Wushul Kepada Allah Dalam Kitab Hikam dan Caranya

Wushul kepada Allah adalah melihat Allah dengan ‘ainul bashiroh (mata hati) yang mana dalam kenyakinan orang yang sudah wushul tersebut telah Haqqul yaqin, bahwa alam semesta ini pada hakekatnya adalah bayangan dari Penciptanya, sehingga dia dapat merasakan wujud yang sejati itu hanyalah Allah, sedangkan lainnya hanyalah bukti dari wujud yang sejati tersebut, yaitu Allah swt.

Dalam kitab hikam diterangkan :

شَتَّانَ بَيْنَ مَنْ يُسْتَدَلُّ بِهِ أَوْ يَسْتَدِلُّ عَلَيْهِ، الْمُسْتَدِلُّ بِهِ عَرَفَ الْحَقَّ لِأَهْلِهِ فَأَثْبَتَ الْأَمْر مِنْ وُجُوْدِ أَصْلِهِ. وَالْإِسْتِدْلاَلُ عَلَيْهِ مِنْ عَدَمِ الْوُصُوْلِ إِلَيْهِ، وَإِلاَّ فَمَتَى غَابَ حَتَّى يُسْتَدَلّ عَلَيْهِ. وَمَتَى بَعُدَ حَتَّى تَكُوْنُ الْآثَارُ هِيَ الَّتِى تُوصلُ إِلَيْهِ

Jauh berbeda, antara orang yang dengan Allah ia mengetahui alam, dengan orang yang dengan alam ia mengetahui Allah.

Orang yang dengan Allah ia mengetahui alam, telah mendapatkan kebenaran yang hakiki. Sedangkan orang yang dengan alam ia mengetahui Allah, menunjukkan belum sampainya ia kepada Allah.

Bagaimana tidak, kapan Allah tidak ada sampai-sampai harus menggunakan alam untuk mengetahui Allah?!. Dan apakah Allah itu jauh, sampai-sampai menggunakan alam untuk mencapai wushul (sampai kepada Allah)?!.

Jauh berbeda antara orang yang meminta petunjuk (dengan) ‘Allah’ untuk mengetahui ‘sesuatu’ -mereka adalah ahlus syuhud (orang yang bisa memandang Allah dengan mata hatinya)-, dengan orang yang menggunakan ‘sesuatu’ untuk mengetahui ‘Allah’ -mereka adalah para muridin (orang yang masih mencari-cari Allah)-.

Kedua orang ini menempati maqam dan tingkatan yang berbeda. Orang yang menggunakan ‘Allah’ untuk mengetahui ‘sesuatu’ adalah orang yang sudah mendapatkan ma’rifat kepada Allah. Orang ini mengetahui bahwa Allah adalah satu-satunya yang ada. Keberadaan-Nya adalah sebab yang membuat segala sesuatu menjadi ada. Dan jika Allah tidak ada, maka alam ini tidak akan ada.

Orang-orang ma’rifat tidak akan memandang sesuatu, kecuali mereka telah memandang Allah sebelumnya. Oleh karena itu, mereka akan senantiasa meminta petunjuk dengan ‘Allah’ ketika mereka sedang ingin mengetahui ‘sesuatu’.

Adapun menggunakan ‘sesuatu’ untuk mengetahui ‘Allah’, dikarenakan orang itu belum wushul (sampai) kepada Allah dan hatinya masih terhijab dengan sesuatu selain Allah, sehingga ia menggunakan petunjuk ‘sesuatu’ untuk mengetahui tentang siapakah Dzat yang mengganti siang dengan malam.

Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa orang ini menggunakan ‘sesuatu’ -yang hakekatnya tidak ada- untuk mengetahui Dzat yang Maha Ada. Ia menggunakan yang samar untuk mengetahui Dzat yang tampak jelas.

Hal ini terjadi karena hatinya masih terhijab dan terpaut dengan ‘sebab’. Apabila ia bukan orang yang terhijab, bagaimana mungkin ia menggunakan ‘ciptaan-Nya’ untuk mengetahui ‘Pencipta-nya’ yang tampak dan nyata?!.

Ibnu ‘Ibad menukil dari kitab latha’iful minan, “ketahuilah! bahwasanya dalil / petunjuk itu dibutuhkan bagi orang yang sedang mencari Allah, bukan orang yang telah bisa memandang Allah. Orang yang telah melihat Allah tidak mungkin membutuhkan petunjuk untuk dapat melihat Allah”.

Hal yang mengherankan adalah bagaimana mungkin seseorang menggunakan ‘sesuatu’ untuk dapat melihat ‘Allah’. Apakah ‘sesuatu’ itu lebih tampak dari pada Allah. Bukankah Allah yang membuat segala sesuatu menjadi tampak. Bukankah Dia yang menciptakan semua sebab. – Syekh Abdul Majid As-Syarnubi, Syarkhu kitabil hikam (Penerjemah oleh : Farid Wajdi)

Dikutip dari tebuireng.online : Dalam kitabnya Jami’ah Al-maqhosid, Hadratusyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari menjelaskan cara Wushul Kepada Allah sebagaimana berikut:

  1. Taubat (meninggalkan) dari segala hal yang haram dan yang makruh
  2. Mencari ilmu sesuai kebutuhan
  3. Melanggengkan diri dalam keadaan suci
  4. Melanggengkan diri untuk melakukan sholat fardhu di awal waktu dengan berjamaah
  5. Melanggengkan diri untuk melakukan sholat sunnah rawatib
  6. Melanggengkan diri untuk melaksanakan sholat dhuha sebanyak delapan rakaat
  7. Melanggengkan diri untuk melakukan sholat sunnah sebanyak enam rokaat diantara Magrib dan Isya
  8. Melakukan sholat malam dan Sholat witir
  9. Puasa sunnah di hari Senin dan Kamis Puasa sunnah tiga hari dalam ayyamuk biid(pertengahan bulan Hijriyah, ketika bulan purnama) Puasa di hari-hari mulia
  10. Membaca Al Quran dengan penuh penghayatan
  11. Memperbanyak Istighfar
  12. Memperbanyak sholawat kepada Nabi Muhammad SAW.
  13. Melanggengkan diri untuk membaca dzkir-dzikir yang disunnahkan di pagi hari dan sore hari.

wallahu a’lam.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: