Namanya Adalah Kyai Djazuli, Ploso. Beliau Adalah Sosok Kyai Yg Tegas, Disiplin Dan Pecinta Ilmu Sepanjang Hayat

Namanya Adalah Kyai Djazuli, Ploso. Beliau Adalah Sosok Kyai Yg Tegas, Disiplin Dan Pecinta Ilmu Sepanjang Hayat.Kyai adalah istilah yang digunakan oleh masyarakat jawa untuk menyebutkan orang yang sholeh yang dijadikan panutan oleh masyarakat. Karena dianggap layak untuk diikuti perilaku, akhlak, dan jalan hidupnya, maka seseorang layak disebut kyai. Tidak ada posisi kyai yang diminta oleh seseorang dari masyarakat, akan tetapi masyarakatlah yang menilai kemudian mengangkat seseorang sebagai Kyai.

Berikut ini adalah biografi salah seorang Kyai besar yang wajib untuk kita ketahui besama,

Namanya adalah Kyai Djazuli, Ploso. Beliau adalah sosok Kyai yg tegas, disiplin dan pecinta ilmu sepanjang hayat. Keahlian beliau dibidang ilmu Alat (Nahwu, Shorof, Balaghoh, Mantiq) tidak diragukan lagi. Bahkan sbagian santri beliau yg berkisah bhwa Mbah Djazuli laksana Imam Sibawaih pakar ilmu alat di zamannya. Pentingnya menguasai ilmu alat (disamping utk memahami alquran hadis), diantaranya, seperti maqalah: “man fahima lughota qoumin amina min syarrihim”(siapa yg faham logat suatu qaum akan selamat dari makar).

Keteladanan yg patut dicontoh pada diri Mbah Djazuli adalah Ngaji dan ketawaduannya. Ngaji bakal aji. Seperti yg prnh didawuhkan Yai Dah putra Mbah Djazuli: “Ngaji iku nggarai sugih. Ojo kuatir ga isok mangan, sing penting awakmu istiqomah ngaji.” La Shohiba ilmin mamqutun (org yg memiliki ilmu takkan suram masa depannya).

Kecintaan Mbah Djazuli terhadap Ngaji kitab tak terbantahkan lagi. Tak heran bila beliau dikenal dg pengamal Thariqah ta’lim wat ta’allum hingga akhir hayat. Meskipun demikian beliau lebih mengedepankan akhlaq daripada ilmu, Al-adab fauqal ilmi (Etika diatas ilmu).

Sprti yg prnah dikisahkan dlm biografi Sang Blawong, Mbah Djazuli prnh brgkt menuntut ilmu (semacam kuliah) di Batavia yg mana dimasa itu pendidikan serba sulit dan dipersulit oleh Belanda. Namun tiba2 beliau ditimbali (dipanggil) pulang ke Ploso oleh ayahnya (Mbah Utsman). Trnyta yg melatar belakangi pemanggilan itu adalah Mbah kyai Ma’ruf kedunglo. Mnurut bliau, Mbah Djazuli lebih cocok mondok saja. Akhirnya dg penuh ketawadu’an terhadap Kyai Ma’ruf, Mbah Djazuli meninggalkan Dunia Akademik menuju pondok Mbah Zainuddin Mojosari Nganjuk.

Dari situlah permulaan cinta Ngaji ditempuh oleh Mbah Djazuli (yg selanjutny Nyantri ke Mbah Hasyim Tebuireng, Buduran sdorjo, Tremas hingga Mekkah), meskipun beliau sempat akan mnjadi Calon Sarjana elit di batavia tapi perintah untuk mondok yg diprakarsai Kyai Ma’ruf akhirnya beliau dahulukan. Sikap etika dan akhlaq tawadu’ trhadap Kyai Ma’ruf beliau patuhi.

Nah, adakah sarjana2 sekarang yang berani meneladani akhlaq Mbah Djazuli?! Tanpa membantah, tanpa merasa pinter, beliau tetap menghormati Mbah Kyai Ma’ruf Kedunglo sbg panutan.

Khususon Mbah Djazuli, Mbah utsman, Mbah ma’ruf kedunglo, Mbah Zainuddin, Mbah Hasyim Asy’ari, lahumul fatihah..

Wallahu A’lam

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: