Rebo Wekasan Di Kota Tarem

Rebo Wekasan Di Kota Tarem. Di jawa sangat kental dengan istilah rebo wekasan, namun kita semua penasaran apakah rebo wekasan itu juga ada di dalam agama Islam, berikut penjelsannya.

Di kota Tarem , Hadromut , Sayyidinal Habib Abdullah bin Muhammad bin Alawiy bin Syihab akan sibuk selama Rabo Wekasan . Para penduduk negeri dan para kaum Baduwi akan berdatangan ke kediaman beliau untuk meminta air yang yang telah beliau doakan untuk tolak balak .

Sebagaimna di dalam Kanzun Najah , syech Abdul Hamid al Quudsy menukil amaliayah para salaf yang selama Rabo Wekasan mereka membuat azimat sesudah melakukan Shalat 4 Rakaat :

Salamun qoulan min robbir rohim
salamun ala nuhin fil alamin
salamun ala ibrohim
salamun ala musa waharun
salamun ala ilyasin
salamun alaikum tibtum fadhuluha kholidin
min kulli amrin salamun hiya hatta matlaal fajr

Kemudian azimat ini diilebur kedalam air dan diminum , insyaallah akan aman dari mara bahaya di hari Rabo Wekasan tersebut hingga satu tahun penuh sesudahnya.

Dalam ranah keilmuan , Al Imam Ibnu Hajar al Haytamiy menulis bahwa membuat azimat hukumnya boleh jika berupa ayat-ayat alQur’an atau nama-nama yang mulia seperti Nama nabi / Malaikat misalnya .

Jika azimat menggunakan kata / kalimat yang tidak difahami arti / maknanya maka hukum azimat semacam ini haram , karena dikhawatirkan kalimat / kata tersebut didalamnya mengandung unsur keharaman / kemusyrikan yang tidak diketahui oleh penulis azimatnya.

Dalam satu majlisnya , Habibana Salim as Syathiriy berkata :
“ Memakai Al Qur’an dan doa-doa Nabawiyyah sebagai media pengobatan mempunyai macam-macam cara . Hukumnya juga diperdebatkan diantara ulama .
Cara pertama adalah dengan membacanya didekat orang yang sakit atau di bagihan yang sakit , maka para Ulama bersepakat hukumnya boleh ( jawaz ) . Hal ini sudah jelas dan dalil-dalilnya pun banyak .

Allah Ta’ala berfirman : “ Wanunazzilu minal qur’ani ma huwa syifa’un warohmatun lil mukminin (Dan Kami turunkan dari al Qur’an sesuatu yang menjadi obat dan Rahmat bagi orang-orang yang beriman).

Cara kedua adalah dengan menulisnya dan membawanya . Cara ini terhitung baik , namun hukumnya khilaf baynal ulama.

Cara ketiga adalah dengan menulisnya dan meleburnya kedalam air , bisa jadi untuk di minum ataupun yang lainnya . Cara seperti ini hukumnya juga Khilaf . Tetapi banyak ulama yang memperbolehkannya dan sebagihan Tabi’in ada yang melakukannya .

Cara keempat adalah dengan menulisnya dan membakarnya . Sebagihan Ulama memperbolehkannya , sebagihan lainnya mengharamkannya.

Kesimpulannya , yang sepakat boleh adalah dengan membacanya . Adapun dengan membawanya sebagai azimat atau meleburnya kedalam air / bahkan membakarnya maka hukumnya diperselisihkan antara para ulama.

Banyak Ulama yang memperbolehkannya . Bahkan Ibnu Qayyim dalam kitabnya Tibbun Nabawiy , menunjukkan banyak dalil-dalil yang menolak pendapat para muridnya sendiri yang mengingkari ( pembuatan azimat ) seperti ini.

Mereka berseberangan dan menselisihi amaliyah ( perbuatan ) para guru – guru mereka sendiri . Bahkan sebagihan dari mereka berkumpul dan bersepakat untuk mencetak kitab – kitab Guru mereka itu dan merubah / menghapus beberapa isi yang ada di dalamnyya.
Sungguh , seorang penyalin yang merubah isi kitab aslinya adalah musuh utama sang pengarangnya.

Wallahu A’lam

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: