Serangan balik lalu berbuah goal, itu seperti orang yang hampir kebobolan dengan nafsunya tapi tetap bertahan. Lalu Tuhan memberinya hadiah bola, kemudian ia cepat berlari, melesat ke langit hingga bertemu Tuhannya. Lalu ia bersuka cita merayakan goal ma’rifatnya

Serangan balik lalu berbuah goal, itu seperti orang yang hampir kebobolan dengan nafsunya tapi tetap bertahan. Lalu Tuhan memberinya hadiah bola, kemudian ia cepat berlari, melesat ke langit hingga bertemu Tuhannya. Lalu ia bersuka cita merayakan goal ma’rifatnya.

Yang membedakan antara manusia dan malaikat adalah adanya nafsu. Malaikat mampu untuk melakukan ibadah terus-menerus kepada Allah sebab mereka tidak memiliki nafsu. Tanpa nafsu mereka bisa untuk terus sujud sampai hari kiamat kelak. Mereka bisa terus bertasbih menyucikan Allah tanpa merasa capek sedikit pun. Bagi mereka, tasbih adalah makanan, yang mana jika mereka tidak melakukannya maka mereka akan binasa.

Hal ini berbeda dengan manusia yang di dalam tubuhnya terdapat nafsu. Nafsu selalu mengajak tubuh untuk melakukan kesenangan dan mencari kenikmatan. Oleh karena itu tubuh akan merasa berat jika diperintah untuk melakukan ibadah. Badan hanya kuat unttuk bersujud dalam waktu beberapa menit, dan lidah hanya mampu untuk bertasbih beberapa puluh kali.

Nafsu adalah bagian dari ujian Allah untuk manusia. Jika ia bisa mengendalikan nafsunya dan bersabar dalam menjalankan ketaatan dan ibadah maka ia akan mendapatkan derajat yang lebih tinggi dari pada malaikat. Karena kesabaran dan kekuatannya melawan hawa nafsu, Allah menganugerakan kedudukan yang tinggi di sisi-Nya.

Namun, jika ia memilih untuk mengikuti keinginan nafsunya maka ia telah memilih kehinaan dari pada kemuliaan. Ia telah berjalan di atas jalan kegelapan dan berpaling dari jalan yang terang. Ia telah terjerumus ke dalam jejak syetan dan meninggalkan jejak orang yang beriman. Jika Allah tidak memberinya hidayah di akhir hidupnya maka ia akan meninggal dalam kedaan Su’ul khatimah (akhir yang buruk), Na’udlubillahi min dzalik.

Orang yang benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir tentu akan memilih ajakan hatinya, meskipun terasa berat. Ia menyadari bahwa akhir yang indah tidak mungkin dicapai kecuali dengan rasa lelah dan perjuangan. Ia mengetahui bahwa hidup di dunia hanyalah sebentar, dan lelahnya ibadah juga sebenar. Oleh karena itu ia memilih untuk menjalankannya dengan sebenar-benarnya demi berisitirahat yang panjang, yaitu hidup yang kekal abadi yang diliputi oleh kenikmatan-kenikmatan di kemudian hari.

Betapa bahagianya mereka yang ditakdirkan Allah menjadi orang-orang yang menang. Menang mengalahkan hawa nafsu semasa di dunia berarti beruntung di akherat. Beruntung di akherat berarti dimasukkan ke dalam surga, yang di dalamnya tiada kesedihan, tiada kesusahan, tiada kehinaan, tiada rasa sakit, tiada tangis, tiada rasa lapar, tiada haus, tiada kotoran, tiada keringat, tiada bencana, dst. Karena surga adalah tempat yang hanya berisi kebahagiaan yang terus-menerus.

 

Allah Swt. berfirman,

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى (٤٠) فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى

Dan Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka Sesungguhnya syurgalah tempat tinggal(nya). (QS. An-Nazi’at [79]: 40-41).

 

Wallahu A’lam

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: