Kemuliaan Kota Tarim, Yaman

Kemuliaan Kota Tarim, Yaman. Banyak dari kita yang belum mengetahui kedudukan Kota Tarim di sisi Allah SWT. Kota ini sangat dimuliakan oleh Allah berkat do’a yang dipanjatkan sahabat nabi yang paling dicintai nabi Muhammad SAW, sayyidina Abu Bakar As-Siddik. Oleh karena itu umat muslim sangat dianjurkan untuk menjadikan Kota Tarim sebagai tawasul dalam doa dan wirid-wirid mereka.

Perlu diketahui bahwa tawassul dengan tulisan diperbolehkan dalam syariah. Mengenai azimat yang bertuliskan huruf arab merupakan hal yg diperbolehkan, selama itu tidak menduakan Allah swt.

Sebagaimana dijelaskan bahwa ‘azimat dengan tulisan ayat atau doa disebutkan pada kitab Faidhul qadir Juz 3 hal 192, dan Tafsir Imam Qurtubi Juz 10 hal.316/317, dan masih banyak lagi penjelasan para Muhadditsin mengenai diperbolehkannya hal tersebut

‘Darkah yaa Ahlil Madinah, Yaa Tarim Wa Ahlaha’ adalah perkataan yang sudah tidak asing. Sering kita lihat di rumah-rumah orang sholeh tertempel kata-kata tersebut. Tetapi apakah kita mengerti akan maksud dari kata-kata ‘Darkah yaa Ahlil Madinah, Yaa Tarim Wa Ahlaha?’, mari kita simak rahasia-rahasia dari kata tersebut.

Maksud perkataan dari دركاة يا أهل المدينة (Darkah Yaa Ahlil Madinah)

Darkah artinya, memohon pertolongan. Sedangkan Ahlil Madinah banyak yang menafsirkan sebagai Rasulullah SAW. Ada juga yang mengartikan Ahlul Madinah adalah Madinatut Tarim (Kota Tarim).

Sebagaimana disebutkan oleh al-Habib Muhammad bin Idrus al-Habsyi, bahwa yang di maksud Darkah Ya Ahlul Madinah yaitu Madinatut Tarim (Kota Tarim).
يا تريم و أهلها (Ya Tarim wa Ahlaha).

Yaa Tarim, maksudnya bertawassul pada Kota Tarim. Tarim di jadikan tempat tawassul karena keagungannya. Di antaranya Tarim mendapat doa dari Sayyidina Abu Bakar As-Sidik yaitu: ‘mudah-mudahan Allah memakmurkan Kota Tarim. Keberkahan dalam airnya dan mudah-mudahan Allah menumbuhkan para wali di Kota Tarim sebagaimana tumbuhnya rerumputan’.

Karena berkat doa inilah muncul para wali-wali Allah yang agung. Terlebih dengan berlabuhnya Ahlul Bait ke Tarim, maka semakin lengkaplah keagungan Kota Tarim.

Wa Ahlaha maksudnya, tawasul pada penduduk Kota Tarim. Sebagaimana kita tahu penduduknya terdiri dari tiga unsur: orang laki-laki, orang perempuan, dan anak-anak. Di setiap unsur tersebut penduduk Kota Tarim memiliki keistimewaan yang agung yang tidak dimiliki oleh kota-kota lainnya.

Para Sholihin berkata:

ادعوا بالسادات موطنهم تريم رجالهم واطفالهم ثم حريم

“Memohonlah kalian dengan bertawasul pada para pemimpin yang ada di Kota Tarim baik para laki-laki dan anak-anak Kota Tarim atau kepada wanita-wanita Tarim.”

Lelaki Kota Tarim

Di sini kita tidak akan menceritakan wali-wali yang besar, kita liat di pasar Kota Tarim saja. Kita telah tahu tempat yang dibenci oleh Allah adalah pasar, sebagaimana di sebutkan dalam Hadits. Akan tetapi Al-Habib Hasan bin Abdullah as-Syatiri mengatakan, “Sampai saat ini di pasar kota tarim masih ada 200 wali.”

Subhanallah. Di pasarnya seperti itu lalu bagaimana dengan masjidnya.

Bayi Kota Tarim

Bayi di Kota Tarim lain dengan bayi-bayi lainnya, ini berkat kesolehan kedua orang tuanya. Diceritakan ada bayi di Kota Tarim ketika diadzani setelah lahirnya, si bayi menjawabnya: “Allah hu Akbal Allahu Akbal” (dengan huruf Ro’ yang belum sempurna).

Ada juga ketika umur 7 hari, ketika mau di aqiqah di undangkan para Habaib. Ketika para habaib datang, ayah si bayi berkata pada anaknya, “Wahai anakku Abdullah, apa kamu tidak malu kepada para Habaib yang datang sedang dirimu terlentang di situ, Hayya guum..! (ayo bangun..!). Subhanallah si anak bangun berjalan menuju habaib dan bersalaman pada mereka.

Wanita Tarim

Di ceritakan bahwa Hababah Mahani al-Juneid dalam sholat dhuha beliau membaca 10 juz al-Qu’an.

Bermimpi melihat Rasulullah SAW adalah kebiasan para wanita Tarim, bahkan diantara mereka yang setiap kali rindu pada Rasulullah, beliau hadir, sebagaimana dikatakan oleh para Sholihin :

إذا بغى علم الاخبار جاءه النبي وسط الدار

Jika ia inginkan sesuatu yang hendak ia tanyakan pada Rosullullah maka sang Nabipun datang ke rumahnya.

Mereka juga membiasakan lisan mereka berdzikir. Ketika mereka melakukan aktifitas rumah tangga seperti memasak, mencuci pakaian, membersihkan rumah, lisan mereka selalu melantunkan sholawat, dzikir, juga bait-bait syair seperti Aqidatul Awam, Zubad, dan yang lainnya.

Al-Habib Ahmad bin Hasan al-Atthos bercerita, “Aku pernah menemukan tulisan tangan dari seorang wanita bangsa al-Amudi, menulis Syarh kitab al-Manhaj karangan Imam Subki yang terdiri dari 6 jilid, lalu wanita tersebut mengatakan dalam tulisannya: ‘Mohon memberi udzur kepadaku jika ada salah tulis, karena aku menulisnya dalam keadaan menyusui’.

Habib Ahmad pun berkata: “Sangat di sayangkan sekali di zaman sekarang semangat wanita melemah karena mereka sibuk atas dirinya sendiri”. Inilah salah satu keagungan wanita Kota Tarim, hari-hari mereka selalu membawa keridhoan Tuhannya.

Masih banyak lagi keagungan-keagungan dari penduduk Kota Tarim -baik dari lelakinya, anak-anak maupun wanita-wanita mereka-. Mudah-mudahan bermanfaat dan menambah cinta kita pada Kota Tarim.

Wallahu A’lam

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: