Kisah Cerita Seorang Habib Ketika Menunaikan Ibadah Haji

Kisah Cerita Seorang Habib Ketika Menunaikan Ibadah Haji. Banyak orang yang belum memahami secara benar apa itu syirik, sehingga mereka sangat mudah melemparkan tuduhan syirik kepada perbuatan orang lain. Tuduhan syirik tidak boleh keluar dengan mudah dari mulut yang mulia ini, karena hal itu akan menyebabkan bahaya bagi pelakunya baik di dunia dan akherat. Apabila ia menuduhkan syirik kepada orang lain, sedangkan pada hakikatnya itu tidak melakuakn syirik maka Allah tidak akan ridho dengan hal itu, dan ia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Oleh karena itu muslim yang baik hendaknya tidak gegabah untuk mensyirikkan, membid’ahkan, atau mengkafirkan orang lain.

Dalam sebuah kesempatan, Al-Habib Luthfi bin Yahya pernah menyampaikan: suatu ketika seorang Habaib dari Hadramaut ingin menunaikan ibadah haji dan berziaroh ke kakeknya Rasulullah SAW. Beliau berangkat dengan diiringi rombongan yang melepas kepergiannya. Seorang Sulton di Hadramaut, kerabat Habib tersebut, menitipkan Al-Qur’an buatan tangan yang terkenal keindahannya di jazirah arab pada saat itu untuk dihadiahkan kepada raja Saudi.

Sesampai di Saudi, Habib tersebut disambut hangat karena statusnya sebagai tamu negara. Setelah berhaji, beliau ziarah ke makam Rasulullah. Karena tak kuasa menahan kerinduannya kepada Rasulullah, beliau memeluk turbah Rasulullah. Beberapa pejabat negara yang melihat hal tersebut mengingkari hal tersebut dan berusaha mencegahnya sambil berkata, “Ini bid’ah dan dapat membawa kita kepada syirik.” Dengan penuh adab, Habib tersebut menurut dan tak membantah satu kata pun.

Beberapa hari kemudian, Habib tersebut diundang ke jamuan makan malam raja Saudi. Pada kesempatan itu beliau menyerahkan titipan hadiah Al Quran dari Sulton Hadramaut. Saking girang dan dipenuhi rasa bangga, Raja Saudi mencium Al Qur’an tersebut!

Berkatalah sang Habib, “Jangan kau cium Qur’an tersebut… Itu dapat membawa kita kepada syirik!” Sang raja menjawab, “Bukanlah Al Qur’an ini yang kucium, akan tetapi aku menciumnya karena ini adalah kalamullah!”

Habib berkata, “Begitu pula aku, ketika aku mencium turbah Rasulullah, sesungguhnya Rasululullah-lah yang kucium! Sebagaimana seorang sahabat (Ukasyah) ketika menciumi punggung Rasulullah, tak lain adalah karena rasa cinta beliau kepada Rasulullah. Apakah itu syirik?!”,Tercengang sang raja tak mampu menjawab.

Kemudian Habib tersebut membaca beberapa bait syair Majnun Layla yang berbunyi,

Marortu ‘alad diyaari diyaaro laila # Uqobbilu dzal jidaari wa dzal jidaaro

Fa ma hubbud diyaar, syaghofna qolbi # Wa lakin hubbu man sakana diyaro

(Aku melewati sebuah rumah, rumah si Layla) # (dan aku menciumi setiap dinding-dindingnya)

(Bukanlah karena aku mencintai sebuah rumah yg membuat hatiku hanyut dlm cinta) # (akan tetapi karena cintaku kepada sang penghuni rumah)

Wallahu A’lam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: