Apakah Orang Tua Nabi Ahli Surga Atau Ahli Neraka?

Apakah Orang Tua Nabi Ahli Surga Atau Ahli Neraka? Sungguh dangkal orang-orang yang mengatakan bahwa orang tua nabi adalah kafir, dan tempat bagi orang kafir adalah neraka jahannam. Mereka tidak menyadari bahwa ucapannya begitu tidak sopan kepada nabi Muhammad SAW, sehingga nabi pasti akan merasa tersakiti. Dan barangsiapa yang menyakit nabi Muhammad maka ia telah menyakiti Allah, dan barangsiapa yang menyakiti Allah maka tempatnya di Neraka, na’udlubillahi mindzalik.

Di dalam kitab “Kifayatul ‘Awam” karya Syeikh Ibrahim Al-Baujuri halaman 24-25, cetakan “Darul Kutub al-Islamiyyah”, Kalibata – Jakarta Selatan disebutkan bahwa orangtua Nabi Muhammad saw masuk surga dengan keterangan sebagai berikut,

Ahlul Fatrah adalah orang-orang yang tidak ada di zaman rasul atau tidak ada rasul yang diutus Allah kepada mereka. Mereka adalah golongan orang-orang yang selamat, meskipun mereka para penyembah berhala, karena udzur mereka. Allah ta’ala memberikan tempat-tempat khusus di surga, bukan surga karena amal mereka. Karena, tidak ada amal sama sekali bagi mereka. Inilah fakta masalah. Olehkarena itu, peliharalah fakta masalah ini.

Jika anda sudah yakin bahwa Ahlul Fathrah (masa kevakuman atau kekosongan Rasul) itu termasuk orang-orang yang selamat (dari neraka) berdasarkan pendapat ulama yang kuat, maka anda harus yakin pula bahwa kedua orangtua Nabi Muhammad saw adalah orang-orang yang selamat (dari neraka). Karena, mereka berdua termasuk Ahlul Fathrah (termasuk juga kakek, buyut Nabi dan ke atasnya). Bahkan mereka berdua termasuk Ahlul Islam, karena Allah telah menghidupkan mereka
berdua untuk Nabi Muhammad saw sebagai pengagungan kepadanya. Kemudian, kedua orangtua Nabi beriman kepadanya sesudah kebangkitannya menjadi seorang rasul. Alangkah indahnya sya’ir yang dilantunkan oleh seorang ulama karena mengagungkan beliau:
ﺣﺒﺎ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﻣﺰﻳﺪ ﻓﻀﻞ ### ﻋﻠﻰ ﻓﻀﻞ
ﻭ ﻛﺎﻥ ﺑﻪ ﺭﺅﻭﻓﺎ
ﻓﺄﺣﻴﺎ ﺃﻣﻪ ﻭ ﻛﺬﺍ ﺃﺑﻮﻩ ### ﻻﻳﻤﺎﻥ ﺑﻪ ﻓﻀﻼ
ﻣﻨﻴﻔﺎ
ﻓﺴﻠﻢ ﻓﺎﻟﻘﺪﻳﻢ ﺑﺬﺍ ﻗﺪﻳﺮ ### ﻭ ﺍﻥ ﻛﺎﻥ
ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﺑﻪ ﺿﻌﻴﻔﺎ

(Allah memberikan anugerah kepada
Nabi saw dengan tambahan anugerah
di atas anugerah. Dia Maha
Penyayang terhadap Nabi-Nya.
Kemudian, Dia menghidupkan ibunya,
begitupula bapaknya untuk beriman
kepadanya karena anugerah yang
agung.
Maka, hendaklah kau taslim (terima) !
Karena, Dzat Yang Maha Qadim
(Maha Dahulu) adalah Dzat Yang
Maha Kuasa atas itu, meskipun
hadits itu kedudukannya lemah
(bukan hadits palsu) dengannya.”
Hadits ini berdasarkan pada sebuah
keterangan yang diriwayatkan dari
Urwah dari Aisyah bahwa Rasulullah
saw memohon kepada Tuhan-Nya
agar Dia menghidupkan kembali
kedua orangtuanya. Maka Allah pun
menghidupkan kembali kedua
orangtua beliau. Selanjutnya,
keduanya beriman kepada Nabi
Muhammad saw. Kemudian, Allah
mematikan kembali keduanya.
Berkata Suhaili: “Dan Allah Maha
Kuasa atas segala sesuatu, bisa saja
Allah mengkhususkan Nabi-Nya
dengan apa-apa yang Dia kehendaki
dari sebab karunia-Nya dan memberi
nikmat kepada Nabi-Nya dengan
apa-apa yang dia kehendaki dari
sebab kemuliaan-Nya.”

Mudah-mudahan hadits ini shohih menurut sebagian ulama ahli hakekat, sebagaimana diterangkan
oleh sebagian pendapat ulama Ahlussunnah wal Jama’ah di dalam lantunan sya’ir mereka:
ﺃﻳﻘﻨﺖ ﺃﻥ ﺃﺑﺎ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﻭ ﺃﻣﻪ ### ﺃﺣﻴﺎﻫﻤﺎ
ﺍﻟﺮﺏ ﺍﻟﻜﺮﻳﻢ ﺍﻟﺒﺎﺭﻱ
ﺣﺘﻰ ﻟﻪ ﺷﻬﺪﺍ ﺑﺼﺪﻕ ﺭﺳﺎﻟﺔ ### ﺻﺪﻕ
ﻓﺘﻠﻚ ﻛﺮﺍﻣﺔ ﺍﻟﻤﺨﺘﺎﺭ
ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﻭ ﻣﻦ ﻳﻘﻮﻝ ﺑﻀﻌﻔﻪ ### ﻓﻬﻮ
ﺍﻟﻀﻌﻴﻒ ﻋﻦ ﺍﻟﺤﻘﻴﻘﺔ ﻋﺎﺭﻯ
Artinya:

“Aku meyakinkan bahwa bapak Nabi
saw dan ibunya telah dihidupkan
kembali oleh Tuhan Yang Maha Mulia
lagi Maha Pencipta.
Sehingga mereka berdua bersaksi
atas kebenaran risalah yang
dibawanya. Hendaklah engkau
membenarkan ! Maka, itulah kemulian
Nabi pilihan-Nya.
Pahamilah hadits ini ! Dan,
barangsiapa berkata bahwa hadits ini
dho’if, maka orang tersebut adalah
orang yang lemah dan kosong dari
hakekat.”

Telah berkata sebagian ulama: “Telah ditanya Qodhi Abu Bakar bin ‘Arobi, salah seorang ulama madzhab Maliki mengenai seorang laki-laki yang berkata bahwa bapak Nabi berada di dalam neraka. Maka, beliau menjawab bahwa orang itu dilaknat Allah. Firman Allah ta’ala:
{ ﺇِﻥَّ ﭐﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻳُﺆْﺫُﻭﻥَ ﭐﻟﻠَّﻪَ ﻭَﺭَﺳُﻮﻟَﻪُۥ ﻟَﻌَﻨَﻬُﻢُ ﭐﻟﻠَّﻪُ
ﻓِﻰ ﭐﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻭَﭐﻷﺧِﺮَﺓِ ﻭَﺃَﻋَﺪَّ ﻟَﻬُﻢْ ﻋَﺬَﺍﺑًﺎ ﻣُّﻬِﻴﻨًﺎ }
Artinya:
=====
“Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah akan melaknat mereka di dunia dan akherat dan menyiapkan bagi mereka itu adzab yang
menghinakan”. (QS. Al-Ahzab: 57).

Dan tidak ada perbuatan yang lebih besar dibandingkan dengan perkataan bahwa bapak Nabi berada di dalam neraka. Betapa tidak, Sedangkan Ibnu Munzir dan yang lainnya telah meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa beliau berkata: “Engkau anak dari kayu bakar api neraka’, maka berdirilah Rasulullah saw dalam keadaan marah, kemudian beliau berkata:
ﻣﺎ ﺑﺎﻝ ﺃﻗﻮﺍﻡ ﻳﺆﺫﻭﻧﻨﻲ ﻓﻰ ﻗﺮﺍﺑﺘﻲ ﻭ ﻣﻦ
ﺃﺫﺍﻧﻲ ﻓﻘﺪ ﺃﺫﻯ ﺍﻟﻠﻪ
Artinya:
“Bagaimanapun itu keadaan kaum yang menyakiti aku dalam kerabatku. Dan, barangsiapa menyakiti aku, maka sesungguhnya dia telah menyakiti Allah”.

Dalam masalah ini Imam Jalaluddin as-Suyuthi telah menyusun beberapa karangan yang berkaitan dengan selamatnya kedua orangtua Nabi Muhammad saw (dari neraka). Semoga Allah membalas kebaikan beliau .

Begitupula di dalam kitab “At-Tajul Jami’ lil Ushul fii Ahaditsir Rasul
( ﺍﻟﺘﺎﺝ ﺍﻟﺠﺎﻣﻊ ﻟﻸﺻﻮﻝ ﻓﻲ ﺃﺣﺎﺩﻳﺚ
ﺍﻟﺮﺳﻮﻝ )” karya Syeikh Manshur Ali Nashif diterangkan (lihat foto yang ada tulisannya} pada jilid 1 halaman 382 yang artinya sebagai berikut:

NABI SAW BERZIARAH KE MAKAM IBUNYA

“Dari Abu Hurairah beliau berkata: Nabi saw berziarah ke makam ibunya dan beliau menangis. Begitupula orang-orang yang berada di sekitarnya pada menangis. Kemudian, beliau berkata: Aku meminta idzin kepada Tuhanku supaya aku bisa memintakan ampunan untuknya. Namun aku tidak
diidzinkan oleh-Nya. Terus aku meminta idzin kepada-Nya supaya aku bisa menziarahinya. Kemudian, Dia mengidzinkan aku untuk menziarahi ibuku.

Berziarahlah ke makam-makam !! Karena, berziarah itu dapat mengingatkan mati. Hadits riwayat Imam Muslim, Abu Dawud,dan Nasa’i “. Maksud hadits tersebut di atas
sebagai berikut: Ketika Nabi Muhammad saw menziarahi ibunya yang bernama Sayyidah Aminah binti Wahab, beliau menangis karena ibunya tidak beragama Islam dan tidak mendapat kesenangan di dalamnya, dan Allah tidak mengidzinkan Nabi saw memintakan ampunan untuk ibunya. Karena, permintaan ampunan itu syaratnya harus beragama Islam.

Sedangkan ibunda Nabi saw wafat dalam keadaan menganut agama kaumnya sebelum beliau diangkat jadi Rasul. Hal ini bukan berarti ibunda Nabi saw tidak masuk surga, karena ibunda Nabi saw itu termasuk ahli fatrah (masa kekosongan atau vakum antara dua kenabian). Menurut ulama jumhur bahwa ahli fatrah itu adalah orang-orang yang selamat (orang-orang yang selamat dari api neraka dan mereka tetap dimasukkan ke dalam surga).

Firman Allah swt dalam surat Al-Isra ayat 15
ﻭَﻣَﺎ ﻛُﻨَّﺎ ﻣُﻌَﺬِّﺑِﻴﻦَ ﺣَﺘَّﻰٰ ﻧَﺒۡﻌَﺚَ ﺭَﺳُﻮﻻً۬
Artinya: Dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul. Bahkan berlaku dan absah menurut ahli mukasyafah bahwa Allah ta’ala menghidupkan kembali kedua orangtua Nabi saw setelah beliau diangkat jadi Rasul. Kemudian, mereka beriman kepada Nabi saw. Olehkarena itu, sudah pasti mereka termasuk ahli surga.

Demikian pembahasan tentangtentang orang Tua baginda Nabi sebegai bukti Bahwa Baginda memang benar-benar manusia pilihan dari rahim pilihan dari keturanan pilihan Semoga bermanfaat dan semoga Allah selalu merahmati Para Hamba- hamba Allah yang senantiasa membagikan Ilmu ini, amiin.

Wallahu a’lam

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: