Tetaplah Menjadi Teman Meskipun Engkau Memiliki PendapatYang Berbeda

Tetaplah Menjadi Teman Meskipun Engkau Memiliki PendapatYang Berbeda. Perbedaan pendapat adalah keniscayaan di dalam hidup. Justru karena berbeda itulah hidup menjadi berwarna dan bervariasa. Perbedaan pendapat para ulama dalam masalah agama justru menjadi rahmat bagi umat Islam, karena mereka dapat memilih satu atau beberapa imam yang mereka anggap benar. Mereka bisa menjalankan pendapat ulama yang menurut mereka ringan dan pas dengan kondisi dan kedaan hidup mereka. Dikatakan di dalam hadits bahwa agama itu mudah, permudahlah dan jangan dipersulit.

Dalam tradisi Mazhab Syafi’iyah, saat melaksanakan shalat subuh dibacakan doa qunut. Berbeda dalam tradisi Mazhab Malikiyah, tak ada doa qunut dalam shalat subuh. Namun, perbedaan tradisi itu tak membuat hubungan keduanya retak. Mereka tetap menjadi guru dan murid yang saling menghormati pendapat masing-masing. Bahkan Imam Syafi’i senantiasa menyanjung Imam Malik, berikut saya nukilkan:

قال الشافعي – رضي الله عنه -: إذا جاء الأثر فمالك النجم، وقال أيضا: إذا ذكر العلماء فمالك النجم، وما أحد أمن علي في دين الله من مالك بن أنس وقال مالك أستاذي وعنه أخذنا العلم وما أحد أمن علي من مالك وجعلت مالكا حجة بيني وبين الله

Imam Syafi’i radhiyallahu ‘anhu berkata: “Apabila datang hadits, maka Imam Malik adalah bintangnya”. Beliau melanjutkan: “Apabila jajaran ulama disebutkan, maka Imam Malik adalah bintangnya. Tak seorangpun yang lebih terpercaya bagiku dalam hal agama Allah melebihi Imam Malik bin Anas”. Kata beliau lagi: “Imam Malik adalah guruku, darinya aku mengambil ilmu, tak seorangpun yang lebih terpercaya bagiku melebihi Imam Malik dan aku jadikan beliau sebagai hujjah antara diriku dan Allah.
(Mawahib al Jalil juz 1 hal. 24).

Suatu hari, Imam Syafi’i berkunjung dan menginap di rumah Imam Malik. Saling berkunjung dan menginap itu sudah menjadi kebiasaan antara keduanya. Imam Syafi’i diminta gurunya menjadi imam saat melaksanakan shalat subuh. Karena ingin menghormati gurunya, Imam Syafi’i tak membaca doa qunut dalam shalat berjama’ah itu.

Begitu pun sebaliknya. Di lain hari, Imam Malik menginap di kediaman Imam Syafi’i. Saat subuh, mereka melaksanakan shalat subuh berjama’ah, Imam Syafi’i meminta gurunya menjadi imam shalat. Dengan alasan yang sama, Imam Malik pun membaca doa qunut.

Wallahu A’lam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: