Harta Kita Milik Ayah Kita

Harta Kita Milik Ayah Kita. Orang Tua adalah manusia yang paling berjasa bagi kehidupan kita. Tanpa mereka tentu kita tidak akan ada di dunia ini. Pengorbanannya mendidik dan membesarkan kita tidak dapat dibayar dengan apapun. Semoga kita termasuk orang yang berbakti kepada kedua orang tua, amiin.

Ada satu riwayat yang cukup panjang berkaitan dengan hal ini. Dari Jabir Radliyallaahu ‘anhu meriwayatkan, ada laki-laki yang datang menemui Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam dan melapor. Dia berkata: Ya Rasulullah, sesungguhnya ayahku ingin mengambil hartaku,
pergilah kau dengan membawa ayahmu kesini, perintah beliau.

Bersamaan dengan itu Malaikat Jibril turun menyampaikan salam dan pesan Alloh kepada beliau. Jibril berkata: “Ya, Muhammad, Allah ‘Azza wa Jalla mengucapkan salam kepadamu, dan berpesan kepadamu, kalau orangtua itu datang, engkau harus menanyakan apa-apa yang dikatakan dalam hatinya dan tidak didengarkan oleh teliganya.

Ketika orang tua itu tiba, maka nabi pun bertanya kepadanya: Mengapa anakmu mengadukanmu? Apakah benar engkau ingin mengambil uangnya?

Lelaki tua itu menjawab: Tanyakan saja kepadanya, ya Rasulullah, bukankah saya menafkahkan uang itu untuk beberapa orang ammati (saudara ayahnya) atau khalati (saudara ibu) nya, atau untuk keperluan saya sendiri?

Rasulullah SAW bersabda lagi: Lupakanlah hal itu. Sekarang ceritakanlah kepadaku apa yang engkau katakan di dalam hatimu dan tak pernah didengar oleh telingamu!

Maka wajah keriput lelaki itu tiba-tiba menjadi cerah dan tampak bahagia, dia berkata: Demi Alloh, ya Rasulullah, dengan ini Alloh Subhanahu wa ta’ala berkenan menambah kuat keimananku dengan ke-Rasul-anmu. Memang saya pernah menangisi nasib malangku dan kedua telingaku tak pernah mendengarnya.

Nabi mendesak: Katakanlah, aku ingin mendengarnya. Orang tua itu berkata dengan sedih dan airmata yang berlinang: Saya mengatakan kepadanya kata-kata ini: ‘Aku mengasuhmu sejak bayi dan memeliharamu waktu muda. Semua hasil jerih-payahku kau minum dan kau reguk puas. Bila kau sakit di malam hari, hatiku gundah dan gelisah, lantaran sakit dan deritamu, aku tak bisa tidur dan resah, bagai akulah yang sakit, bukan kau yang menderita.

Lalu airmataku berlinang-linang dan meluncur deras. Hatiku takut engkau disambar maut, padahal aku tahu ajal pasti akan datang. Setelah engkau dewasa, dan mencapai apa yang kau cita-citakan, kau balas aku dengan kekerasan, kekasaran dan kekejaman, seolah kaulah pemberi kenikmatan dan keutamaan. Sayang, kau tak mampu penuhi hak ayahmu, kau perlakukan daku seperti tetangga jauhmu. Engkau selalu menyalahkan dan membentakku, seolah-olah kebenaran selalu menempel di dirimu, seakan akan kesejukan bagi orang-orang yang benar sudah dipasrahkan.

Selanjutnya Jabir berkata: Pada saat itu Nabi langsung memegangi ujung baju pada leher anak itu seraya berkata: Engkau dan hartamu milik ayahmu !
(HR. At-Thabarani dalam As-Saghir dan Al-Ausath).

Wallahu A’lam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: