Abdullah Zein Salam, Kajen Pati Jawa Tengah

Abdullah Zein Salam, Kajen Pati Jawa Tengah. Membaca biografi para ulama tidak pernah ada habisnya. Meskipun kita habiskan seluruh umur kita untuk membaca biografi para ulama yang ada di seluruh dunia maka tentu itu tidak cukup. Namun membaca biografi ulama dengan perasaan senang, hormat, dan cinta pasti insyaAllah telah mencukupi kita sebagai bekal di akherat kelak.

‘Mbah Dullah’ begitu orang-orang akrab memanggil seorang kyai bernama Abdullah Zein Salam ini. Beliau dilahirkan pada tahun 1917 M di Kajen Pati Jawa Tengah. Mbah Dullah merupakan salah satu keturunan Syeikh Ahmad Mutamakkin, waliyyullah Desa Kajen yang konon masih keturunan Raden Hadiwijaya (Jaka Tingkir; alias Sayyid Abdurrahman Basyaiban).

Sejak kecil, Mbah Dullah sudah dididik oleh ayahandanya (Mbah Abdussalam) agar gigih dalam belajar. Berikut adalah sebagian riwayat pendidikan Mbah Dullah:
– mengaji al-Quran bin-nadhor kepada KH Sholihin Jepat Tayu Pati pada saat usia beliau belum genap 7 tahun.
– mengaji al-Quran bil-ghaib kepada KH Said Sampang Madura saat usia beliau 7 tahun.
– mengaji di Perguruan Islam Mathali’ul Falah, berguru kepada ayahandanya KH Abdussalam, kakak beliau KH Mahfudh Salam (ayahanda KH MA Sahal Mahfudh), paman beliau KH Nawawi (kakek KH Mu’adz Thohir) dan kyai-kyai kajen lain.
– mengaji di Pesantren Tebu Ireng asuhan KH Hasyim Asy’ari, bersama tiga teman dari Kajen, yaitu: KH Durri Nawawi, KH Tamyiz Ruslan dan KH Abdul Hadi.
– mengaji qiraah sab’ah sekaligus ilmu thariqah kepada KH Muhammad Arwani Amin Kudus (besan Mbah Dullah).
– mengaji ilmu thariqah kepada KH Abdul Hamid pasuruan.

Diantara sikap-sikap Mbah Dullah yang patut diteladani adalah:

  1. Istiqamah.
    Mbah Dullah dikenal sangat istiqamah menjalankan ibadah baik yang wajib maupun yang sunnah. Beliau tidak akan meninggalkan amalan yang beliau lakukan kecuali karena sakit yang begitu berat. Hal yang paling dipegang erat oleh Mbah Dullah adalah shalat berjamaah 5 waktu. Sampai di usia senja, sebagaimana dituturkan oleh para santrinya, dengan tertatih-tatih Mbah Dullah selalu berjamaah bersama para santrinya.
  2. Tawakkal.
    Disamping istiqamah, Mbah Dullah juga seorang yang senantiasa memasrahkan segala urusannya kepada Allah SWT (Tawakkal). Pernah ada seorang tamu menawari beliau haji, namun uang yang dihaturkan oleh tamu tersebut masih kurang separuh. Mbah Dullah menolak tawaran tamu tersebut, sembari berkata: “Nek iyo mosok ora, nek ora mosok iyo?” (Kalau iya masak tidak? Kalau tidak masak iya?). Ucapan beliau merupakan bentuk sikap kepasrahan total kepada Allah SWT yang telah mengatur segalanya, sebagaimana apa yang sering dikatakan para bijak bestari: InsyaAllah kaana, wain lam yasya’ lam yakun: jika Allah menghendaki maka terjadi, jika tidak maka tidak akan terjadi. Beberapa minggu kemudian, tamu itu kembali lagi ke rumah Mbah Dullah dengan uang yang lebih untuk dihaturkan beliau supaya bisa digunakan untuk haji.
  3. Tawadlu’.
    Selain istiqamah dan tawakkal, sikap Mbah Dullah lain yang menonjol adalah tawadlu’, atau rendah hati. Beliau sering menjawab: “tidak tahu”, ketika ditanya orang-orang, meskipun pada dasarnya beliau tahu. Mbah Dullah juga sangat tawadlu’ ketika berhadapan dengan para kyai apalagi habib (keturunan Baginda Nabi Muhammad SAW). Beliau sangat menghormati Habib Luthfi murid beliau, yang secara usia adalah seumuran dengan putra beliau KH Ahmad Nafi’ Abdillah. Disamping itu, Mbah Dullah merupakan pribadi yang tidak mudah mengeluh dan tidak suka terkenal, karena kerendahan hati beliau yang merasa selalu diawasi oleh Allah SWT.
  4. Kedermawanan.
    Mbah Dullah juga terkenal sebagai pribadi yang dermawan. Jika ada orang yang meminta sesuatu kepada beliau, maka Mbah Dullah seperti angin yang berhembus, mudah sekali memberikan barang yang dimiliki jika dikehendaki orang lain. Pernah ada orang kaya bertamu dan menghaturkan segepok uang kepada Mbah Dullah. Tiba-tiba, Mbah Dullah memberikan segepok uang itu kepada para santrinya sembari berkata kepada tamu itu: “Tuh kan, sampean sudah bikin senang banyak orang.”

Mbah Dullah wafat –sebagaimana kebiasaan beliau yang tidak suka ramai-ramai dan lebih suka bersembunyi– pada 25 sya’ban 1422 M/11 November 2001, waktu ketika para santri-santri Kajen liburan dan santri-santri posonan Ramadhan belum pada datang, sehingga Kajen dalam keadaan sepi.

Diantara mutiara kalam Mbah Dullah adalah:
1. Al-Quran iku keramat, sopo gelem ngrumat bakal keramut, sopo ora ngrumat bakal keremet (Al-Quran itu kitab keramat. Siapa mau merawatnya, ia akan merawat kita. Siapa yang tidak mau merawat, akan kena laknat).
2. Nek ora gelem ngamalno ngelmu iku koyo kuning-kuninge mundu, rupane apik tapi ora enak (Kalau tidak mau mengamalkan ilmu itu seperti kuning buah mundu, warnanya indah tapi tidak enak rasanya).

  1. Ojo mencil sakdurunge muncul (Jangan bersembunyi sebelum kamu berdakwah secara nyata kepada masyarakat).
  2. Dhawuhe poro ulama senajan gapuk iso dienggo cekelan (Perkataan para ulama meskipun lemah, masih bisa dibuat sandaran).
  3. Nek iyo mosok ora, Nek ora mosok iyo (Kalau iya masak tidak, kalau tidak masak iya?)
  4. Bondho dunyo nek digoleki malah ngece-ngece, nek dijarno malah teko dewe (harta dunia jika dicari malah lari, kalau dibiarkan akan datang sendiri)

Sumber: Potret Sejarah & Biografi Pendiri-Penerus Perguruan Islam Mathali’ul Falah, dan berbagai sumber lain.

Wallahu A’lam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: