Menyeimbangkan Hablum Mina Allah (Hubungan Dengan Allah) Dan Hablum Mina An Naas (Hubungan Dengan Manusia)

Menyeimbangkan Hablum Mina Allah (Hubungan Dengan Allah) Dan Hablum Mina An Naas (Hubungan Dengan Manusia). Tujuan pencintaan manusia di dunia ini hanyalah untuk menyembah kepada Allah. Dalam menyembah ada tata cara dan aturan yang telah diajarkan oleh utusan Allah yang telah menerima wahyu dari Allah melalui Malaikat Jibril AS. Ada ibadah yang berfungsi untuk menjaga ketersambungan dan hubungan baik dengan Allah SWT dan ada pula yang berfungsi untuk menjaga hubungan baik dengan sesama makhluk. Keduanya harus dilakukan secara seimbang jika seseorang ingin menjadi muslim yang sempurna.

Hubungan dengan Allah ditunjukkan dengan ibadah diantaranya shalat, haji, puasa, dan dzikir. Sedangkan hubungan dengan sesama manusia ditunjukkan dengan tersenyum, menghargai hak-hak mereka, menjaga kenyamanannya, dst. Jika kita melaksanakan shalat diusahakan agar shalat kita tidak memberatkan orang lain. Misalnya ketika kita menjadi imam dalam shalat berjama’ah maka kita tidak boleh terlalu panjang dalam membaca surat, karena menghormati hak-hak makmum yang memiliki kepentingan yang berbeda-beda setelah mereka menjalankan shalat. Ketika sedang mengadakan dzikir dengan berjama’ah maka usahakan tidak ada tetangga yang merasa terusik karena kerasnya suara dzikir yang dibaca, dst. Itu semua adalah tata cara yang dianjurkan oleh Rasulullah untuk dijalankan oleh umatnya.

Oleh karena itu kita harus memahami bahwa ibadah bukan hanya ritual shalat, wirid, membaca al-Qur’an, dsb sebagaimana yang dipahami oleh sebagian orang. Padahal ibadah itu mencakup wilayah yang sangat luas. Dalam kehidupan sosial di masyarakat kita akan menemukan berbagai macam ibadah yang apabila kita benar dalam berniat maka kita akan mendapatkan pahala ibadah. Menyingkirkan batu di jalan adalah ibadah, tersenyum ibadah, meminjami uang ibadah, menjenguk orang yang sakit ibadah, menghadiri undangan ibadah, menyalati jenazah ibadah, memberi ibadah, menasehati ibadah, bercengkrama untuk menyenangkan hati orang lain juga ibadah. Oleh karena itu setelah kita memahami apa itu ibadah maka hendaknya janganlah ibadah ritual kita kepada Allah menghalangi kita untuk melaksanakan ibadah-ibadah yang lain. Bukankah nabi bersabda bahwa Allah senantiasa akan menolong hamba-Nya selama hamba itu menolong saudaranya. Bukankah Rasulullah juga bersabda, ‘hendaklah kalian saling bertukar hadiah, karena dengan hal itu kalian akan saling mencintai’. Bukankah Rasulullah juga bersabda bahwa senyummu di depan wajah saudaramu adalah sedekah. Dan masih banyak hadits-hadits yang menganjurkan untuk menjaga hak-hak kemanusiaan.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَلَمْ أُخْبَرْ أَنَّكَ تَقُومُ اللَّيْلَ وَتَصُومُ النَّهَار؟َ قُلْتُ إِنِّي أَفْعَلُ ذَلِك،َ قَالَ فَإِنَّكَ إِذَا فَعَلْتَ ذَلِكَ هَجَمَتْ عَيْنَاكَ وَنَفِهَتْ نَفْسُك،َ لِعَيْنِكَ حَقٌّ، وَلِنَفْسِكَ حَقٌّ، وَلِأَهْلِكَ حَق،ٌّ قُمْ وَنَمْ وَصُمْ وَأَفْطِرْ (رواه مسلم)


Dari Abdullah bin Amru bin Ash ra, bahwa Rasulullah Saw bersabda kepadaku, “Bukankah telah dikabarkan kepadaku, bahwa kamu itu selalu shalat sepanjang malam, dan selalu berpuasa sunnah sepanjang hari?” Aku menjawab, “Benar, wahai Rasulullah, aku telah melakukan hal tersebut.” Kemudian beliau bersabda,  “Sungguh, jika kamu melakukan hal itu, maka kedua matamu akan binasa. Kedua matamu mempunyai hak atas dirimu, dan keluargamu juga mempunyai hak atas dirimu. Karena itu, hendaklah kamu bangun (shalat lail) dan tidurlah. Kemudian berpuasalah kamu dan juga berbukalah.” (HR. Muslim, hadits no. 1968)

Hikmah Hadits ;
1. Keutamaan sahabat Nabi Saw yaitu Abdullah bin Amru bin Ash, yang sangat antusias dan semangat dalam menjalankan ibadah. Bahkan karena demikian semangatnya, sampai-sampai beliau selalu berpuasa sunnah setiap hari, hingga tiada hari yg beliau tidak berpuasa, dan selalu shalat malam sepanjang malam, hingga setiap malam beliau tidak tidur sepanjang malam.

  1. Namun ternyata Nabi Saw justru menegur dan melarang beliau melakukan hal seperti itu. Karena selalu berpuasa setiap hari dan atau selalu shalat sepanjang malam hingga tidak pernah tidur, akan menimbulkan mudharat pada anggota tubuh seperti mata, badan dan anggota2 tubuh lainnya, serta juga bisa berakibat pada mengabaikan hak2 pada diri dan keluarga, seperti hak2 terhadap istri, dsb. Menimbulkan mudharat pada tubuh, dan melalaikan hak2 badan dan keluarga adalah termasuk perbuatan tercela, maka oleh karenanya Nabi Saw melarangnya.
  2. Bahwa tujuan utama hidup di dunia ini adalah untuk ibadah kepada Allah Swt. Maka sudah sepatutnya segala hidup dan aktivitas kita, demikian juga segala amal dan obsesi kita, benar2 harus kita berikan sepenuhnya hanya untuk Allah Swt. Namun yang perlu menjadi perhatian adalah, bahwa jangan pula karena alasan ibadah lantas kita mengabaikan hak2 tubuh dan hak2 keluarga kita. Karena menunaikan hak dan kewajiban dalam kehidupan juga merupakan ibadah kepada Allah Swt.

Mudah2an kita semua termasuk hamba-hamba Allah yang selalu ibadah kepada-Nya dan juga selalu menunaikan hak dan kewajiban lainnya… Amiin Ya Rabbal Alamiin.

Wallahu A’lam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: