Memahami Hakikat Haji, Semoga Menjadi Haji Mabrur

Anda sudah berangkat Haji? Alhamdulillaah bila sudah, semoga menjadi haji mabrur, dan bila belum maka semoga di tahun ini (2019) atau tahun Depan (2020) Kita semua dimudahkan oleh Allah untuk menunaikan Ibadah Haji dengan predikat Haji yang Mabrur. Aamiin.
Haji adalah ibadah yang lebih mengutamakan gerakan Hati dan Fisik dibandingkan Ucapan/Bacaan. Sedikit sekali bacaan yang wajib dibaca ketika melakukan proses rangkaian ibadah Haji.
Itu sebabnya kita tidak perlu terlalu khawatir berlebihan jika masih banyak bacaan-bacaan haji yang belum dihapal. Yang penting baca Niat Haji lalu lebih fokuskan pada gerak hati dan gerak jasadi.
Adapun secara ringkas proses rangkaian haji terdiri dari :
1. Niat sambil ber-Ihram di Miqot yang ditentukan
2. Wuquf di ‘Arafah
3. Mabit di Muzdalifah
4. Lempar Jumrah
5. Tahalul
6. Mabit di Mina
7. Thawaf
8. Sa’i

Niat Berhaji

Niat berhaji dimulai dan dilafadzkan dari miqot (batas tempat) yang telah ditentukan dalam keadaan sudah menggunakan kain Ihram.
Ihram artinya terlarang. Orang yang sudah Ihram maka ia terlarang untuk melakukan aktifitas rafats (berkata porno atau berhubungan sex), fusuk, debat, dan beberapa larangan lainnya, yang intinya, jika sudah menggunakan kain Ihram maka jangan lagi ada hawa nafsu, stress, atau mengkhawatirkan sesuatu yang sifatnya duniawi.
Lupakan untuk sementara waktu berbagai proyek duniawi yang berisik dan berkecamuk di tanah air jiwa, fokuslah bertalbiyah untuk memenuhi panggilannya,
Labbaikallaahumma labbaik, labbaikalaa syariikalaka labbaik, innal hamda wanni’mata laka walmulk laa syariikalak.
Artinya : Kami datang memenuhi panggilan-Mu ya Allah, kami penuhi panggilan-Mu. Kami datang memenuhi panggilan-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu, kami penuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala Puji dan Kenikmatan adalah bagi-Mu dan juga kekuasaan, tidak ada sekutu bagi-Mu.
So, kalau ada yang bertanya, “kok kamu bisa berangkat haji tahun ini?” Maka janganlah dijawab “kebetulan nih ada yang ngongkosin” atau jawaban sejenis lainnya, tapi jawablah “Alhamdulillah, dipanggil Allah, memenuhi panggilan-Nya”.

Wuquf di Arafah

Wuquf artinya Diam. ‘Arafah artinya Mengenal. Wuquf di padang Arafah adalah proses Mengenal Diri dan Mengenal Allah dalam diamnya tubuh kita, sebab aktifnya pergerakan hati dan Ruhani kita menuju-Nya.
_Hakikatnya kita ini Diam dan Dia lah yang menggerakkan, hakikatnya kita ini mati dan Dia lah yang Menghidupkan, hakikatnya kita ini tidak ada, tidak eksis, dan Dia lah yang mengadakan atau meng-eksis-kan._
Itu sebabnya belum dikatakan telah mengenal diri dan Tuhannya bila masih sibuk mengeksiskan dirinya di hadapan manusia. Masih sibuk mencari pengakuan dan pujian dari manusia.
Wuquf di ‘Arafah seharusnya menghadirkan rasa Tenang. Yakni sebuah rasa yang _bukan senang_ dan _bukan tegang_. Sebuah rasa non dualitas yang tidak senang dan tidak sedih, sebuah keadaan non dualitas yang khas, wuquf bersama seragam ihram yang diliputi Yang Maha Tunggal.
Belum disebut berhaji bila belum Wuquf di ‘Arafah. Belum disebut ber-Wuquf bila hati tak kunjung tenang dalam mengingat-diingat-Nya, melihat-dilihat-Nya.
Dalam Wuquf in syaa Allah kita akan menemukan eksistensi Allah yang bebas bentuk di antara bentuk-bentuk yang kita kenal, Wujud yang melampaui cahaya, Cahaya di atas Cahaya, yang melampaui timur dan barat.
In syaa Allah, di sanalah kita sungguh akan menyaksikan-Nya, lalu semakin merasakan kehadiran Rosul-Nya… Asyhadu An laa ilaaha illallaah, wa asyhadu anna Muhammadar Rasuulullaah
Setelah melakukan Wuquf di ‘Arafah maka jama’ah haji bermabit di Muzdalifah untuk berisitirahat dan melakukan persiapan mengumpulkan batu kerikil sebagai bekal “perang” melempar iblis dengan prosesi *Lempar Jumrah* di hari-hari berikutnya.
Berdasarkan Quran surat Al A’raf ayat 16-17 ternyata Iblis menggoda manusia dari *4 arah* : depan, belakang, kanan, dan kiri.
Ketika iblis hendak menganggu prosesi “penyembelihan” Ismail anaknya oleh *Nabi Ibrahim* _’alaihis salaam_ , maka Ibrahim mencontohkan melempar iblis dengan batu kerikil sehingga iblis kabur ketakutan.
Entah ada rahasia apa di dalam sebuah batu. Iblis yang berbadan halus bisa kocar kacir dilempar oleh batu yang berbadan kasar.
Entah ada rahasia apa di dalam sebuah batu, tentara Yahudi yang bersenjata lengkap bisa kocar kacir ketakutan dilempar batu oleh para Mujahid Palestina.
Maka tak heran, kita sering disuruh berta’awudz : _A’uudzubillaahi minasy syaithoonir *rojiim*_.
Artinya : _”Aku berlindung kepada Allah dari godaan syaitan yang ROJIM (dirajam/dilempar batu)”._
Maka, lemparlah batu ke tiang Jumroh yang ditentukan dengan hati yang yakin dan berserah pada Allah dengan niat mengusir godaan atau gangguan syaitan dalam kehidupan kita.
Nah, kadang syaitan itu adalah bagian dari diri kita sendiri, maka lemparkanlah batu kerikil dengan niat melepaskan kerikil-kerikil syaitan yang masih bersemayam di dalam diri kita. Kerikil-kerikil syaitan yang sering menghijab kita dengan Allah. Lemparkanlah, buanglah, musnahkanlah dengan kekuatan-Nya.
Jama’ah Haji Indonesia biasanya memilih melakukan Haji Tamattu’, dimana sebelum melakukan proses Haji, jamaah telah melakukan prosesi Umrah.
Tahalul di saat Umrah ditandai dengan cukur rambut dan disunnahkan digunduli bagi pria, hanya saja karena jarak waktu Umrah dan Haji berdekatan maka biasanya jamaah hanya mencukur rambut saja lalu proses penggundulan dilakukan di saat Tahalul Awal, yakni setelah selesainya melakukan lempar Jumroh ‘Aqabah dan menyembelih hewan hadyu.
Jadi, Tahalul Awal adalah tanda bahwa proses haji sudah selesai, kecuali tinggal melakukan Thawaf Ifadhah, dan Sa’i.
Adapun Tahalul Akhir ditandai dengan selesainya seluruh proses rukun haji (termasuk thawaf dan sa’i) dan satu wajib Haji: yaitu Lempar Jumroh ‘Aqobah.
Tahalul artinya Telah dihalalkan kembali, maksudnya adalah bahwa semua proses yang tadinya dilarang saat dimulainya niat haji dan berihram maka setelah Tahalul Akhir semua diperbolehkan kembali, kecuali untuk Tahalul Awal yang masih belum diperbolehkan adalah yang berurusan dengan kenikmatan bersama wanita, yaitu berjima’ atau melakukan akad nikah.
Dengan adanya proses Tahalul awal dan Tahalul Akhir ini, maka dapat dimaknai bahwa kenikmatan ber-wanita adalah kenikmatan duniawi yang tertinggi, sehingga tahalul awal tidak mampu menggugurkannya, alias masih harus *berkorban* tenaga dan waktu untuk melakukan Thawaf dan Sa’i terlebih dahulu maka barulah boleh menikmati keindahan perhiasan duniawi yang tertinggi ini.
Itu sebabnya tak heran bila pernikahan disebut sebagai “Mitsaqan Ghaliza” yang berarti Ikatan yang Kuat. Butuh ikatan yang lebih kuat untuk pengorbanan yang lebih besar.
Menikmati apapun yang belum dihalalkan oleh Allah adalah termasuk perbuatan keji dan menyimpang. Apalagi menikmati perhiasan terindah. Itu sebabnya perilaku _free sex_ alias _zina_ alias ber _jima’_ tanpa adanya akad nikah, adalah termasuk perilaku yang sangat keji dan menyimpang.
Dengan demikian, maka Tahalul dapat diartikan sebuah tanda bahwa urusan dunia menjadi halal dan berkah setelah kita melakukan sebuah pengorbanan untuk Allah agar dihalalkan untuk mendapatkan berbagai kenikmatan duniawi. Inilah Proses _Tijaroh_(jual beli) yang diridhoi-Nya.
Yup, prosesi ibadah haji adalah salah satu contoh jual beli yang berkah, sesuai aturan-Nya dan saling ridho. Kita “membeli” keridhoan Allah dengan cara “menjual” pengorbanan yang besar. Betapa banyak Harta, Waktu, dan Tenaga yang kita korbankan untuk mendapatkan keridhoan Allah dalam proses berhaji ini.
Walaupun sebenarnya, pengorbanan tersebut tetaplah tidak sebanding dengan berbagai kehalalan yang telah Allah berikan dalam berbagai bentuk kenikmatan duniawi kepada kita semua.
Walaupun Jual beli ini tidak berlangsung seimbang, tapi Allah tetap ridho sebab keterbatasan kita sebagai makhluk. Semoga pengorbanan  para jama’ah Haji yang tak seberapa ini, berkenan dibeli oleh Allah dengan titel Mabrur.
Sesungguhnya Allah itu Maha Kaya lagi Maha Mulia, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Selama hari Tasyrik, yakni 11-13 Dzulhijjah, jama’ah melakukan prosesi mabit (bermalam) di Mina sambil siangnya melakukan Lempar Jumrah Ula, Wustha, dan ‘Aqobah.
Selama Mabit di Mina Jama’ah diharapkan bisa melakukan proses saling mengenal dan silaturrahim lebih dalam antar sesama jama’ah.
Berkomunikasi dan berdiskusi tentang berbagai nasehat kebaikan, tauhid ma’rifatullah, akhaq, visi peradaban Islam dan lain sebagainya.
Tentu saja selama proses saling berkomunikasi dan silaturrahim ini biasanya suka ada timbul di hati jama’ah rasa ego sombong atau minder dikarenakan adanya perasaan memiliki kecemerlangan atau kekurangan dalam berpikir serta beranalogi di saat berdiskusi.
Artinya, ketika ego sombong dan minder itu muncul, maka syaitan telah berhasil kembali merasuk dan mulai merusak harmonisasi jiwa para jama’ah yang sudah Wuquf dan lempar Jumrah.
Wuquf di ‘Arafah adalah proses mengenal diri dan mengenal Allah. Sedangkan Lempar Jumrah adalah proses mengenal musuh Allah. Dan Mabit di Mina adalah proses mengenal antara sesama manusia.
Dikarenakan para syaitan bisa kembali menggoda dalam proses berhablumminannas ini, yakni berhasil menghadirkan rasa sombong atau minder di sebagian hati para jama’ah, maka tak heran jika di siang harinya, para jama’ah diharuskan kembali melakukan proses Lempar Jumrah untuk mengusir syaitan, bahkan jumlah lemparannya lebih banyak (21 batu kerikil) dibandingkan Lempar Jumroh yang pertama (hanya 7 batu kerikil) di saat tanggal 10 Dzulhijjah.
Artinya, bisa jadi dosa-dosa kita dalam berhablumminannas adalah lebih banyak dibandingkan dosa-dosa kita dalam berhablumminallah. _Astaghfirullaahal’azhiim._
Intinya adalah bahwa proses perlindungan kepada Allah dari godaan syaitan ini tidaklah cukup hanya dengan sekali rajaman, tapi harus berkali-kali, berulang-ulang, sampai sulit timbul rasa sombong, minder, sedih dan khawatir.
Adapun ucapan Takbir yang dilafalkan di saat melakukan proses melempar Jumrah hakikatnya bermakna Ta’awudz yakni permohonan perlindungan kepada Allah Yang Maha Besar dari godaan dan gangguan syaitan yang semakin melemah sebab dilempari batu.
In syaa Allaah, semakin kita berlindung kepada Allah dari godaan Syaitan yang dilempari batu (dirajam/rojiim), maka semakin baiklah kualitas taqwa kita kepada Allah dan semakin baiklah kualitas komunikasi kita dengan sesama.
Al-Qur’an surat Kamar-kamar (Al-Ĥujurāt):13
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu *saling kenal-mengenal (Berkomunikasi)*. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling *taqwa* diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”
Dan di antara tanggal 10 Dzulhijjah sampai sebelum pulang ke tanah Air maka jama’ah haji harus melakukan Thawaf Ifadah, Sa’i plus Tahallul Akhir sebagai kelengkapan Rukun Haji.
Hikmah Thawaf Ifadhah
Ifadhah artinya Meninggalkan. Thawaf Ifadhah adalah Thawaf yang dilakukan Jama’ah Haji setelah meninggalkan ‘Arafah.
Thawaf Ifadah adalah lambang dari pentingnya beribadah mahdah kepada Allah, sebagaimana ibadah Sholat. Itu sebabnya seorang wanita belum boleh berthawaf jika masih haid, dan setiap jama’ah dianggap batal thawafnya bila ia batal wudhunya, misalkan buang angin.
Gerakan Thawaf dari kanan ke kiri mengelilingi Baitullah membentuk Lingkaran atau Angka Nol yang sedang mengelilingi Satu Titik, hal ini mencerminkan para hamba yang sedang melakukan proses “nol” dalam mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Satu/Tunggal/Ahad.
Artinya yang Ahad hanyalah Allah, sedangkan kita hanyalah hamba yang tadinya tiada (nol) lalu diberikan oleh-Nya kehidupan. Dia itu Wujud, kita hanyalah diwujudkan-Nya.
Itu sebabnya jika kita ingin dikekalkan-Nya maka mendekatlah kepada Allah Yang Maha Kekal Abadi.
Berkunjung ke rumah Allah adalah kebutuhan kita untuk berjumpa dengan-Nya. Jangan sampai kita salah sasaran.
Perhatikanlah, bila kita mengunjungi Rumah seseorang, tentunya tujuan kita adalah untuk menemui orang si pemilik rumah, dan bukan untuk fokus menikmati sajian-sajiannya, tapi boleh saja setelah kita dipersilakannya untuk mencicipi sajian yang disediakan, dan itu pun tentunya dengan adab yang santun, jangan rebutan dengan tamu yang lain.
Kita pun datang ke Rumah Allah dengan tujuan bertemu Allah, bukan malah sibuk rebutan menikmati sajian-Nya, seperti rebutan mencium Hajar Aswad tanpa adab kesantunan.
Fokuslah kepada pemilik-Nya, bukan malah fokus kepada sajian-Nya. Bahkan saking fokusnya maka kita diharuskan Thawaf sebanyak 7 kali mengitari Baitullah, agar semakin fokus kepada Allah.
Angka 7 menandakan makna “banyak”. Maknanya bahwa Thawaf 7 Putaran adalah upaya beribadah untuk menjadikan Allah sebagai satu-satunya pusat ingatan rotasi kehidupan, dan menjadikan proses mengingat Allah itu haruslah banyak atau sebanyak-banyaknya, agar kita  semakin meng-nolkan diri dan semakin meng-Esakan-Nya.
Hikmah Sa’i
Sa’i artinya usaha. Diambil dari kisah Hajar, ibunya Isma’il yang berusaha mencarikan air untuk anaknya, Isma’il kecil yang sedang menangis, dari bukit Shofa ke bukit Marwah sebanyak 7 kali bulak balik, naik turun bukit.
Shofa artinya Murni, dan Marwah artinya Kehormatan. Artinya, jika kita _berusaha dengan niat yang murni, dan dengan cara yang halal, maka Allah akan jaga kehormatan kita_.
Ternyata air yang dicari tidak ditemukan di Shofa maupun di Marwah, tapi di tempat yang lain, yaitu di dekat kaki Isma’il kecil.
Dengan demikian peristiwa Sa’i mengajarkan banyak hikmah kepada kita, di antaranya :
1. Ikhtiar atau berusaha itu sifatnya dinamis, ada naik dan ada turun, kadang untung dan kadang belum, kadang gagal dan kadang berhasil. Namun yang penting kita jangan menyerah, selama niat dan cara kita benar maka Allah akan jaga kehormatan kita dari mental bergantung dan meminta-minta kepada makhluk.
2. Ikhtiar itu Kewajiban, tapi Hasil/Rizki itu Kejutan. Janganlah hobi mengkaitkan dan memastikan antara jumlah usaha dengan hasil akhir. Kita adalah hamba Allah, bukan hamba Ikhtiar.
3. Ternyata solusi atau Kemudahan sejati itu tidaklah jauh dari posisi Kesulitan atau masalahnya. Buktinya letak air yang dicari ternyata ada di dekat kaki Isma’il kecil yang sedang menangis. Allah itu baik banget, meletakkan solusi disamping permasalahan yang ada, hanya saja kita jarang menyadarinya. Padahal Allah sudah tegaskan bahwa bersama kesulitan pasti ada kemudahan.
4. Jika niatnya tulus, caranya benar, dan pantang menyerah, maka hasil “jerih payah” itu bisa menjadi bagian dari kemanfaatan bagi manusia sampai waktu yang sangat lama, sebagaimana air zamzam yang terus mengalir sampai waktu kini, bahkan sampai nanti seolah abadi.
Tahalul Akhir
Setelah selesai Thawaf dan Sa’i maka otomatis selesai Tahalul Akhir. Bolehlah kembali mencicipi semua kenikmatan dunia yang fana yang sebelumnya dilarang saat ihram, termasuk kenikmatan menikahi wanita.
Hikmah Thawaf Wada
Thawaf Wada adalah Thawaf Perpisahan.
Kita mengucapkan salam perpisahan kepada Baitullah dengan mental mencintai Allah dan siap ditugaskan oleh Allah untuk menjadi hamba yang lebih beriman dan bertaqwa ketika sudah kembali ke tanah air, sehingga menebar banyak manfaat dan maslahat kepada sesama, bukan dengan mental supaya dipanggil Pak Haji atau Bu Haji.
Hikmah Tertib
Rukun Haji yang terakhir adalah Tertib. Hikmah tertib adalah :
1. Ikuti dan Nikmati Proses
2. Hentikan dan Matikan Protes
3. Hidupkan dan Buktikan Progres
4. Maka hidup akan sukses dan semakin jauh dari stress
Wallahu A’lam
Kang Zain

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: