Seberapa Penting Nahdlatul Ulama Itu?

Seberapa Penting Nahdlatul Ulama Itu? Banyak sekali kelompok dan ormas-ormas islam yang ada di Indonesia, namun yang sangat besar pengarunya bagi warga masyarakat adalah organisasi Nahdlatul Ulama. Bagaimana tidak, organisasi ini memiliki anggota yang sangat banyak. Bahkan ada yang mengatakan bahkan NU adalah organisasi terbesar se-Dunia dengan anggota lebih dari 20 juta. Subhanallah. Sebagai orang NU sebaiknya kita merasa senang dan bersyukur. Semoga Allah senantiasa menjaga langkah kaki kita di dalam jalan para ulama Ahlussunnah Wal Jama’ah, amiin.

Maulana Al-Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya pada Harlah NU di Kota Pekalongan pernah menyampaikan perihal pentingnya warga Indonesia memiliki wadah Nahdlatul Ulama, wadah bagi Islam Ahlussunnah wal Jama’ah. Berikut adalah kutipannya:
Menjelang berdirinya NU beberapa ulama besar kumpul di Masjidil Haram, ini sudah tidak
tertulis dan harus dicari lagi narasumber-narasumbernya, beliau-beliau menyimpulkan
sudah sangat mendesak berdirinya wadah bagi tumbuh kembang dan terjaganya ajaran
Ahlussunnah wal Jama’ah.

Akhirnya diistikharahilah oleh para ulama Haramain. Lalu mengutus Kiai Hasyim Asy’ari untuk pulang ke Indonesia agar menemui dua orang di Indonesia. Kalau dua orang ini meng-iya-kan maka jalan terus, kalau tidak maka jangan diteruskan. Dua orang tersebut adalah al-Habib Hasyim bin Umar bin Thoha bin Yahya Pekalongan dan Syaikhuna Mbah Kiai Kholil Bangkalan Madura.

Oleh sebab itu, tidak heran jika Mukatamar NU yang ke-5 dilaksanakan di Pekalongan
tahun 1930 M, untuk menghormati Habib Hasyim yang wafat pada itu. Itu suatu
penghormatan yang luar biasa. Tidak heran kalau di Pekalongan sampai dua kali menjadi
tuan rumah Muktamar Thariqah. Tidak heran karena sudah dari sananya. Dari kiai irfan
Kok tahu sejarah ini dari mana?, lebih jauh habib yang sering tampil nyentrik dan dekat dengan semua kalangan ini menceritakan sumbernya dari seorang yang shaleh, yakni Kiai Irfan.

Suatu ketika saya duduk-duduk dengan Kiai Irfan, Kiai Abdul Fattah dan Kiai Abdul Hadi.
Kiai Irfan bertanya pada saya: “Kamu ini siapanya Habib Hasyim?”, Yang menjawab pertanyaan itu adalah Kiai Abdul Fattah dan Kiai Abdul Hadi: “Ini cucunya Habib Hasyim, Yai.” Akhirnya saya diberi wasiat, katanya: “Mumpung saya masih hidup, tolong catat sejarah ini.

Mbah Kiai Hasyim Asy’ari datang ke tempatnya Mbah Kiai Yasin. Kiai Sanusi ikut serta
pada waktu itu. Di situ diiringi oleh Kiai Asnawi Kudus, terus diantar datang ke Pekalongan.
Lalu bersama Kiai Irfan datang ke kediamannya Habib Hasyim. Begitu KH. Hasyim Asy’ari
duduk, Habib Hasyim langsung berkata: “Kyai Hasyim Asy’ari, silakan laksanakan niatmu
kalau mau membentuk wadah Ahlussunnah wal Jama’ah. Saya rela, tapi tolong saya
jangan ditulis.” Begitu wasiat Habib Hasyim.

Kiai Hasyim Asy’ari pun merasa lega dan puas. Kemudin Kiai Hasyim Asy’ari menuju ke
tempatnya Mbah Kiai Kholil Bangkalan. Mbah Kyai Kholil bilang sama Kyai Hasyim Asyari: “Laksanakan apa niatmu. Saya ridha seperti ridhanya Habib Hasyim. Tapi saya juga minta tolong, nama saya jangan ditulis.” Lantas Kiai Hasyim Asy’ari bertanya: “Bagaimana Kiai, kok tidak mau ditulis semua?”

Mbah Kiai Kholil pun menjawab: “Kalau mau tulis silakan, tapi sedikit saja.”. Itu tawadhu’nya Mbah Kiai Ahmad Kholil Bangkalan. Dan ternyata sejarah tersebut juga
dicatat oleh Gus Dur,” pungkas Kiai Irfan.

Inilah sedikit perjalanan Nahdlatul Ulama. Inilah perjuangan pendiri Nahdlatul Ulama. Para pendirinya merupakan tokoh-tokoh ulama yang luar biasa. Makanya hal-hal yang demikian itu tolong ditulis, biar anak-anak kita itu tidak terpengaruh oleh yang tidak-tidak. Sebab mereka tidak mengetahui sejarah. Anak-anak kita saat ini banyak yang tidak tahu, apa sih NU itu? Apa sih Ahlussunnah itu? Lha ini permasalahan kita. Upaya pengenalan itu yang paling mudah dilakukan dengan memasang foto-foto para pendiri NU, khususnya foto Hadhratus Syaikh Kiai Hasyim Asy’ari.

Di kesempatan lain bersumber dari saudara Hijrah Yanuar Iskhaq, bahwa Kiai Ahmad
Syafiq Pekalongan, seminggu sebelum Maulid Akbar berlangsung, sekitar jam 1 dinihari
pernah didawuhi Abah Habib Luthfi bin Yahya: “Gus, aku iki hampir 70 tahun, wis pingin
liren, pengin mulang ning pondok, ndandani sholat sing iseh okeh salahe ning masyarakat.
Tetapi mben wengi kok Kanjeng Nabi Saw. hadir nepuk-nepuk pundakku serto dawuh: “Bib,
tolong urusi NU, urusi NU.”

Wallahu A’lam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: