Tujuan Penting, Diturunkannya Al-Quran

Berikut ini adalah salah satu tujuan penting diturunkannya Al-Qur’an :

كِتٰبٌ اَنْزَلْنٰهُ اِلَيْكَ مُبٰرَكٌ لِّيَدَّبَّرُوْٓا اٰيٰتِهٖ وَلِيَتَذَكَّرَ اُولُوا الْاَلْبَابِ

Kitab (Al-Qur’an) yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka menghayati ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran. (QS. Shaad 38 : 29).

Imam As-Suyuthi (Ulama multitalenta dari mesir pada abad ke 15, karya beliau yang terkenal tafsir Jalalain) di dalam kitab Asrar Tartib Al-Qur’an menjelaskan bahwa seorang tak akan mampu memahami isi Al-Qur’an kecuali dengan mengetahui arti dan tujuan yang terkandung di dalamnya.

Imam As-Suyuthi menambahkan, dianjurkan membaca Al-Qur’an sekaligus meresepi makna dan memahami maksudnya. Dengan cara itulah, hati orang yang membacanya menjadi sejuk.

Imam At-Thabari (Ahli fiqih dari persia bermazhab syafi’i) dalam kitab tafsirnya menjelaskan bahwa Al-Qur’an adalah kitab penuh berkah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam, tujuannya supaya direnungi makna dan dipahami isinya. Al-Qur’an menjadi hujjah dan landasan dalam syariat Islam.

Syeikh An-Nawawi al-Bantani pada kitab tafsirnya Al Munir menjelaskan mengenai ayat ini, Bahwa Al-Qur’an diturunkan agar menjadi petunjuk bagi orang yang memahami Al-Qur’an.

As-Sa’dy dalam menafsirkan kata Mubarakun menjelaskan,

Pada Al-Qur’an ada kebaikan yang banyak, ilmu yang luas dan dalam. Berisi petunjuk yang mengeluarkan diri dari kesesatan, penyembuh dan penawar dari berbagai macam racun dan penyakit.

Al-Qurtubi memaparkan,

Bahwa bagi orang-orang yang telah dikhususkan Allah dengan hafalan Al-Qur’an, maka hendaklah ia membaca Al-Qur’an dengan bacaan yang baik, menghayati hakikat isinya, memahami keajaiban-kejaibannya, dan menjelaskan apa yang unik darinya.

Liyatabbaruu Berasal dari akar kata دَبَّرَ – تَدَبَّرَ – يَتَدَبَّرُ – تَدَبُّرًا yang memiliki arti belakang. 

Tadabbur itu sendiri berarti memperhatikan, merenungkan, memikirkan, sesuatu di belakang, secara luas dan mendalam dalam rangka mengetahui suatu maksud dan tujuan, untuk diamalkan/dipraktekan dalam kehidupan sehari-hari.

Contohnya, kita mentadabburi surah Al-Ikhlas, kita bisa memulai dengan :

  1. Kita bisa bertanya kepada diri sendiri, apa arti, maksud dan tujuan dari surah Al-Ikhlas ini. (lihat terjemah, dan tafsirnya)
  2. Berfikir, merenung secara luas dan mendalam bagaimana cara mempraktekkan/mengamalkan surah Al-Ikhlas ini dalam kehidupan sehari-hari diantaranya : Selalu mengesakan Allah dan tidak menyekutukan dengan sesuatu apapun, apapun masalahnya selalu bergantung kepada Allah (Karena Allah yang maha kokoh untuk kita bergantung segala urusan kepadanya) dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Allah.

Ada pesan  yang menarik dari Muhammad Abduh (salah seorang ulama dari mesir) untuk orang-orang yang bertadabbur dengan Al-Qur’an, isinya adalah istiqamahlah dalam membaca Al-Qur’an, pahami perintah dan larangannya, ikuti nasihat dan ajarannya sebagaimana telah dicontohkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Menurut Al- Biqa’i dalam Metode Tafsir Maqasidi karya Wafi’ Asyur Abu Zayd, sebuah surat ibarat sebatang pohon besar yang rimbun dan tinggi, setiap surah memiliki keindahan yang menajubkan dan dapat berdiri sendiri, surah selalu dihiasi dengan berbagai hiasan yang ditata baik di antara dedaunannya secara artistik. Dari sini para mufassir bisa mendapatkan pelajaran dari Al-Qur’an dan akan merasa sejuk setelah benar-benar bertadabur dengan Al-Qur’an, memahami segala keindahan bahasa Al-Qur’an dengan saksama.

Imam Hasan Al-Basri (Salah satu ulama besar dari kalangan tabi’in) mengatakan,

“Demi Allah, bukanlah cara mengambil pelajaran dari Al-Qur’an itu dengan menghafal huruf-hurufnya, tetapi menyia-nyiakan batasan-batasannya, sehingga seseorang dari mereka (yang tidak mengindahkan batasan-batasannya) mengatakan” Aku telah membaca seluruh Al-Qur’an, tetapi pada dirinya tidak ada ajaran Al-Qur’an yang disandangnya, baik pada akhlaknya ataupun pada amal perbuatannya.”

Sebagaimana kisah sahabat Nabi SAW yang diceritakan oleh Abu Abd-Rahman al-Sulami, seperti Usman bin Affan, Abdullah ibn Mas’ud dan lainnya,

Ketika ia belajar Al-Qur’an sepuluh ayat langsung kepada Nabi, maka mereka tidak langsung menambah ayat lainnya, sebelum mereka mengerti isi kandungannya serta mengamalkannya.

Karena sesungguhnya seseorang tidak akan bisa menjadi sosok yang qur’ani kecuali dengan ilmu, amal serta perjuangan mengajarkannya kembali.

Dalam Tafsir Ibnu Katsir dituliskan bahwa makna Al-albab pada surah shad ayat 29 adalah bentuk jamak dari lub yang artinya akal. Maka Allah akan memberikan pelajaran dari Al-Qur’an bagi yang memahami Al-Qur’an.

Semoga dengan selalu mempelajari Al-Qur’an, kita semua diridhoi Allah dan dijadikan hambanya yang senang membaca Al-Qur’an siang dan malam, selalu menghafal dan mengulang-ulanginya, mengajarkannya dan mengamalkan Al-Qur’an dalam kehidupan di dunia ini.

Ya hayyu ya qoyyum, birahmatika astaghits, Allhumarhamna bil quran, Allhuma faqihna fiddin wa alimna ta’wil. Aamiin yaa rabbal’alamin.

Sumber Referensi :

Agar Menghafal Al-Qur’an Terasa NIKMAT

Berikut ini adalah 8 hal yang Insya Allah membuat kita merasa nikmat menghafal Quran.

Tips ini kami dapatkan dari Ust. Deden Makhyaruddin yang menghafal 30 juz dalam 19 hari (setoran) dan 56 hari untuk melancarkan.

Tapi uniknya, beliau mengajak kita untuk berlama-lama dalam menghafal.

Pernah beliau menerima telepon dari seseorang yang ingin memondokkan anaknya di pesantren beliau.

“Ustadz.. menghafal di tempat antum itu berapa lama untuk bisa khatam??”

“SEUMUR HIDUP,” jawab Ust. Deden dengan santai.

Meski bingung, Ibu itu tanya lagi “Targetnya Ustadz???”

“Targetnya HUSNUL KHOTIMAH, MATI DALAM KEADAAN PUNYA HAFALAN,” jawab Ust. Deden.

“Mmm.. kalo pencapaiannya Ustadz???” Ibu itu terus bertanya. “Pencapaiannya adalah DEKAT DENGAN ALLAH,” kata Ust. Deden.Menggelitik, tapi sarat makna.

Prinsip beliau “CEPAT HAFAL itu datangnya dari ALLAH, INGIN CEPAT HAFAL (bisa jadi) datangnya dari SYETAN”…

Mau tahu lebih lanjut, yuk kita pelajari 8 prinsip dari beliau:

1. MENGHAFAL TIDAK HARUS HAFAL

Allah memberi kemampuan menghafal dan mengingat yg berbeda-beda pada tiap orang. Bahkan imam besar dalam ilmu qiroat, guru dari Hafs–yang mana bacaan kita merujuk pada riwayatnya–yaitu Imam Asim menghafal Quran dalam kurun waktu 20 tahun. Target menghafal kita bukanlah ‘ujung ayat’ tapi bagaimana kita menghabiskan waktu (durasi) yang sudah kita agendakan HANYA untuk menghafal.

2. BUKAN UNTUK DIBURU-BURU, BUKAN UNTUK DITUNDA-TUNDA

Kalau kita sudah menetapkan durasi, bahwa dari jam 6 sampe jam 7 adalah WAKTU KHUSUS untuk menghafal misalnya, maka berapa pun ayat yang dapat kita hafal tidak jadi masalah. Jangan buru-buru pindah ke ayat ke-2 jika ayat pertama belum benar-benar kita hafal. Nikmati saja saat-saat ini.. saat-saat ketika kita bercengkrama dengan Allah. 1 jam lho.. untuk urusan duniawi 8 jam betah, hehe. Toh 1 huruf 10 pahala bukan?? So jangan buru-buru… Tapi ingat! Juga bukan untuk ditunda-tunda.. habiskan saja durasi menghafal secara ‘PAS’

3. MENGHAFAL BUKAN UNTUK KHATAM, TAPI UNTUK SETIA BERSAMA QURAN.

Kondisi HATI yang tepat dalam menghafal adalah BERSYUKUR bukan BERSABAR. Tapi kita sering mendengar kalimat “Menghafal emang kudu sabar,” ya kan?? Sebenarnya gak salah, hanya kurang pas saja. Kesannya ayat-ayat itu adalah sekarung batu di punggung kita, yang ingin cepat-cepat kita pindahkan agar segera terbebas dari beban (khatam).

Bukankah di awal surat Thoha Allah berfirman bahwa Quran diturunkan BUKAN SEBAGAI BEBAN. Untuk apa khatam jika tidak pernah diulang?? Setialah bersama Quran.

4. SENANG DIRINDUKAN AYAT

Ayat-ayat yang sudah kita baca berulang-ulang namun belum juga nyantol di memory, itu ayat sebenarnya lagi kangen sama kita. Maka katakanlah pada ayat tersebut “I miss you too…” hehe. Coba dibaca arti dan tafsirnya… bisa jadi itu ayat adalah ‘jawaban’ dari ‘pertanyaan’ kita. Jangan buru-buru suntuk dan sumpek ketika gak hafal-hafal. Senanglah jadi orang yang dirindukan ayat.

5. MENGHAFAL SESUAP-SESUAP

Nikmatnya suatu makanan itu terasa ketika kita sedang memakannya, bukan sebelum makan bukan pula setelahnya. Nikmatnya menghafal adalah ketika membaca berulang-ulang. Dan besarnya suapan juga harus pas di volume mulut kita agar makan terasa nikmat. Makan pake sendok teh gak nikmat karena terlalu sedikit, makan pake sendok nasi (centong) bikin muntah karena terlalu banyak. Menghafal pun demikian. Jika “’Amma yatasaa aluun” terlalu panjang, maka cukuplah “’Amma” diulang-ulang, jika terlalu pendek maka lanjutkanlah sampai “’Anin nabail ‘Adzim” kemudian diulang-ulang. Sesuaikan dengan kemampuan ‘mengunyah’ masing-masing anda.

6. FOKUS PADA PERBEDAAN, ABAIKAN PERSAMAAN

“Fabi ayyi alaa’i rabbikuma tukadz dziban” jika kita hafal 1 ayat ini, 1 saja! maka sebenarnya kita sudah hafal 31 ayat dari 78 ayat yg ada di surat Ar-Rahman. Sudah hampir separuh surat kita hafal. Maka ayat ini dihafal satu kali saja, fokuslahpada ayat sesudahnya dan sebelumnya yang merangkai ayat tersebut.

7. MENGUTAMAKAN DURASI

Seperti yang dijelaskan di atas, komitmenlah pada DURASI bukan pada jumlah ayat yg akan dihafal. Ibarat argo taksi, keadaan macet ataupun di tol dia berjalan dengan tempo yang tetap. Serahkan 1 jam kita pada Allah.. syukur-syukur bisa lebih dari 1 jam. 1 jam itu gak sampe 5 persen dari total waktu kita dalam sehari…!!! 5 persen untuk Quran.

8. PASTIKAN AYATNYA BERTAJWID

Cari guru yang bisa mengoreksi bacaan kita. Bacaan tidak bertajwid yang ‘telanjur’ kita hafal akan sulit diubah/diperbaiki di kemudian hari (setelah kita tahu hukum bacaan yang sebenarnya). Jangan dibiasakan otodidak untuk Quran… dalam hal apa pun yg berkaitan dengan Quran;

membaca, mempelajari, mentadabburi, apalagi mengambil hukum dari Quran.📝Artikel ini merupakan catatan dari kajian “Indahnya Hidup dengan Menghafal dan Mentadabburi Quran”

bersama Ust. Bachtiar Nasir dan Ust. Deden M. Makhyaruddin

di Masjid Al-Falah, 7 Juni 2015.

Allahummarhamna bil Qur’an

Berkat Doa Orangtua dan Hafalan Al-Qur’an, Gelar Dokter Mampu Diraih

Siapa sangka, kebiasaan Tamara menghafal Al-Qur’an di pondok, mampu membawanya menyelesaikan studi kedokteran yang ia tempuh sejak 2014 silam.

“Metodenya kan diulang-diulang. Dalam sehari kan ada beberapa hari hafalan Qur’an.

Itu diajarin kalau mau hafalan tiga ayat, itu diulang-ulang aja tiga ayat itu,” cerita Tamara menjelaskan bagaimana fokus menjadi kunci dari metode yang ia tempuh dalam menghafal Al-Qur’an selama mondok di Pesantren Tahfzih Daarul Qur’an Tangerang.

Metode itu juga yang membuatnya dijuluki “Si Jagoan Ngafal” oleh teman-temannya di Fakultas Kedokteran, Universitas Muhammadiyah Jakarta, kala harus mempelajari mata kuliah yang akan diujikan.

Lanjutkan membaca “Berkat Doa Orangtua dan Hafalan Al-Qur’an, Gelar Dokter Mampu Diraih”