Meski Telah Shalat Tetapi Dianggap Belum Shalat, Mengapa?

Meski Telah Shalat Tetapi Dianggap Belum Shalat, Mengapa?. Rasulullah SAW bersabda bahwa shalat adalah tiang agama, barangsiapa yang menegakkan shalat maka ia telah menegakkan agama, dan barangsiapa yang meninggalkan shalat maka ia telah menghancurkan agama. Begitu pentingnya kedudukan shalat di dalam Islam, yang mungkin bisa diibaratkan kepala dari badan manusia. Rasulullah SAW juga bersabda bahwa amalan yang pertamakali dihisab di hari kiamat kelak adalah shalat, jika shalatnya baik maka amalan yang lain dianggap baik, tetapi jika shalatnya buruk maka amalan yang lain dianggap buruk.

Keutamaan shalat diantara amal ibadah yang lain juga ditunjukkan dengan mi’raj nabi Muhammad SAW. Dimana ketika nabi Muhammad bertemu dengan Allah, shalat lima waktulah yang diperintahkan Allah secara langsung kepada nabi Muhammad untuk dilakukan. Hal ini berbeda dengan amal ibadah lainnya yang perintah Allah kepada nabi Muhammad melalui wahyu yang dibawa oleh Malaikat Jibril AS.

Oleh karena itu dikatakan bahwa Shalat adalah mi’rajnya orang mukmin. Umat Muhammad tidak akan bisa mengikuti mi’raj nabi Muhammad dan masuk ke ’Arsy Allah SWT, akan tetapi hati dan ruh umat Muhammad bisa merasakannya. Apabila seseorang mengerjakan shalat dengan sempurna, dengan memperhatikan syarat dan rukunnya juga kesunahannya maka ia akan bisa bertemu dengan Allah dan Rasulullah SAW.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ الْمَسْجِد،َ فَدَخَلَ رَجُلٌ فَصَلَّى ثُمَّ جَاءَ فَسَلَّمَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَرَدَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ السَّلَامَ، قَالَ ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَل،ِّ فَرَجَعَ الرَّجُلُ فَصَلَّى كَمَا كَانَ صَلَّى، ثُمَّ جَاءَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَلَّمَ عَلَيْه،ِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَيْكَ السَّلَام،ُ ثُمَّ قَالَ ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ، حَتَّى فَعَلَ ذَلِكَ ثَلَاثَ مَرَّات،ٍ فَقَالَ الرَّجُلُ وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ مَا أُحْسِنُ غَيْرَ هَذَا، عَلِّمْنِي، قَالَ إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلَاةِ فَكَبِّرْ ثُمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنْ الْقُرْآن،ِ ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْتَدِلَ قَائِمًا، ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا، ثُمَّ افْعَلْ ذَلِكَ فِي صَلَاتِكَ كُلِّهَا (رواه مسلم)

Dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah Saw memasuki sebuah masjid, lalu seorang laki-laki datang & melaksanakan shalat. Kemudian dia mengucapkan salam kepada Rasulullah Saw. Maka Rasulullah Saw membalas salamnya seraya berkata, ‘Kembalilah, ulangilah shalatmu, karena sesungguhnya kamu belum shalat. Lalu ia kembali dan shalat sebagaimana sebelumnya dia shalat. kemudian ia mengucapkan salam kepada beliau. Maka Rasulullah Saw menjawab, ‘Semoga keselamatan terlimpahkan kepadamu’ kemudian beliau bersabda lagi, ‘Kembalilah dan shalatlah lagi, karena kamu belum shalat’, hingga dia melakukan hal tersebut tiga kali. Lalu laki-laki tersebut berkata, ‘Demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak dapat melakukan yang lebih baik selain daripada ini, ajarkanlah kepadaku.’ Beliau bersabda, ‘Apabila kamu mendirikan shalat, maka bertakbirlah, kemudian bacalah sesuatu yang mudah dari al-Qur’an, kemudian ruku’lah hingga bertuma’ninah dalam keadaan ruku’. Kemudian angkatlah (kepalamu dari ruku’) hingga lurus berdiri, kemudian sujudlah hingga bertuma’ninah dalam keadaan sujud, kemudian angkatlah hingga bertuma’ninah dalam duduk, kemudian lakukan hal tersebut dalam shalatmu semuanya’.” (HR. Muslim, hadits no. 602)

Hikmah Hadits ;

  1. Pentingnya thumaninah (tenang,  perlahan dan tidak tergesa-gesa) dalam mengerjakan shalat. Bahkan, menurut pendapat ulama Malikiyah, thuma’ninah meruapakan salah satu rukun dalam shalat, yang apabila ditinggalkan maka mengakitbatkan tidak sahnya shalat yang dikerjakan oleh seseorang.
  2. Hal ini sebagaimana digambarkan dalam riwayat di atas, ketika ada seorang laki-laki yang mengerjakan shalat namun tidak thuma’ninah, ia terburu-buru sehingga tidak sempurna takbirnya, ruku’nya, sujudnya, dan bacaannya. Maka seolah Nabi Saw mengatakan kepadanya bahwa shalatnya tidak sah dan Nabi Saw memerintahkannya untuk mengulangi shalatnya. Namun ketika mengulangi shalatnya ia pun masih melakukan hal yang sama seperti shalat sebelumnya. Maka Nabi Saw pun kembali menyuruhnya untuk kembali mengulangi shalatnya, hingga 3 kali seperti itu. Maka tidakkah terbayang oleh kita, apabila kita mengerjakan shalat, seperti shalat tarawih misalnya, lalu kita tergesa-gesa mengerjakannya, hanya berharap agar cepat selesai dengan meninggalkan kethuma’ninahan. Tentu kita tidak berharap kalau kita dianggap seperti tidak melaksanakan shalat sama sekali, atau shalat kita menjadi tidak sah oleh karenanya.
  3. Maka oleh karenanya, hendaknya kita berusaha untuk mengerjakan shalat secara thuma’ninah, sebagaimana dipesankan Nabi Saw dalam hadits di atas, yaitu dengan menyempurnakan dan thuma’ninah dalam takbir, ruku’, i’tidal, sujud, dan juga dalam bacaan shalat kita, agar shalat kita adalah shalat yang diterima dan diridhai Allah Swt. Ya Allah terimalah shalat kami dan seluruh amal ibadah kami, khususnya ibadah yg kami lakukan di bulan Ramadhan ini… Amiiin Ya Rabbal Alamiin.Wallahu A’lam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: