Rasa Malu Untuk Melakukan Maksiat Adalah Tanda Adanya Iman Dalam Hati

Rasa Malu Untuk Melakukan Maksiat Adalah Tanda Adanya Iman Dalam Hati. Hal paling dasar yang akan merubah hidup seseorang adalah iman. Oleh karena itu apabila seseorang menginginkan perubahan di dalam hidupnya maka ia harus meminta ketebalan iman kepada pemiliki iman yaitu Allah SWT. Allah berkehendak memberikan hidayah iman kepada yang dikehendaki-Nya, dan Dia juga berhak untuk menolak hidayah iman kepada orang yang dikehendaki-Nya. Sungguh beruntung orang-orang yang diberikan iman yang besar di dalam hatinya karena pada hakikatnya ia telah diberi nikmat yang sangat agung, karena dengan iman ini ia berkesempatan untuk bisa masuk surga, diselamatkan dari neraka,dan akan mendapatkan keluhuran-keluhuran.

Iman tidak datang dengan sendirinya, tapi ia harus terus dicari dan dicari. Ketika seseorang benar-benar bersungguh-sungguh mencari hidayah iman pada akhirnya nanti pasti Allah akan memberikan karunia-Nya. Allah SWT telah berfirman di dalam Al-Qur’an, ‘barang siapa yang bersungguh-sungguh untuk menempuh jalan-Ku maka Kami akan menunjukkan jalan-Nya’. Oleh karena itu Allah mencintai orang-orang mukmin yang kuat yang senantiasa bersemangat hidup untuk mencari keluhuran-keluhuran. Dikatakan di dalam hadits bahwa orang mukmin yang kuat lebih dicintai oleh Allah dari pada mukmin yang lemah. Juga dikatakan di dalam Al-Qur’an, ‘janganlah berputus asa dari rahmat Allah, karena sesungguhnya berputus asa adalah ciri-ciri orang kafir’.

Dan setelah Allah memberikan karunia iman-Nya kepada kita maka kita wajib bersyukur dengan cara terus menjaga dan membesarkannya agar ia tidak lepas dari hati kita. Bagaimana cara membesarkan iman kepada Allah?, tentu dengan memikirkan keagungan Dzat-Nya melalui ciptaan-ciptaan-Nya yang terhampar di langit dan di bumi. Bagaimana cara meningkatkan iman kepada para Malaikat, tentu dengan membaca ayat-ayat dan hadits-hadits yang menyebutkan tentang nama dan tugas-tugas malaikat. Bagaimana cara menumbuhkan iman kepada para nabi dan Rasul?, tentu dengan banyak membaca sejarah atau kisah perjalanan hidup mereka. Dst.

Dengan cara-cara yang telah disebutkan di atas pasti keimanan kita akan semakin bertambah, dan akibat positifnya akan kita rasakan sendiri. Setelah iman ini benar-benar tertanam di dalam lubuk hati kita maka kita akan merasa ringan untuk melakukan amal ibadah yang sebelumnya terasa berat. Kita jadi mudah untuk bangun malam lalu melakukan shalat tahajud, kita jadi ringan untuk memberikan uang yang banyak kepada orang-orang sekitar yang membutuhkan bantuan. Kita jadi bersemangat untuk melakukan puasa-puasa sunnah. Hal itu tidaklah heran karena ketika keimanan telah menjadi keyakinan yang mantap maka seolah-olah ia bisa menyaksikan pahala atau surga yang akan diberikan Allah kepadanya ketika ia sedang melakukan kebaikan-kebaikan.

Akibat positif lainnya kita akan malu dan takut untuk melakukan perbuatan-perbuatan maksiat, karena kita yakin dalam setiap perbuatan maksiat meskipun itu kecil dan tidak terlihat oleh mata manusia, tetapi ia pasti dilihat oleh mata Allah SWT, dan di akherat nanti ia harus berhadapan dengan hari perhitungan Allah yang maha dahsyat. Kita yakin bahwa tidak ada satu perkara pun yang luput dari perhitungan Allah SWT.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ شُعْبَةً وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنْ الْإِيمَانِ (رواه مسلم)

Dari Abu Hurairah ra bahwa Nabi Saw bersabda: “Iman itu ada tujuh puluh sekian cabang, dan rasa malu adalah termasuk (salah satu cabang) keimanan.” (HR. Muslim, hadits no 50)

Hikmah Hadits :
1. Iman ibarat sebatang pohon yang memiliki akar kokoh yang mencengkram jauh ke dalam bumi, ibarat pohon dengan dahan kuat yang indah nan rimbun dan menjulang tinggi ke angkasa, dan ibarat pohon yang senantiasa menghasilkan buah yang memberikan manfaat kebaikan pada manusia. Itulah buah keimanan, yang dalam bahasa lainnya disebutkan dengan istilah cabang-cabang keimanan. Dan Nabi Saw bersabda kepada kita, bahwa cabang2 keimanan sangatlah banyak, mencapai tujuh puluh sekian cabang.

  1. Rasa malu, adalah salah satu cabang dari iman. Rasa malu yang berpangkal dari iman, adalah malu dalam berbuat, berbicara, bertindak, bersikap yang menyalahi nilai2 dan dasar2 keimanan. Maka orang yang beriman, selalu bertutur kata yang baik dan santun, bukan kasar dan keras. Ia malu jika bertutur kata kotor, keras dan kasar. Orang yang beriman selalu bertindak tanduk yang baik dan santun, ia akan malu jika bersikap congkak dan sombong. Orang yang beriman akan selalu berakhlak yang baik, ia malu jika berakhlak dan berperangai buruk. Dasar dari rasa malunya adalah karena iman.
  2. Cabang dan buah keimanan lainnya sangatlah banyak, yang pada intinya segala hal yang baik, bermanfaat bagi orang lain serta diridhai Allah Swt adalah buah dari keimanan. Ada ungkapan menarik dari seorang ulama, tentang buah keimanan yg dikaitkan dengan buah pepohonan,  “Jadilah kalian seperti sebatang pohon ketika berinteraksi dengan orang lain. Ketika orang melempari pohon dengan bebatuan, namun pohon membalasnya dengan menjatuhkan buah2an.”Wallahu A’lam 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: