Al-Habib Ali (Shohibul Maulid) Bisa Bahasa Madura

Al-Habib Ali (Shohibul Maulid) Bisa Bahasa Madura. Wali Allah adalah manusia yang diistemewakan Allah SWT. Diantara kestimewaan yang diberikan Allah kepada mereka adalah mereka diberi kemampuan untuk bercakap-[cakap dengan berbagai macam bahasa.

Pada suatu kesempatan, salah seorang habib sepuh Kota Pasuruan bercerita: “Dulu, Syaikhana Kholil al-Bangkalani pernah bersama para habaib berziarah ke Kota Seiwun dan menghadiri majelisnya al-Habib Ali dan mengambil berkah dengan beliau tentunya. Singkat cerita, saat majelis, Syaikhana Kholil duduk paling belakang. Bukan apa-apa, hanya saja Syaikhana Kholil tidak mahir berbahasa Arab Ammiyyah (percakapan), meskipun bisa memahami bahasa Arab yang Fush-hah (Bahasa Kitab Kuning).

Beliau di belakang membiarkan teman-teman beliau para habaib beramah-tamah dengan al-Habib Ali. Maklum, mereka para habaib, bahasanya sudah bukan menjadi kendala. Tiba-tiba sesudah beberapa lama, al-Habib Ali beranjak berdiri dan berjalan mendekati Syaikhana dan duduk di hadapannya. Kagetlah Syaikhana menyaksikan hal ini, seorang Quthbul Wujud menghampiri beliau.

Lebih kaget lagi al-Habib Ali menyapa dan berkata-kata dengan beliau dengan bahasa Madura yang fasih. Dan semakin kaget lagi, al-Habib Ali dengan logat Madura “Tak iye”nya itu, berbasa-basi menanyakan kabar tetangga-tetangga Syaikhana, menanyakan pohon-pohon dan perempatan-perempatan kota Bangkalan seakan-akan al-Habib Ali itu seorang penduduk Bangkalan asli atau setidaknya beliau pernah lama bermukim di sana.

Sesungguhnya hal ini bukanlah hal yang mengherankan, jika sebenarnya seorang Quthbul Wujud itu bisa melihat seluruh bumi berikut isi-isinya seakan-akan bumi itu ada dalam cakupan kedua telapak tangannya saja.

Menuturkan karamah beliau nyaris mustahil, dikarenakan karamah beliau begitu jelas (dzuhur) dan terlalu banyak. Al-Habib Salim asy-Syathiri dalam Majmu’ Kalamnya berkata: “Secara umum para sadah Alawiyyin itu haliyahnya adalah humul (tidak bermewah diri) serta tasattur (menutup diri). Sedikit sekali diantara mereka yang dzuhur dan masyhur (menampakkan kemuliaan diri) kecuali beberapa orang yang dipaksa Allah untuk masyhur. Seperti Syaikh Abi Bakar bin Salim, al-Habib Abdullah al-Haddad serta al-Habib Ali Shahibul Maulid.

Wallahu A’lam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: