Menjunjung Tinggi Nilai-Nilai Luhur Dalam Kehidupan

Menjunjung Tinggi Nilai-Nilai Luhur Dalam Kehidupan. Islam adalah agama yang menyelamatkan manusia baik di dunia maupun di akherat. Barangsiapa yang memegang teguh nilai-nilai keislamannya maka ia akan menyelamatkan dan diselamatkan. Nilai-nilai keislaman adalah nilai-nilai yang luhur yang telah dicontohkan dan diajarkan oleh panutan manusia se-jagat, Rasulullah SAW. Kejujuran, kedermawanan, kasih sayang, menghargai, tolong-menolong, melindungi kaum lemah, toleransi, menjaga persatuan dan persaudaraan, dll. Oleh karena itu apabila ada orang Islam yang mengaku sebagai umat nabi Muhammad namun ia tidak menjunjung tinggi nilai-nilai di atas maka jangan dipercaya pengakuannya.

Orang akan merasa damai apabila ia bekerja sama dengan orang yang jujur. Orang akan merasa selamat jika ia dekat dengan orang yang memiliki sifat kasih dan sayang. Orang akan merasa simpati jika ia menunjukkan kedermawananya. Orang akan kagum dengan orang yang berani membela kaum yang lemah dan tertindas. Orang akan merasa bangga kepada orang yang menegakkan persatuan dan persaudaraan antar sesama manusia. Orang akan senang kepada orang yang suka menolong, dst. Itulah Islam yang mendorong manusia untuk mengaplikasikan nilai-nilai luhur semua itu. Sehingga tidak heran jika Islam itu meneylamatkan, Islam itu membuat simpati bagi banyak orang, Islam membuat banyak orang kagum padanya, Islam membuat bangga alam semesta, islam itu menyenangkan, dst.

Apabila setiap muslim menerapkan nilai-nilai luhur itu dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa maka kemajuan peradaban Islam yang dicita-citakan akan segera terwujud. Umat Islam akan menjadi umat yang maju dalam segala hal hingga mengalahkan umat-umat yang lain. Dan inilah janji Allah yang pasti akan terlaksana. Oleh karena itu untuk mempersiapkan hal itu dibutuhkan orang-orang yang menjunjung tinggi nilai-nilai luhur itu meskipun keadaan umat Islam saat ini masih jauh dari yang diharapkan.

Apa yang terjadi saat ini di beberapa negara Islam sangat menusuk dada. Dimana persaudaraan yang mereka dengungkan di dalam mimbar-mimbar mereka, dimana toleransi yang mereka pelajari di madrasah-madrasah, dimana saling menghargai yang ada dalam hadits-hadits yang mereka kaji, dimana kejujuran yang katanya itu adalah sifat para nabi panutan mereka, dimana kasih sayang yang katanya sifat para sahabat dan para ulama (orang-orang yang mereka jadikan panutan). Demi Allah!, sesungguhnya yang mennjadi panutan mereka bukanlah para nabi dan orang-orang sholeh, tetapi yang menjadi panutan mereka adalah syetan dan hawa nafsu mereka. Dunia, kepentingan, pengaruh, kekuasaan, nama golongan, kegagahan, dan kesombonganlah berhala-berhala yang mereka sembah setiap hari. Hingga mereka tega menipu, menyakiti, bahkan mengalirkan darah saudaranya sendiri. Sehingga mereka bukanlah golongan nabi Muhammad SAW.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ عَلَى صُبْرَةِ طَعَامٍ، فَأَدْخَلَ يَدَهُ فِيهَا، فَنَالَتْ أَصَابِعُهُ بَلَلًا، فَقَالَ مَا هَذَا يَا صَاحِبَ الطَّعَامِ؟ قَالَ أَصَابَتْهُ السَّمَاءُ يَا رَسُولَ اللَّه،ِ قَالَ أَفَلَا جَعَلْتَهُ فَوْقَ الطَّعَامِ كَيْ يَرَاهُ النَّاسُ؟ مَنْ غَشَّ فَلَيْسَ مِنِّي (رواه مسلم)

Dari Abu Hurairah ra berkata, bahwa Rasulullah melewati (pedagang) dengan setumpuk makanan, lalu beliau memasukkan tangannya ke dalam tumpukan makanan terebut. Lalu beliau mendapati jari2 beliau basah, maka beliau bertanya: “Apa ini wahai pemilik makanan?” Sang pemiliknya menjawab, “Makanan tersebut terkena air hujan wahai Rasulullah.” Beliau bersabda: “Mengapa kamu tidak meletakkannya di bagian makanan agar manusia dapat melihatnya. Barangsiapa menipu maka dia bukan dari golongan kami.’ (HR. Muslim, hadits no 147)

Hikmah Hadits

  1. Bahwa muamalah merupakan bagian terbesar dalam kehidupan manusia. Karena memang dalam keseharian kehidupannya, manusia menghabiskan sebagian besar waktunya untuk bermuamah, seperti untuk bekerja, perjalanan menuju dan kembali dari tempat kerjanya, jual beli, interaksi dengan rekan bisnis, rekan kerja, bergaul dengan masyarakat, dsb. Namun yang lebih penting untuk kita ingat adalah bahwa muamalah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari ajaran agama Islam, sebagaimana ibadah dan juga akhlaqul karimah.
  2. Maka oleh karenanya setiap kita perlu berhati2 dalam muamalah. Karena ketidak hati2an dalam muamalah, dapat menjadikan seseorang terjerumus pada perbuatan dosa, yang kelak akan merugikannya di akhirat. Lihatlah, bagaimana Nabi Saw menegur keras seorang sahabat pedagang makanan, yang ternyata di bagian dalam dari tumpukan makanan yang dijualnya tersebut basah terkena air hujan. Menyembunyikan makanan basah diantara makanan yg kering adalah masuk dalam kategori “kecurangan”, yang dilarang dalam Islam.
  3. Bahkan dampak dari kecurangan dalam muamalah tersebut ternyata sangatlah berat. Nabi Saw bersabda kepada pedagang yg melakukan kecurangan tsb, “Barang siapa yang menipu (berbuat curang) kepada kami, maka ia bukan termasuk golongan  kami”. Seolah Nabi Saw mengkategorikan orang yang berbuat curang dalam muamalah adalah bukan termasuk golongan kaum muslimin. Bayangkan, betapa dampak dan dosa dalam muamalah sangatlah berat. Maka, jangan sampai kita terjerumus pada bentuk muamalah yg diharamkan tersebut, dan hendaknya setiap bentuk transaksi dilakukan, benar-benar dilakukan sesuai dengan prinsip-prinsip syariah.Wallahu A’lam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: