Tadabbur Quran Surat Asy-Syams (91)

Bismillah, pada kesempatan kali ini kita akan Tadabbur Quran Surat Asy-Syams (91) yang terdiri dari 15 ayat, diturunkan sesudah surat Al-Qadar dan termasuk surat makiyyah (surat yang diturunkan di mekah) dinamakan sebagai asy – syams (matahari) di ambil dari permulaan surat tersebut. Pokok pembahasan surat ini meliputi : kaum tsamud yang dihancurkan Allah karena kedurhakaannya, Allah memberitahukan kepada manusia jalan kefasikan dan ketaqwaan juga memberi kebebasan untuk memilih kedua jalan tersebut.

Allah Bersumpah Dengan MakhlukNya

Pada permulaan surat ini Allah bersumpah sekaligus dengan tiga makhluknya yaitu matahari dan bulan, siang dan malam, serta langit dan bumi. mari kita perhatikan sumpah Allah kepada tiga makhlukNya berikut :

Demi matahari dan cahayanya di pagi hari. Dan bulan apabila mengiringinya. Dan siang apabila menampakkannya. Dan malam apabila menutupinya. Dan langit serta pembinaannya. Dan bumi serta penghamparannya”. (QS. 91: 1-6)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Asy-Syams

mujahid mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya : Demi matahari dan cahayanya dipagi hari (QS.91:1) yakni sinarnya diwaktu pagi. Qatadah mengatakan bahwa makna firman-Nya “Waduhaha” artinya seluruh siang hari, bukan hanya di pagi hari saja. Ibnu jarir mengatakan bahwa yang benar ialah bila dikatakan bahwa Allah bersumpah dengan menyebut matahari dan siang hari, karena sinar matahari yang terang terdapat di siang hari.

“Dan bulan apabila mengiringinya” (Qs.91:2)

mujahid mengatakan mengiringinya. Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman diatas maksudnya adalah mengiringi siang hari. Qatadah mengatakan sehubungan dengan firman tersebut yaitu malam hilal; bila mentari terbenam, hilal baru kelihatan. Ibnu Zaid mengatakan bahwabulan mengiringi matarahi pada pertengahan bulan dan bulan mendahuluinya pada pertengahan bulan yang terakhir. malik telah meriwayatkan dari zaid Ibnu Aslam bahwa makna yang dimaksud adalah apabila bulan mengiringi matahari di malam lailatul Qadar.

“ Dan siang apabila menampakkannya”  (Qs.91:3)

Mujahid mengatakan bahwa yang dimaksud ialah bila cuacanya cerah. Qatadah mengatakan yakni apabila siang hari menerangi semuanya. Ibnu Jarir mengatakan bahwa sebagian ahli bahasa Arab menakwilkan hal ini dengan pengertian siang hari apabila mengusir gelapnya malam hari.

“Dan malam apabila menutupinya”  (Qs.91:4)

para ulama mengatakan sehubungan ayat diatas yaitu apabila malaml menutupi matahari saat matahari tenggelam, maka seluruh cakrawala menjadi gelap.

Baqiyyah ibnul Walid telah meriwayatkan dari Safwan, telah menceritakan kepadaku Yazid ibnu Zi Hamamah yang mengatakan bahwa apabila malam hari tiba, Allah SWT Berfirman, ” Hamba-hamba-Ku telah ditutupi oleh makhluk-Ku yang Besar,” malam hari takut kepada Allah, dan memanga Allah telah menciptakan lebih berhak untuk ditakuti. Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abu hatim.

“Dan langit serta pembinaannya”  (Qs.91:5)

“Ma” disini dapat diartikan sebagai ma masdariyah, sehingga artinya menjadi dan langit serta bangunannya, ini menurut pendapat Qatadah.

Dapat pula ia dianggap sebagai huruf yang bermakna “man” sehingga artinya menjadi seperti berikut : Dan langit serta Tuhan yang membangunnya. ini menurut pendapat Mujtahid. kedua pendapat tersebut saling berkaitan. Dan yang dimaksud dengan bina-iha ialah bangunan yang tinggi.

“dan bumi serta hamparannya”  (Qs.91:6)

Mujtahid mengatakan bahwa taha-ha artinya penghamparannya. Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas : Yakni segala makhluk yang terdapat didalamnya.

Ali Ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, makna yang dimaksud adalah bagian-bagiannya. Mujahid, Qatadah, Ad-Dahhak, As-Saddi, As-Sauri, Abu Saleh dan Ibnu Zaid mengatakan bahwa taha-ha artinya penghamparannya, dan inilah pendapat yang terkenal dan dianut oleh kebanyakan ulama tafsir juga yang terkenal dikalangan ahli bahasa.

“dan jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)nya”  (Qs.91:7)

yaitu penciptaannya yang sempurna dengan dibekali fitrah yang lurus lagi tegak, seperti yang disebutkan dalam ayat lain : maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada Agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan ada fitrah Allah. (Ar-Rum:30)

Rasulullah Saw. telah bersabda :

Setiap bayi yang dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka hanya kedua orangtuanyalah yang menjadikannya seorang yahudi, atau seorang nasrani atau seorang majusi. sebagaimana hewan ternak yang melahirkan anaknya dalam kedaan utuh, maka apakah kamu pernah melihatnya ada yang cacat ?

Imam Bukhari dan Imam Muslim mengetengahkannya melalui riwayat Abu Hurairah sedangakan dalam Shahih Muslim disebutkan melalui riwayat Iyad Ibnu Hammad Al-Mujasyi’i dari Rasulullah Saw.

Disebutkan bahwa Rasulullah telah bersabda :

Allah Swt. berfirman, ” sesungguhnya Aku menciptakan hamba-hambaKu dalam keadaan hanif (menyimpang dari kebatilan dan cenderung kepada perkara hak) kemudian datanglah setan-setan yang menyesatkan mereka dari agamanya.

Maka Allah ilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya” (QS. 91: 8) 

Yakni Allah menerangkan kepadanya jalan kefasikan dan ketaqwaan, kemudian memberinya petunjuk kepadanya sesuai dengan apa yang telah ditetapkan Allah untuknya. Ibnu Abbas mengatakan Allah telah menjelaskan kepadanya kebaikan dan keburukan. Hal yang sama juga dikatakan Mujahid, Qatadah, Ad-Dahhak dan As Sauri. Ibnu Jubair mengatakan bahwa Allah mengilhamkan (menginspirasikan) kepadanya jalan kebaikan dan keburukan.

Imran Ibnu Husain berkata, pernah ada seorang lelaki dari Bani Muzayyanah atau Bani Juhainah datang kepada Rasulullah Saw., lalu bertanya, Wahai Rasulullah, bagaimanakah menurutmu tentang apa yang dikerjakan manusia yang mereka bersusah payah menanggulanginya. Apakah hal itu merupakan sesuatu yang telah ditetapkan atas mereka dalam taqdir yang terdahulu, ataukah hal ini merupakan sesuatu yang mereka terima dari apa yang disampaikan oleh Nabi mereka kepada mereka, lalu diperkuat dengan hujah atas diri mereka ? Maka Rasulullah menjawab :

Tidak demikian, sebenarnya hal itu adalah sesuatu yang telah ditetapkan atas diri mereka.

Lelaki itu bertanya lagi, lalu apakah gunanya kita beramal ? Rasulullah Saw menjawab, bahwa barang siapa yang diciptakan oleh Allah untuk mengerjakan salah satu diantara keduanya, maka Allah menyiapkan untuk itu, dan hal yang membenarkannya ini dalam kitabullah adalah firman-Nya yang mengatakan : ” dan jiwa serta penyempurnaan ciptaannya, maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kefasikan dan ketaqwaannya “(Qs.91:7-8)

imam Ahmad dan Imam Muslim meriwayatkanya melalui hadi Azrah Ibnu Sabit dengan sanad yang sama.

Sungguh beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu” (QS. 91:9)

Takwil makna ayat dapat dikatakan bahwa sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan dirinya dengan taat kepada Allah, sebagaimana yang dikatakakan oleh qatadah, dan membersihkannya dari akhlak-akhlak yang hina. Hal yang semisal telah diriwayatkan pula dari mujahid, Ikrimah dan Sa’id Ibnu Jubair. makna ayat ini sama dengan apa yang disebutkan pada ayat lain : Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri dengan (beriman), dan dia mengingat tuhannya, lalu dia sholat (Al-Ala: 14-15)

“dan sesungguhnya merugilah yang mengotorinya” (QS. 91:10)

yakni membenamkan, menguburnya, dan menghinakannya dengan tidak mengikuti jalan petunjuk, hingga terjerumuslah dia kedalam perbuatan-perbuatan maksiat dan meninggalkan ketaatan kepada Allah Swt.

Dapat juga makna ayat ditakwilkan dengan pengertian berikut, bahwa beruntunglah orang yang jiwanya dibersihkan oleh Allah dan merugilah orang yang jiwanya ditaqdirkan kotor oleh Allah Swt. sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Aufi dan Ali Inbu Abu Talhah dari Ibnu Abbas.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku dan Abu Zur’ah keduanya mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Abu Malik alias Amr Ibnul Haris, dari Amr ibnu Hisyam, dari Juwaibir dari Ad-Dahhak dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Saw bersabda : Beruntunglah jiwa orang yang disucikan oleh Allah Swt. Ibnu Abu hatim telah meriwayatkannya pula melalui hadis Abu Malik dengan sanad yang sama. Juwaibir yang disebutkan dalam perawi hadis ini adalah ibnu Sa’id orangnya berpredikat matruk, dan lagi Ad Dahhak belum pernah berjumpa Ibnu Abbas.

Imam Tabrani mengatakan telah menceritakan kepada kami yahya ibnu usman Ibnu Saleh, telah menceritakkan kepada ayahku, telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah dari Amr Ibnu DInar, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bila Rasulullah Saw. bila bacaannya sampai pada ayat ini “dan jiwa serta penyempurnaan ciptaannya, maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kefasikan dan ketaqwaannya “(Qs.91:7-8) maka beliau Saw. menghentikan bacaanya, lalu berdoa :

Allahumma Aati nafshii taqwaa ha, anta waliyyuhaa, wa maulaa haa, wa khoiru man zakka haa

Ya Allah, Berikanlah kepada jiwaku ketaqwaannya, Engkau adalah Yang Memiliki dan Yang Menguasainya, dan Engkau adalah sebaik-baik yang menyucikannya[4]

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Waki’, dari Nafi’, dari Ibnu Umar dari Saleh Ibnu Sa’id, dari Aisyah r.a., bahwa ia merasa kehilangan nabi Saw. ditempat perpaduannya, lalu ia mencarinya dengan meraba-rabakan tangannya (dalam kegelapan malam), dan tangannya memegang diri Nabi Saw. yang saat itu sedang melakukan sujud seraya berdoa :

Robbi ‘athi nafsii taqwaa haa, wa zakka haa anta khoiru man zakkahaa, anta waliyyuhaa wamau laa haa

Ya Tuhanku, berikanlah kepada jiwaku ketaqwaannya, dan sucikanlah ia, Engkau adalah sebaik-baik yang menyucikannya dan Engkau adalah Yang Memiliki dan Yang Menguasai.

Imam Ahmad meriwayatkan hadis ini secara munfarid.

Imam Ahmad mengatakan telah menceritakan kepada kami Affan, telah menceritakan kepada kami Asim Al-Ahwal, dari Abullah Ibnul Haris dari Zaid Ibnu Arqam yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. Seringkali mengucapkan doa berikut :

Ya-Allah,-sesungguhnya-aku-berlindung-kepada-Mu-dari-kelemahan,-kemalasan,-kepikunan,-sifat-pengecut,-sifat-kikir-dan-azab-kubur

Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, kemalasan, kepikunan, sifat pengecut, sifat kikir dan azab kubur. Ya Allah, berikanlah kepada jiwaku ketaqwaannya, dan sucikanlah ia, Engkau adalah sebaik-baik yang menyucikannya, Engkau adalah pemilik yang Menguasainya. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari hati yang tidak khusyuk, dari jiwa yang tidak pernah kenyang (puas), dari ilmu yang tidak bermanfaat dan dari doa yang tidak diperkenankan.

Ibnu Zaid mengatakn, Rasulullah Saw. mengajarkan kepada kami doa-doa tersebut, dan sekarang kami mengajarkannya kepada kalian. Imam Muslim meriwayatkannya melalui hadis Abu Mu’awiyah dari Asim Al Ahwal, dari Abdullah ibnul haris dan Abu Usman An-Nahdi dari Zaid Ibnu Arqam dengan lafaz yang sama.

Tafsir Al Azhar Surat Asy-Syams – Buya Hamka 

Di sini Tuhan Allah mengambil persumpahan dengan beberapa makhluk yang Dia ciptakan, yang samasekali itu adalah makhluk besar jika dibandingkan dengan kejadian manusia. Mula sekali di Surat ini Tuhan bersumpah dengan matahari, dan matahari pula yang menjadi nama Surat ini; “Demi matahari dan cahaya siangnya.” (ayat 1).

Karena apabila matahari telah mulai terbit, kian lama dia akan kian tinggi dan kian memancar pulalah cahaya siangnya. Maka terasalah betapa sangkutpautnya kehidupan manusia dengan cahaya matahari di siang hari itu.

Dalam ayat ini ada disebut waktu Dhuha, yaitu sejak matahari mulai beransur panas, sampai matahari di pertengahan langit. Waktu itu disebut waktu Dhuha. Syaikh Muhammad Abduh dalam tafsir Juzu’ ‘ammanya mengatakan bahwa matahari dijadikan persumpahan oleh Tuhan agar kita perhatikan terbitnya dan terbenamnya, karena dia adalah makhluk Tuhan yang besar dan dahsyat. Dan Tuhan ambil pula cahaya siangnya jadi persumpahan karena cahaya itulah sumber kehidupan dan penerang mencari petunjuk dalam alam ciptaan Tuhan yang luas ini. Di mana engkau akan dapat hidup kalau cahaya matahari tak menerangi? Dan di mana engkau akan dapat melihat sesuatu yang tumbuh dan berkembang? Bahkan di mana engkau dapat mengetahui dirimu sendiri, kalau tak ada cahaya Sang Surya?

“Demi bulan apabila dia mengikutinya.” (ayat 2). Yang dimaksud bulan mengikuti matahari ini ialah di saat-saat bulan mencapai purnamanya, sejak 13 haribulan sampai 16 haribulan. Waktu itulah bulan penuh sebagaimana adanya kelihatan dari muka bumi, sehingga malam pun mendapat sinaran dari bulan sepenuhnya sejak matahari terbenam sampai fajar menyingsing. Oleh sebab itu persumpahan Ilahi tertuju di sini bukan semata kepada bulannya, tetapi terutama lagi kepada perbandingan cahayanya dengan cahaya matahari. Bukanlah maksud ayat ini bahwa bulan sendirilah yang mengikuti matahari, sebab sebagai tersebut di dalam Surat 36, Yaa-Siin ayat 40 perjalanan bulan itu jauh lebih cepat dari perjalanan matahari, sehingga “Tidaklah selayaknya matahari menukar bulan”, sebab perjalanan matahari itu lebih lambat (365 hari edaran satu tahun) dan bulan lebih cepat (354 hari dalam setahun).

“Demi siang apabila menampakkannya.” (ayat 3). Artinya, apabila hari telah pertambah siang, bertambah nampak jelaslah matahari itu, bahkan adanya matahari yang jelas itulah yang menyebabkan adanya siang. Karena di waktu itulah matahari yang memancarkan cahaya itu menjadi lebih jelas. Sehingga jelaslah dalam ayat ini betapa pentingnya cahaya itu bagi seluruh alam dalam kekeluargaan matahari, terutama di muka bumi kita ini. Dan kepentingan perhatian kita di hadapan cahaya itu bertambah lagi karena ayat yang berikutnya; “Demi malam apabila menutupinya.” (ayat 4). Karena bila matahari telah terbenam datanglah malam. Malam ialah saat-saat berpengaruhnya kegelapan, karena matahari tidak kelihatan lagi. Dan kegelapan malam itu mempengaruhi kepada urat-urat saraf kita. Dengan datangnya malam, yang matahari laksana tersimpan dahulu, kita pun dapat beristirahat menunggu matahari terbit pula.

“Demi langit dan apa yang mendirikannya.” (ayat 5). Setelah diambil perhatian kita kepada matahari, bulan dan siang dan malam, pada yang kelima diperingatkanlah keindahan langit itu sendiri, dan apa atau siapakah yang membina langit yang demikian indah, yang kadang-kadang dinamai “gubah hijau”, demi indah permainya di siang hari ketika awan beriring ke tepi, bukan berarak ke tengah. Dan lebih indah lagi bila kelihatan di malam hari dengan hiasan bintang-bintang, tidak pernah membosankan mata memandang, lebih-lebih lagi mereka yang berperasaan halus.

“Demi bumi dan apa yang menghamparkannya.” (ayat 6). Kelihatan pula keindahan bumi dengan lautan dan daratannya, gunung dan ganangnya, danau dan tasiknya, rimba dan padang belantaranya. Kayu-kayuannya, rumput-rumputannya, binatang-binatangnya, ikannya di laut, ternaknya di padang. Sebagai ayat 5 tentang langit, perhatian pun ditarik untuk memperhatikan apa yang menghamparkan bumi itu begitu indah, dengan padang saujananya yang serenjana mata memandang. Alangkah dahsyatnya kejadian bumi itu, apakah agaknya, atau siapakah yang menghamparkannya sehingga manusia dapat hidup di dalam bumi terhampar itu? Di kedua ayat ini, ayat lima dan ayat enam; dikatakan apa untuk mencari siapa!

Untuk menegaskan dari apa kepada siapa, datanglah ayat selanjutnya; “Demi sesuatu diri dan apa yang menyempurnakannya.” (ayat 7). Atau sesuatu jiwa, yang dimaksud ialah peribadi seorang Insan, termasuk engkau, termasuk aku. Sesudah kita disuruh memperhatikan matahari dan bulan, siang dan malam, langit dan bumi dan latarbelakang segala yang nyata itu, yang di dalam filsafat dinamai fisika, kita disuruh mencari apa metafisikanya, sampai hendaknya kita menginsafi bahwa segala-galanya itu mustahil terjadi dengan sendirinya. Semuanya teratur, mustahil tidak ada yang mengatur. Untuk sampai kesana, sesudah melihat alam keliling, hendaklah kita melihat diri sendiri; Siapakah AKU ini sebenarnya? Aku lihat matahari dan bulan itu, siang dan malam itu, langit dan bumi itu, kemudian aku fikirkan; “Aku yang melihat ini sendiri siapakah adanya?” Mula-mula yang kita dapati ialah; “Aku Ada!” bukti bahwa aku ini ADA ialah karena aku berfikir. Aku Ada, karena aku bertanya. Sesudah Aku yakin akan ADAnya aku, datanglah pertanyaanku terakhir; ”secara kebetulankah AKU ADA ini? Secara kebetulankah aku ini berfikir? Dan apa artinya AKU ADA ini? Siapakah yang aku? Apakah tubuh kasar ini, yang dinamai fisika pula. Kalau hanya semata-mata tubuh kasar ini yang aku, mengapa waktu berhenti bernafas dan orang pun mati? Dan barulah sempurnahidupku karena ada gabungan pada diriku ini di antara badan dan nyawa. Dan nyawa itu pun adalah sesuatu yang metafisika, di luar kenyataan! Maka lanjutlah pertanyaan! Apa dan siapakah yang menyempurnakan kejadianku itu?”

Di sinilah kita mencari Tuhan Maha Pencipta, setelah kita yakin akan adanya diri kita. Di sinilah terletak pepatah terkenal:

“Barang siapa yang telah mengenal akan dirinya, niscaya akan kenallah dia kepada Tuhannya.”

Sedangkan diri sendiri lagi menjadi suatu persoalan besar, apakah lagi persoalan tentang mencari hakekat Tuhan. Maka akan nyatalah dan jelaslah Tuhan itu pada matahari dengan cahaya siangnya, bulan ketika mengiringinya, siang ketika menampakkannya, malam ketika menutupinya, langit yang jelas betapa kokoh pendiriannya dan bumi yang jelas betapa indah penghamparannya; akhirnya diri kita sendiri dengan serba-serbi keajaibannya.

“Maka menujukkanlah Dia.” (pangkal ayat 8). Dia, yaitu Tuhan yang mendirikan langit menghamparkan bumi dan menyempurnakan kejadian Insan. Diberi-Nya Ilham diberi-Nya petunjuk “kepadanya.” Artinya kepada diri Insan tadi; “Akan kejahatannya dan kebaikannya.” (ujung ayat 8).

Diberilah setiap diri itu Ilham oleh Tuhan, mana jalan yang buruk, yang berbahaya, yang akan membawa celaka supaya janganlah ditempuh, dan bersamaan dengan itu diberinya pula petunjuk mana jalan yang baik, yang akan membawa selamat dan bahagia dunia dan akhirat.

Artinya, bahwa setiap orang diberi akal buat menimbang, diberikan kesanggupan menerima Ilham dan petunjuk. Semua orang diberitahu mana yang membawa celaka dan mana yang akan selamat. Itulah tanda cinta Allah kepada hamba-Nya. Di Surat Al-Balad yang baru lalu pada ayat 10 dikatakan juga:

“Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan mendaki.”

“Maka berbahagialah barangsiapa yang membersihkannya.” (ayat 9). Setelah Tuhan memberikan Ilham dan petunjuk, mana jalan yang salah dan mana jalan kepada takwa, terserahlah kepada manusia itu sendiri, mana yang akan ditempuhnya, sebab dia diberi Allah akal budi. Maka berbahagialah orang-orang yang membersihkan jiwanya atau dirinya, gabungan di antara jasmani dan rohaninya. Jasmani dibersihkan dari hadas dan najis, hadas besar atau kecil, baik najis ringan atau berat. Dan jiwanya dibersihkan pula daripada penyakit-penyakit yang mengancam kemurniannya. Penyakit paling berbahaya bagi jiwa ialah mempersekutukan Tuhan dengan yang lain, mendustakan kebenaran yang dibawa oleh Rasul, atau bersifat hasad dengki kepada sesama manusia, benci, dendam, sombong, angkuh dan lain-lain.

“Dan celakalah barangsiapa yang mengotorinya.” (ayat 10). Lawan dari mensucikan atau membersihkan ialah mengotorinya. Membawa diri ke tempat yang kotor; kotor jasmani tersebab najis, tidak istinja’ (bersuci daripada najis dan hadas), tidak berwudhu’ lalu tidak sembahyang, tidak tahu kebersihan. Seorang yang beriman hendaklah selalu mengusahakan pembersihan diri luar dan dalam, dan jangan mengotorinya. Sebab kekotoran akan membuka segala pintu kepada berbagai kejahatan yang besar. Sebagai salah satu bukti dari kekotoran jiwa itu ialah perbuatan kaum Tsamud, kaum yang didatangi oleh Rasul Allah yang bernama Shalih.

“Telah mendustakan Tsamud, tersebab kesombongannya.” (ayat 11). Kesombongan adalah salah satu akibat dari kekotoran jiwa. Kaum Tsamud sombong, angkuh dan lantaran itu mereka tidak memperdulikan peraturan dan tidak menghargai janji yang telah diikat dengan Allah; “Seketika telah bangkit orang yang paling celaka di antaranya.” (ayat 12). Di dalam Surat-surat yang lain yang telah kita tafsirkan, telah kita ketahui bahwa sekelompok orang-orang celaka yang tidak menghargai nilai-nilai budi dan sopan, santun, peminum tuk dan pezina, telah bangkit menantang dan melanggar peraturan Allah.

“Lalu berkata Rasul Allah kepada mereka.” (pangkal ayat 13). Yaitu Rasul Allah dan Nabi-Nya, Shalih ‘alaihis-salam, yang telah diutus Allah kepada kaum itu. Mulanya mereka tidak mau percaya kepada Risalat yang dibawa oleh Nabi Shalih; lalu akhirnya mereka meminta ayat, atau tanda dan mu’jizat akan jadi bukti bahwa dia memang Utusan Tuhan. Lalu Tuhan ciptakan seekor unta besar. Maka dibuatlah janji bersama, bahwa jika unta itu tercipta, maka minuman akan dibagi; sehari minuman untuk unta dan sehari untuk penduduk negeri itu. Air itu timbul dari satu mata-air yang jernih. Di hari minuman unta mereka tidak boleh mengambil air, walaupun seteguk. Di hari minum mereka unta tidak akan minum, walaupun seteguk. Itulah yang diperingatkan oleh Nabi Shalih; “(Jagalah) unta Allah dan minumannya.” (ujung ayat 13). Artinya janganlah perjanjian dan pembahagian itu dilanggar, turutilah baik-baik dan jangan unta Allah itu diganggu supaya kalian selamat.

“Tetapi mereka dustakan dia.” (pangkal ayat 14). Mulanya mereka langgar peraturan yang telah diperbuat itu. Karena si celaka itu, dua orang kepalanya, yaitu si Qadar dan si Mashda ingin minuman tuak di rumah kekasih mereka seorang perempuan jahat. Setelah tuak itu dihidangkan ternyata sangat tebal alkoholnya. Mereka ingin ditambah sedikit dengan air. Tetapi pada malam itu air tidak ada dalam kendi perempuan itu, dan malam itu air tidak boleh diambil ke telaga, sebab sedang hari minuman unta. Maka dengan sombongnya kedua kepala penjahat atau orang celaka itu menyuruh anak buah mereka menyauk air dan minum sepuas-puasnya dan jangan diperdulikan peraturan yang dibuat Nabi Shalih itu. Kalau membuat-buat peraturan yang mengikat kemerdekaan mereka, kalau perlu Shalih sendiri dibunuh; “Lalu mereka bunuh unta itu.” Yang dinamai “Naqat Allah”, unta Allah. Unta itu mereka bunuh beramai-ramai pada malam itu juga, mereka bagi-bagi dagingnya dan mereka makan bersama-sama. “Maka Tuhan mereka pun mencurahkan azab kepada mereka lantaran dosa mereka itu.” Sebagaimana telah disebutkan dalam beberapa Surat sebelum ini, didatangkan Tuhanlah kepada mereka siksaan tiga hari lamanya; khusus kepada sekalian mereka yang telah memakan daging unta itu; Hari pertama seluruh badan jadi kuning, hari kedua masak jadi merah, hari ketiga menjadi hitam. Dan pada petang hari yang ketiga itu kedengaranlah suara pekik yang sangat hebatnya, sehingga pecahlah anak telinga mendengarkannya dan sampai kepada perut pun jadi pecah. Adapun orang yang tidak turut memakan daging unta itu telah dibawa oleh Nabi Shalih terlebih dahulu meninggalkan negeri itu, sehingga mereka pun selamat; “Hingga Dia ratakan kebinasaan itu.” (ujung ayat 14). Tidak ada yang terlepas, semua yang bersalah, laki-laki dan perempuan, bahkan siapa saja pun rata disapu oleh azab itu, kecuali orang-orang yang beriman yang telah dapat memelihara diri di bawah pimpinan Nabi Shalih sebelum azab turun.

“Maka tidaklah Dia menghiraukan akibat dari kesalahan mereka.” (ayat 15). Artinya, jika semua yang bersalah itu mendapat siksa yang rata dari Allah, tanpa kecuali, janganlah sampai orang menyangka bahwa Allah berbuat aniaya kepada hamba-Nya. Azab Allah itu adalah akibat saja. Di dalam ayat tersebut uqbaaha daripada pelanggaran yang telah mereka lakukan. Maka segala manusia pun demikianlah jalan yang akan mereka tempuh. Tidaklah mereka dengan tiba-tiba datang dan diazab saja. Tuhan terlebih dahulu memberikan Ilham mana jalan yang salah dan yang buruk dan mana pula jalan yang takwa dan selamat. Untuk perlengkapannya maka Allah mengutus Rasul, guna menyempurnakan ilham yang diberikan Tuhan itu. Berbahagialah orang yang berusaha mensucikan dirinya lahir dan batin, dan celakalah orang yang mengotorinya. Cobalah perhatikan kaum Tsamud itu; telah Tuhan utus seorang Rasul kepada mereka. Lalu mereka meminta tanda dia jadi Utusan Tuhan. Permohonan mereka dikabulkan. Lalu diikat janji dan disetujui bersama, dan Tuhan pun menciptakan Unta Allah itu. Tetapi rupanya masih ada di antara mereka yang mengotori diri dengan perangai-perangai jahat dan celaka, sampai mereka bunuh unta itu, dan mereka bagi-bagikan dagingnya dan mereka makan bersukaria, seakan-akan mempertontonkan bahwa peraturan dan perjanjian dengan Allah itu tidaklah akan mencelakakan diri kalau dilanggar. Akibatnya ialah bahwa Allah mengambil sikap; mereka pun dihancurkan.

Maka tidaklah Allah menghiraukan atau sedikit pun Allah tidak merasa kasihan, meskipun sifat Allah itu adalah Rahman, dan Rahim, Pengasih dn Penyayang. Terhadap orag ini Tuhan melakukan sifatnya: ‘Aziizun, dzun-tiqaam. Artinya Gagah Perkasa dan membalas kesalahan dengan setimpal. Karena dalam sifat-sifat yang demikian tidak sedikit pun kurang atau rusak sifat Rahman dan Rahim Allah itu. Bahkan Rahman dan Rahim kepada makhluk-Nya dan hamba-Nya yang lain, diperlihatkan hal ini kepada mereka, karena Allah Kasih dan Sayang, jangan sampai hamba yang lain menempuh jalan yang salah itu pula.

Itulah artinya bahwa Allah tiada menghiraukan akibat dari kesalahan mereka, sebagaimana yang terlukis pada ayat 15 ayat penutup Surat. [2]

Tadabbur Quran Surat Asy-Syams 

Demi matahari dan cahayanya di pagi hari. Dan bulan apabila mengiringinya. Dan siang apabila menampakkannya. Dan malam apabila menutupinya. Dan langit serta pembinaannya. Dan bumi serta penghamparannya”. (QS. 91: 1-6)

dari ayat diatas (QS. 91: 1-6) kita seharusnya bisa melihat dan merasakan dahsyatnya  ciptaan Allah yang bernama matahari, bulan, siang, malam, langit dan bumi. Dengan panca indra, hati serta fikiran yang kita miliki sudah selayaknya kita kagum dengan ciptaan Allah tersebut dan sudah semestinya kita terpesona dengan ke Maha besaran dan ke Maha Agungan Allah SWT.

Kita ketahui bersama bahwa matahari memiliki diameter sekitar 1.300.000 kilometer,  bahkan bumi yang kita tempati hanya berukuran sekitar 12,700km, matahari 100 kali lipat lebih besar dari bumi yang kita tempati dan jika kita melihat lebih jauh lagi bahwa di alam semesta yang Allah ciptakan ini ada lebih dari ratusan milyar bintang yang bertebaran. dan tahukah anda  berapakah diameter bintang yang paling besar yang diketahui oleh manusia ? diameter bintang yang diketahui manusia sebesar 2.375.511.200 namanya UC Scuti atau sekitar 1708 kali lipat dibanding matahari dan sekitar 186.614 kali lebih besar dibandingkan dengan bumi yang kita huni ini. tidakkah kita berfikir ?

Seluruh manifestasi  yang mengagumkan dari dunia fisik ini, seperti proses penciptaan, penyebaran alam semesta menjadi lelangit yang beraneka ragam, gerakan benda-benda angkasa serta ciri-ciri khususnya yang dilukiskan Al Quran bukan sebagai pelajaran astronomi atau astrologi, melainkan agar dipergunakan sebagai refleksi atau menjadi tanda tentang eksistensi, keagungan, kebesaran dan kekuasaan mutlak sayng pengendali dan pencipta alam semesta yakni Allah SWT. [3]

oleh : Nasrudiyanto (@1st_nas)

Petukangan Utara, Jakarta – Selatan

Jumat, 5 Ramadhan 1437H / 10 Juni 2016


([1]) lihat tafsir ibnu katsir Quran Surat Asy – Syams

([2]) lihat tafsir al-azhar Buya Hamka Quran Surat Asy – Syams

([3]) Afzalur Rahman, Ensiklopediana Ilmu Dalam Alquran, Bandung: Cet. II Syawal 1428H / Oktober 2007, hlm. 80

([4]) lihat tafsir ibnu katsir Quran Surat Asy – Syams : 8

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: