Berebut Untuk Menolak Dunia

Berebut Untuk Menolak Dunia. Hampir semua orang mencintai dunia. Mereka rela mengorbankan apapun untuk menapatkan dunia yang diinginkannya. Bahkan agar keinginanya cepat terlanksana ia tidak segan untuk melakukan kejahatan kepada saudaranya. Dunia begitu menggiurkan, sehingga wajar apabila manusia saling memperebtkannya. Namun apakah kita pernah mendengar kisah dua orang yang saling berebut untuk menolak dunia, inilah kisahnya:

Dalam sebuah kesempatan Al-Habib Umar bin Hafidz berkisah, Di sebuah kota di Negara Yaman (walafwu, ana lupa nama kotanya), seseorang telah di angkat dan di sumpah untuk menjadi hakim. Esuk harinya ia segera bergegas menuju kantornya untuk mempersiapkan segala sesuatu yang mungkin akan di butuhkan jika ada pengaduan dari rakyatnya.

Jam kerja sudah mulai, dan ia telah mempersiapkan segalanya dengan sempurna, tinggal menunggu pengdaduan siapapun yang akan mengadu. Menjelang siang, ia masih menunggu dan tidak seorangpun ada yang datang mengadu.

“Mungkin mereka masih dalam perjalanan atau mungkin masih mengumpulkan bukti bukti pengaduan atau masih ada kesibukan lain….”, pikir sang hakim. Iapun terus menunggu.

Menjelang waktu tutup kantor, tidak jua ada seorangpun yang mengadu dan ia masih tetap menunggu. Namun sampai jam tutup kantor, penantian di hari pertama ini rupanya masih sia sia. Ia berfikir, “mungkin besuk….”.

Esuk harinya ia berangkat lagi dan menunggu lagi, barang kali ada pengaduan di hari ke dua ini. Dan ternyata, keadaan hari ini masih sama seperti hari kemarin, nyaris tanpa ada pekerjaan yang berarti.

Hari ke tiga, ia berangkat lagi dan begitu lagi. Hari ke empat, begitu lagi, sampai berhari hari, berminggu minggu. Ia berfikir “saya disini untuk bekerja dan saya di gaji, namun tidak ada pekerjaan yang berarti”. Akhirnya ia gunakan hari harinya di kantor untuk membaca ayat ayat al qur’an dan mengkaji ilmu sambil menanti seseorang yang ingin mengadu.

Berhari hari, berminggu minggu, berbulan bulan, bahkan bertahun tahun, keadaan tidak pernah berubah, sedikitpun. Pada tahun ke empat belas, EMPAT BELAS (14), sesuatu yang di tunggu tunggu benar benar terjadi. “Ini hari yang aneh”, pikirnya.

Hari itu dua orang benar benar datang untuk saling mengadu. Dari wajahnya, Mereka tampak menyimpan suatu permasalahan yang serius dan sepertinya saling menuntut haknya masing masing. Pak Hakim segera mempersilakan mereka untuk masuk.

“Silakan duduk dulu dan tenang dulu, semua masalah pasti bisa diselesaikan, percayalah”. “Silakan kalian terangkan, kasus apa yang ingin kalian berdua adukan kepada kami”. Lalu salah satu dari mereka menerangkan permasalahan serius yang sedang mereka hadapi.

“Pak Hakim…, saya adalah “A”, saya telah lama membeli tanah milik bapak “B”, ini. Lalu suatu saat saya ingin membangun rumah di tempat ini dan ketika tanah ini mulai di gali, saya menemukan harta karun yang banyak dan berharga di tempat ini”.

“Lalu…..”, tanya pak hakim. “Saya dulu hanya membeli tanah ini dan bukan membeli harta karun di tanah ini, jadi… kami mohon, pak hakim bijak memutuskan, bahwa harta karun ini adalah tetap hak milik bapak “B” yang dulu menjualkan tanahnya kepada kami, tanpa menyebutkan dan menjual harta karunnya, jadi…….”.

Spontan bapak “B” memutuskan argumen bapak “A” dan menjelaskan kepada pak hakim : “Maaf pak hakim, sudah jelas dan nyata, bahwa saya telah menjual tanah ini kepada bapak “A”, maka tanah beserta apapun yang ada di atasnya sampai setinggi langit dan apapun yang ada di dalamnya adalah menjadi hak miliknya, tolong pak hakim bisa bijaksana dalam memutuskannya….”.

Mereka terus menerus saling berargumen dan berdebat untuk saling menafikan diri dari kepemilikan harta karun yang menurut mereka masih penuh masalah ini. Pak hakim, kebingungan untuk memutuskannya dan sejauh ini hanya mampu bergeleng kepala. Lalu salah satu dari mereka mengusulkan :

“Begini saja pak hakim, biar kami berdua tidak membuat pak hakim bingung untuk memutuskannya…, kami usul, bagaimana jika harta karun ini untuk pak hakim saja…, biar kami segera lepas dari masalah ini dan pak hakimpun enak….?”

“Lho…. jangan pernah libatkan kami dalam masalah ini, itu adalah masalah kalian berdua”, jawab pak hakim. Lalu pak hakim mencoba memberikan solusi dan bertanya kepada keduanya :  “Apakah kalian berdua mempunyai anak..?”, Salah satunya menjawab : “Ya… saya mempunyai anak laki laki”.

Kemudian yang satunya juga menjawab : “Ya… anak saya perempuan”. Pak hakimpun ikut usul : “Nah, nikahkan saja mereka dan serahkan saja harta itu kepada mereka, buat modal….”.

Wal hasil, mereka berdua sepakat dengan usul pak hakim dan mengucapkan terima kasih.

Wallahu A’lam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: