Banyak orang dahulu yang sakti mandraguna sebab mereka suka bertapa. Dengan bertapa satu hari saja, seseorang akan meninggalkan ratusan dosa dan hawa nafsu. Dan berapa banyak nafsu yg dikalahkan jika ia bertapa selama bertahun-tahun?. Sungguh di dalam tidak menuruti hawa nafsu itu ada kekuatan rahasia

Banyak orang dahulu yang sakti mandraguna sebab mereka suka bertapa. Dengan bertapa satu hari saja, seseorang akan meninggalkan ratusan dosa dan hawa nafsu. Dan berapa banyak nafsu yg dikalahkan jika ia bertapa selama bertahun-tahun?. Sungguh di dalam tidak menuruti hawa nafsu itu ada kekuatan rahasia.

Setelah pulang dari perang Badar, Nabi Muhammad Saw. Bersabda kepada para sahabat, ‘Kalian telah pulang dari jihad yang kecil menuju jihad yang besar’ Para sahabat bertanya, ‘Apa itu jihad yang besar itu wahai Rasulullah?’ Rasul menjawab, ‘Itulah jihad melawan hawa nafsu’. Dari hadits di atas kita dapat mengatakan bahwa berperang melawan hawa nafsu lebih berat dari pada berperang melawan orang-orang kafir. Hal ini karena berperang hanya dilakukan sebentar, sedangkan melawan hawa nafsu dilakukan selamanya dan terus-menerus sampai ajal tiba.

Allah Swt menciptakan nafsu di dalam diri manusia untuk dilawan, dan bukan dijadikan sebagai teman. Melawan hawa nafsu adalah dengan tidak menuruti keinginannya. Keinginan nafsu tidak boleh dituruti, sebab keinginan itu pasti bertentangan dengan keinginan hati. Apabila keinginan hati mendekatkan pemiliknya kepada Allah, maka keinginan hawa nafsu akan menjauhkannya dari Allah Swt. Oleh karena itu orang yang selalu menuruti hawa nafsu sampai ia dikatakan sebagai budak nafsu, akan jauh dari Allah Swt. Dan orang yang jauh dari Allah tentu akan jauh dari rahmat-Nya. Dan jika jauh dari rahmat tentu ia tidak akan selamat. Na’udlubillahi min dzalik

Ketika timbul suatu keinginan, maka akal kita harus meneliti, apakah kenginan itu bagian dari keinginan nafsu atau keinginan hati. Apabila keinginan itu adalah keinginan nafsu, maka kita harus meredamnya terlebih dahulu, mengontrolnya hingga menjadi keinginan hati yang akan memiliki nilai ibadah. Orang yang bisa mengendalikan nafsunya akan menguasainya. Dan jika nafsu telah dikuasai ia akan bisa mengarahkannya pada hal-hal yang baik.

Apabila nafsu sedang meminta suatu makanan, maka kita harus mengendalikannya lalu mengatakan padanya, bahwa makanan itu adalah pemberian Allah dan aku ingin memakannya karena rasa syukur kepada-Nya. Lalu ia katakan lagi pada dirinya, bahwa ia ingin memakan makanan itu agar badannya memiliki tenaga yang akan ia gunakan untuk melakukan berbagai macam ibadah. Setelah memakannya dengan terlebih dahulu membaca bismillah, nafsu menghendaki untuk mengisi perut sekenyang-kenyangnya. Maka kita katakan padanya, bahwa makan tidak boleh terlalu kenyang karena itu akan mendatangkan penyakit. Rasul telah mengajarkan untuk berhenti makan sebelum kenyang, dan apa yang diajarkan Rasulullah pasti benar dan mengandung kemuliaan. Beliau Saw. juga mengajarkan bahwa perut harus dibagi menjadi tiga bagian; Satu bagian untuk makanan, satu bagian untuk air, dan satu bagian lagi untuk udara. Lalu, ia pun berhenti dari makan untuk menghindari larangan Allah untuk berlebih-lebihan ketika makan. Beginilah cara mengendalikan hawa nafsu.

Pada saat ini, perhiasan dunia telah menampakkan gemerlapnya yang luar biasa. Nafsu menjadi semakin bergejolak dan keinginannya menjadi sangat banyak. Nafsu menjadi liar dan semakin tidak terkontrol. Orang yang beriman juga merasakan godaannya yang luar biasa. Ia harus kuat untuk mempertahankan imannya dari gangguan-gangguan yang selalu datang silih berganti. Sebagian mereka ada yang bertahan dan tetap istiqamah berada di jalan kebenaran, namun tidak sedikit pula yang lalu tergelincir hingga terjatuh. Mereka termakan dengan bujuk rayu kenikmatan nafsu yang memperdayakan akal sehat.

Karena merasa belum memiliki iman yang kuat untuk hidup di tengah-tengah keindahan dunia, sebagian orang beriman memilih untuk ber-Khalwat (menyepi dari keramaian). Mereka ingin mencegah diri dari menumpuk dosa lisan yang terus bertambah ketika bertemu dengan manusia. Mereka ingin menghilangkan rasa cinta pada dunia yang timbul karena sering memandangnya. Mereka ingin menghindari makanan-makanan yang lezat yang sering melalaikannya dari bersyukur kepada Allah. Mereka ingin bangun tengah malam dalam suasana hening lalu berlama-lama bermunajat kepada Allah Swt. Mereka ingin merasakan cinta dan pertemuan yang indah dengan Allah Swt.

Para ulama mengatakan, bahwa barangsiapa yang bisa menghentikan pulpen malaikat Atid agar tidak mencatat keburukannya selama 40 hari, maka Allah akan memunculkan hikmah di dalam hatinya yang akan keluar melalui lisannya. Oleh karena itu, orang yang telah melakukan Khalwat dengan benar pasti akan mendapatkan anugerah dari Allah Swt. Ia akan memiliki hati yang bersih yang mampu memandang segala sesuatu dengan mata hati yang tajam, sehingga ia bisa membedakan mana yang asli dan mana yang palsu. Ia bisa membedakan mana yang mendatangkan manfaat dan mana yang akan mendatangkan kerugiaan. Mana yang akan mendatangkan kebahagiaan dan mana yang akan mendatangkan kesengsaraan. Ia akan memiliki kekuatan untuk menghadapi godaan-godaan dunia ketika membaur bersamanya. Bahkan ia bisa menyadarkan manusia dari kelalaian lalu mengajaknya menuju jalan keselamatan melalui hikmah-hikmah yang keluar dari mulutnya.

Allah berfirman,

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الألْبَابِ

Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. (QS. Az-Zumar [39]: 9)

Allah berfirman,

وَمَا يَسْتَوِي الأعْمَى وَالْبَصِيرُ (١٩) وَلا الظُّلُمَاتُ وَلا النُّورُ (٢٠) وَلا الظِّلُّ وَلا الْحَرُورُ (٢١) وَمَا يَسْتَوِي الأحْيَاءُ وَلا الأمْوَاتُ إِنَّ اللَّهَ يُسْمِعُ مَنْ يَشَاءُ

Dan tidaklah sama orang yang buta dengan orang yang melihat. dan tidak (pula) sama gelap gulita dengan cahaya, dan tidak (pula) sama yang teduh dengan yang panas, dan tidak (pula) sama orang-orang yang hidup dan orang-orang yang mati. Sesungguhnya Allah memberi pendengaran kepada siapa yang dikehendaki-Nya. (QS. Fathir [35]: 19-22)

 

Wallahu A’lam

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: