmu fikih sampai ke penjuru dunia dan berkembang hingga sekarang.

Adapun yang terakhir, ulama membuat kitab-kitab tasawuf yang berfungsi untuk meenjaga ilmu Ihsan. Di dalam kitab ini kita akan belajar tentang bagaimana cara mendapatkan hati yang suci, khusyu’, ikhlas, tawadhu’, mencintai Allah, mencintai Rasulullah, tawakkal, sabar, dll. Kita tidak bisa mendapatkan semua itu hanya dengan membaca kitab-kitab tasawuf, tetapi kita harus memerlukan guru yang akan menunjukkan kepada kita bagaimana cara melatih hati sedikit demi sedikit untuk mendapatkan hasil yang diinginkan. Adapun para Syaikh yang alim dan masyhur di dalam bidang ilmu ini diantaranya, Syaikh Abdul Qadir Al-Jailai, Al-Imam Al-Ghazali, Al-Imam Junaid Al-Baghdadi, Al-Imam Baha’uddin An-Naqsyabandi, Syaikh Yusuf Al-Hamdani, dll. Merekalah para panutan yang harus kita ikuti. Jika mereka telah tiada, maka mengikuti mereka dengan cara mengikuti para guru yang masih hidup pada zaman sekarang, dimana mereka memiliki guru, dan guru mereka juga memiliki guru yang terus-menerus bersambung kepada para ulama itu. Semoga kita diberi anugerah untuk memahami ilmu Ihsan ini, karena ilmu ini dikatakan oleh para ulama sebagai inti Agama Islam, dan amat beruntung orang yang memahaminya dan bisa mengaplikasikannya di dalam kehidupan sehari-hari.

Syaikh Ali Jum’ah, At-Thariq ila Allah