Orang Mukmin Jangan Meminta-Minta

Orang Mukmin Jangan Meminta-Minta. Manusia adalah makhluk Allah yang paling sempurna. Selain dibekali dengan anggota badan yang sempurna ia juga dibekali dengan hati dan pikiran. Hati dan pikiran yang diberikan Allah harus dijaga dengan baik agar ia dapat menjalankan fungsinya. Jika tidak maka fungsi hati dan pikiran tidak dapat bekerja dengan baik. Begitu pula anggota badan juga harus dijaga agar mereka semua dapat bekerja dengan sempurna.

Setelah Allah memberikan kesehatan akal, badan, dan hati kepada manusia, ia dituntut untuk bersyukur kepada-Nya. Allah telah berfirman bahwa barangsiapa yang bersyukur maka Allah akan menambahkan nikmat-Nya, namun jika ia kufur maka adzab Allah sangatlah pedih. Termasuk cara bersyukur kepada Allah atas nikmatnya anggota badan adalah menggunakannya untuk hal-hal yang baik. Hal-hal yang baik adalah hal-hal yang dikatakan baik oleh Allah dan Rasulullah SAW. Dan termasuk hal baik itu adalah menggunakan kekuatan badan untuk bekerja menjemput rizki atau mencari nafkah.

Orang yang sehat anggota badannya dituntut untuk bekerja untuk menghidupi diri dan keluarganya. Dikatakan di dalam hadits nabi bahwa makanan yang dimakan dengan usahanya sendiri lebih banyak berkahnya. Juga dikatakan bahwa ada sebagian dosa yang tidak bisa dihapus kecuali dengan bekerja mencari nafkah. Juga dikatakan bahwa setiap keringat yang menetes ketiak ia bekerja bernilai pahala yang besar.

Oleh karena itu agama Islam sangat melarang kepada orang yang berjalan dari satu pintu ke pintu lainnya untuk meminta makanan. Seharusnya ia bekerja lalu meminta kepada Allah, bukan kepada manusia. Seseorang yang menjadikan manusia tempat meminta berarti telah menjadikannya sebagai tuhan. Dan orang yang menuhankan manusia berarti telah menyekutukan Allah SWT. Sungguh Allah tidak mengampuni dosa syirik sebelum ia bertaubat.

Kesusahan yang dirasakan oleh orang yang tamak kepada Allah tidak hanya nanti di akherat, tetapi juga di dunia. Ketika di dunia ia telah menjadi orang yang hina. Banyak orang yang meremehkannya karena ia sendiri telah menjual kehormatannya. Seolah-olah ia adalah budak yang tak bernilai, padahal sudah tidak ada budak lagi di dunia ini.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَيْسَ الْمِسْكِينُ بِهَذَا الطَّوَّافِ الَّذِي يَطُوفُ عَلَى النَّاسِ فَتَرُدُّهُ اللُّقْمَةُ وَاللُّقْمَتَانِ وَالتَّمْرَةُ وَالتَّمْرَتَانِ، قَالُوا فَمَا الْمِسْكِينُ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ الَّذِي لَا يَجِدُ غِنًى يُغْنِيهِ وَلَا يُفْطَنُ لَهُ فَيُتَصَدَّقَ عَلَيْهِ وَلَا يَسْأَلُ النَّاسَ شَيْئًا (رواه مسلم)

Dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah Saw bersabda, Bukanlah orang miskin itu orang yang berkeliling meminta-minta kepada manusia, lalu ia diberi sesuap atau dua suap makanan, atau sebutir dua butir kurma.” Para sahabat bertanya, “Jika demikian, seperti apakah orang yang miskin itu?” Beliau menjawab: “Sesungguhnya orang miskin itu adalah mereka yang tidak memiliki apa-apa untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, namun keadaannya tidak diketahui orang lain, agar orang bersedekah padanya, serta ia tidak pula meminta-minta ke sana ke mari.” (HR. Muslim, hadits no. 1722)

Hikmah Hadits ;
1. Akhlak dan etika yang baik, yang diajarkan oleh Nabi Saw kepada umatnya agar mereka tidak meminta-minta kepada orang lain, demi mengharap belas kasihan mendapatkan sesuap dua suap makanan atau mengaharapkan pemberian. Karena sesungguhnya meminta-minta, bukanlah merupakan sifat yang terpuji, dan oleh karenanya hendaknya dihindari, sebisa mungkin.

  1. Bahwa orang yang suka meminta-minta, berkeliling mengharapkan pemberian orang lain, pada hakekatnya mereka bukanlah orang yang benar-benar miskin. Karena bisa jadi sikap mentalnya lah yang membuatnya suka meminta, dan hilang kemandiriannya dalam mencari ma’isyah (nafkah kebutuhan hidup), padahal bisa jadi kehidupannya tidak benar2 miskin. Adapun orang miskin adalah orang yang tidak memiliki apapun untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, tiada satupun yang dapat menafkahinya namun mereka “malu” untuk meminta atau menerima pemberian orang lain. Kepada mereka yang seperti inilah seharusnya pemberian seperti infak sedekah disalurkan. Meskipun di sisi lainnya, kita juga tidak boleh membentak atau menghardik orang yang datang dan meminta sesuatu kepada kita, karena membentak dan menghardik juga bukan sifat yang terpuji. Jika ingin memberi, berilah dengan baik namun jika akan menolaknya, maka tolaklah juga dengan bahasa dan ungkapan yang baik pula, sebagaimana firman Allah Swt, “Dan terhadap orang yang minta-minta, janganlah kamu menghardiknya.” (QS. 93 : 10)
  2. Pentingnya peran Lembaga Amil Zakat, yang amanah dan profesional dalam menyalurkan zakat infak shadaqah masyarakat, agar disalurkan kepada yang benar2 berhak menerimanya, yaitu kepada orang2 yang benar miskin namun mereka malu untuk meminta-minta. Semoga Allah Swt menjadikan kita semua sebagai orang2 yang dihiasi dengan sifat, akhlak dan etika yang baik, serta diberikan keberkahan dalam harta dan rizki kita.. Amiiin Ya Rabbal Alamiin.

Wallahu A’lam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: