Bukan hanya bersujud, Tapi kepada Siapa engkau sujud

Bukan hanya bersujud, Tapi kepada Siapa engkau sujud.

Rasulullah Saw. memerintahkan umatnya agar mencari ilmu sejak dari buaian sampai ke liang lahat. Hal ini menekankan begitu pentingnya ilmu sebagai bekal manusia hidup di dunia dan di aherat. Rasulullah tidak memerintahkan untuk mencari ilmu sejak ketika ia telah berusia baligh, tetapi beliau memeirintahkan untuk mencari ilmu sejak balita. Artinya, semenjak akal manuisa belum sempurna, tulangnya belum tegak untuk bisa berdiri, dan mulutnya belum bisa berbicara, ia telah terkena perintah untuk menuntut ilmu. Tentu orang pertama yang menjadi gurunya adalah orang tuanya.

Rasulullah Saw. juga tidak membatasi perintah mencari ilmu sampai batas usia tertentu, tetapi beliau memerintahkan manusia untuk mencari ilmu sampai ke liang kubur. Artinya, meskipun ia telah mencapai usia yang sangat tua dan dalam kondisi yang serba lemah, ia tetap diperintah untuk mencari ilmu. Meskipun langkah kaki telah goyang, badan telah membungkuk, dan daya pendengaran dan penglihatan telah berkurang, ia masih bekewajiban untuk mencari ilmu.

Ilmu sangat penting sebab ialah satu-satunya jalan untuk menyembah kepada Allah Swt. Ada banyak hal yang harus diketahui oleh manusia ketika ia ingin menjalankan shalat, dan tidak akan mengatahuinya kecuali orang yang mau mencari ilmu. Semakin tinggi ilmu seseorang, maka akan semakin baik dan sempurna ibadahnya. Sebaliknya, semakin rendah pengetahuannya maka akan semakin buruk ibadahnya. Sehingga apabila buruk ibadahnya, maka akan sulit untuk diterima. Dan apabila ibadahnya tertolak maka sia-sialah usahanya. Keutamaan dan kemuliaan ibadah tidak akan ia dapatkan.

Orang yang giat mencari ilmu lalu mengetahu apa maksud bacaan-bacaan di dalam shalat, tentu akan lebih mengetahui makna shalat, sehingga ia bisa lebih khusu’ ketika menjalankannya. Hal ini tentu berbeda dengan shalatnya orang yang sama sekali tidak menetahui maksud dari kalimat-kalimat yang diucapkannya di dalam shalat. Meskipun kewajiban shalatnya telah gugur, namun ia tidak bisa mendapatkan makna dan tujuan yang terkandung di dalam shalat. Shalat yang seharusnya berfungsi untuk menjauhkan dirinya dari perbuatan yang Munkar (tidak baik), menjadi tidak terlaksana.

Orang yang berilmu mampu menjadikan shalat sebagai penghubung dirinya dengan Tuhannya. Di dalam shalat, terkadang ia memuji Tuhannya dengan membesarkan dan mensucikan-Nya dari hal-hal yang tidak pantas untuk-Nya. Dan terkadang ia berdoa agar ditunjukkan baginya jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang mendapatkan hidayah dari Allah Swt. Begitu terasa indahnya pertemuan antara hamba dan Tuhan yang saling mencintai di dalam shalat. Seorang hamba benar-benar memasrahkan hidup dan matinya hanya kepada Allah, karena Dialah satu-satunya Tuhan yang mampu melindungi, menjaga, dan menyelamatkannya dari kesengsaraan di di dunia maupun di akherat. Dan Allah sangat senang kepada hamba-hamba-Nya yang mau berpasrah diri kepada-Nya.

Di dalam shalat seorang hamba merasakan, bahwa tiada yang diagungkan kecuali Allah, tiada yang disucikan kecuali Allah, tiada yang dimintai perlindungan kecuali Allah, tiada yang dituju kecuali Allah, tiada yang dicintai kecuali Allah, tiada yang disembah kecuali Allah, tiada yang dimintai rahmat kecuali Allah, tiada yang disanjung kecuali Allah, tiada yang dipuji kecuai Allah, tiada yang dilihat kecuali Allah.

Sujudnya hanya untuk mencari ridha Allah Swt, karena rasa cintanya kepada-Nya. Sujudnya bukan untuk mencari sesuatu selain Allah. Sujudnya bukan untuk mendapatkan pujian manusia, bukan pula untuk mendapatkan harta dunia, bukan pula untuk mendapatkan julukan kehormatan, bukan pula untuk menapatkan kenyamanan hidup, bukan pula untuk meraih surga, bukan pula karena ancaman siksa neraka. Karena sujudnya hanya untuk mendapatkan cinta dari Dzat yang dicintainya.

Allah berfirman,

وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus. (QS. Al-Bayyinah [98]: 5)

 

Allah berfirman,

وَأَقِيمُوا الصَّلاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ

Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’. (QS. Al-Baqarah [2]: 43)

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: