Apa Ukuran Iman Seseorang Menurut Al-Habib Luthfi bin Yahya Pekalongan?

Apa Ukuran Iman Seseorang Menurut Al-Habib Luthfi bin Yahya Pekalongan? Keimanan itu bertingkat-tingkat, sehingga keimanan seseorang tidak bisa disamakan dengan keimanan orang lain. Lalu apa yang bisa memperbesar keimanan seseorang?. Berikut ini adalah ceramah yang pernah disampaikan oleh Ketua Jam’iyyah Ahlith Thoriqah Indonesia –Al-Habib Luthfi- dengan tema ‘Iman dan Cinta Kepada Allah’.

Habib Luthfi bin Yahya menyampaikan bahwa, Tentang keimanan seseorang sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an, “Katakanlah, jika kamu mencintai Allah…” (Ali Imran: 31). Ketika ayat ini turun, seorang sahabat bertanya kepada Baginda Nabi Muhammad (saw), “Matta akunu mu’mman shadiqan?” atau “Bilamanakah aku menjadi mukmin yang sesungguhnya?” Dijawab oleh Baginda Nabi (saw), “Idza ahbabtallah” atau “Apabila engkau mencintai Allah”

Seianjutnya sahabat itu bertanya lagi, dan dijawab oleh Rasulullah (saw),”Orang itu mencintai Rasul-Nya. Berikutnya mengikuti sunnah-sunnahnya, dan mencintai orang yang dicintai Allah dan Rasul-Nya”. Dan akhirnya, Nabi Muhammad (saw) bersabda lagi “Wayatawaffatuna fil- Imani qadrl tawannutihim fi mahabati,” atau “Dan keimanan mereka bertingkat-tingkat menurut tingkatan kecintaan kepada Allah.” Itu diucapkan sampai tiga kali oleh Rasulullah (saw).

Hadit itu melanjutkan bahwa kadar bobot iman seseorang, tergantung pada kecintaannya kepada Nabi Muhammad (saw). Sebaliknya kadar kekafiran seseorang juga tergantung pada kebenciannya kepada beliau (saw). Kalau kecintaannya kepada Rasulullah (saw) bertambah, keimanannya kepada Allah (Swt) pun akan bertambah.

Bertambah dalam arti bersinar, bercahaya, dan semakin menerangi hidupnya. Maka, apabila kita melihat ayat, «Katakanlah: Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihl dan mengampunlmu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”
(All Imran: 31).

Lalu bagaimanakah cara mencintai Allah dan apa yang terkandung di dalam makna mencintai tersebut? Jawabanya; di antaranya bahwa Allah dan Rasul-Nya jelas tidak bias dipisah-pisahkan. Kalau seseorang mencintai Allah, pasti dan harus mencintai Nabi-Nya. Dan tentu saja, dia akan menjalankan sunnah serta mencintai orang yang dicintai Rasul-Nya.”

Wallahu A’lam

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: