Al Imam Al Haramain Al Juwaini

Al Imam Al Haramain Al Juwaini. Ulama tidak menjadi ulama kecuali karena peran ayahnya yang sangat ketat dalam memperhatikan pertumbuhannya. Sejak lahir, ayah yang ingin menjadikan anaknya menjadi ulama akan berhati-hati dalam segala sesuatu yang masuk ke dalam perut putrtanya. Jika ada sesuau yang dirasa tidak baik terlanjur masuk ke dalam perutnya maka sang ayah akan berusaha keras untuk mengeluarkannya.

Al Imam Al Haramain Al Juwaini juga digolongkan sebagai ulama besar yang memperoleh pendidikan dari keluarga shalih. Ayah beliau juga ulama besar yang tidak lain adalah Syeikh Abu Muhammad Al Juwaini, sedangkan ibu beliau seorang wanita shalihah yang sangat hati-hati dalam masalah makanan yang dikonsumsi. paman beliau adalah Abu Hasan Ali bin Yusuf Al Juwaini yang juga seorang muhaddits shufi yang dikenal dengan sebutan Syeikh Al Hijaz. Hafidz Ibnu Asakir mengungkapkan,”Beliau (Imam Al Haramain) dididik keluarga imam dan disusui dengan ilmu dan kehati-hatian”.

Sang ayah sendirilah yang membekali ilmu Imam Al Haramaian disamping memberi suri tauladan. Beliau adalah guru pertama Imam Al Haramain, sehingga ia juga menyebut ayahnya sendiri dengan panggilan “syeikh”.

Namun ada hal yang lebih spesifik disamping memberi suri tauladan dan mengajarkan ilmu, yakni bahwa Imam Abu Muhammad Al Juwaini sangat ketat dalam masalah kehalalan makanan yang dikonsumsi oleh putranya. Sejak Imam Al Haramain lahir, sang ayah sudah berpesan agar ia tidak disusui kecuali dari air susu ibunya sendiri yang dikenal wara’ (hati-hati) dengan apa yang dikonsumsi.

Namun, suatu ketika sang ibu sakit dan sang bayi menangis, seorang wanita tetangga berinisiatif untuk menyusuinya. Ketika Imam Abu Muhammad mengetahui hal itu, beliau segera berusaha mengeluarkan air susu yang sudah di telan si bayi dengan memasukkan jarinya ke kerongkongan dan hal itu beliau lakukan terus-menerus, hingga bayi itu muntah dan seluruh isi perutnya keluar. Kemudian beliau berkata ,”Kecelakaan bayi ini lebih mudah aku terima daripada ia rusak perilakunya karena meminum air susu bukan dari susu ibunya ”.

Bagi Al Imam Abu Muhammad, keshalihan anak tidak hanya dibentuk dengan pendidikan secara verbal saja, namun juga perlu ditopang dengan keshalihan keluarga dan kehalalan makanan dan minuman yang dikonsumsinya serta taufiq dari Allah Swt.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ

“ Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu ”. ( Qs At-Tahrim: 6)

Wallahu A’lam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: