KH Dalhar Abdurrohman Watucongol Muntilan Magelang

KH Dalhar Abdurrohman Watucongol Muntilan Magelang. Kecintaan kepada para ulama adalah bukti kecintaan kita pada baginda nabi Muhammad SAW. Dan kecintaan kita kepada nabi Muhammad SAW adalah bukti kecintaan kita kepada Allah SWT. Semoga kita digolongkan kedalam kelompok orang yang mencintai Allah SWT.

KH Dalhar Abdurrohman (selanjutnya Mbah Dalhar) lahir di Watucongol Muntilan Magelang pada tahun 1841. Ayahnya, yakni KH Abdurrohman adalah pengasuh kedua Pondok Pesantren Darussalam Watucongol, yang didirikan oleh KH Abdurrauf pada tahun 1820. Dengan demikian, Mbah Dalhar adalah pengasuh ketiga Pondok Pesantren Darussalam Watucongol tersebut.

Riwayat Pendidikan:
Selain belajar langsung kepada orang tuanya di Pondok Pesantren Darus Salam, Mbah Dalhar juga pernah belajar di Pondok Pesantren Al-Kahfi Sumolangu Kebumen, dibawah asuhan Syekh Abdul Kahfi Tsani. Di pondok tersebut, Mbah Dalhar menempuh pendidikan selama tiga tahun. Setelah itu, Mbah Dalhar melanjutkan ke Tremas Pacitan untuk berguru kepada Syekh Mahfudz At-Termasi. Di Tremas, Mbah Dalhar menghabiskan waktu untuk berguru kepada Syekh Mahfudz selama tujuh tahun ( menurut riwayat lain, hal ini terjadi di makkah ). Setelah itu, beliau melanjutkan perjalanan tholabul ‘ilminya ke Ringin Agung Kediri untuk belajar kepada KH Nawawi selama tiga tahun. Setelah itu, Mbah Dalhar melanjutkan perjalanan pendidikannya ke tanah suci Mekkah. Selama 27 tahun menetap di Mekkah, berbagai riwayat menceritakan bahwa Mbah Dalhar sama sekali tidak pernah meninggalkan shalat berjamaah lima waktu.

Sekitar tahun 1916, Mbah Dalhar kembali dari perantauan menuntut ilmu dan langsung mengasuh pesantren yang didirikan oleh kakeknya. Semua bidang ilmu beliau kuasai. Namun ilmu yang terlihat lebih menonjol yang dimiliki oleh beliau adalah ilmu tasawuf. Beliau sungguh memiliki kharisma yang tinggi di mata para ulama dan umatnya.

Perjuangan:
Mbah Dalhar dikenal sebagai salah seorang wali yang dikeramatakan banyak orang. Selain beliau adalah putra kyai, pergaulannya dengan kyai-kyai besar membuat beliau betul-betul menemukan maqam kewaliannya. Di antara teman akrab Mbah Dalhar adalah KH Asnawi Kudus, KH Hasyim Asy’ari Jombang, KH Abdul Wahhab Hasbullah Jombang, KH Zainuddin Mojosari, KH Baidlowi Lasem, KH Siroj Payaman, KH Mandhur Temanggung dan kyai-kyai besar lain yang hidup di zaman beliau.

Pada tahun 1939, Pondok Pesantren Darussalam Watucongol digunakan sebagai tempat acara Muktamar Nahdlatul Ulama ke-14. Waktu itu, Mbah Dalhar diminta panitia untuk memberikan sambutan atas nama tuan rumah. Oleh karena diminta banyak kyai, Mbah Dalhar pada akhirnya menyetujui permintaan panitia. Namun anehnya, ketika sudah di atas panggung dan menghadap mikrofon, tidak banyak kalimat yang beliau sampaikan. Setelah mengucapkan salam, beliau hanya berkata: “Poro rawuh sami wilujeng?” (Para hadirin selamat semua?). Setelah berkata demikian, Mbah Dalhar lalu menutupnya dengan salam. Pidato beliau atas nama tuan rumah selesai. Banyak yang penasaran dengan makna daripada sambutan yang beliau utarakan. KH Ali Maksum mengartikan kalimat “Wilujeng” yang disampaikan oleh Mbah Dalhar itu ternyata memiliki banyak makna. Antara lain adalah bahwa ucapan Mbah Dalhar merupakan doa supaya semuanya selamat, acaranya sukses, dan ke depan Nahdlatul Ulama mampu istiqamah dalam memberikan manfaat kepada umat.

Meski Mbah Dalhar sangat aktif memperjuangkan NU, namun beliau tidak pernah menjadi pengurus NU. Beliau lebih aktif di dunia tarekat, dengan menjadi satu-satunya mursyid Thariqah Syadziliyyah di Indonesia pada masanya.

Banyak murid Mbah Dalhar yang menjadi kyai besar dan aktif dalam memperjuangkan umat, antara lain: KH Dimyathi Pandeglang, KH Mahrus Ali Lirboyo, KH Abbas Buntet, KH Hamid Wijaya, KH Hakim Nganjuk, KH Mahfudz Sumolangu, Gus Dim, Gus Mik, Gus Dah Ploso dan kyai-kyai besar lain.

Mbah Dalhar wafat pada hari Rabu Pon tanggal 25 Ramadhan tahun 1959 dalam usia 118 tahun. Beliau dimakamkan di Gunung Pring sekitar 500 meter dari Pondok Pesantren Darussalam. Konon, pemakaman itu atas permintaan dari Mbah Raden Santri yang lebih dulu meninggal dan dimakamkan di tempat itu bersama dengan sembilan kekasih Allah yang lain.

Semoga kita mendapatkan keberkahan para kekasih Allah, utamanya Mbah Dalhar.

Wallahu A’lam

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: