Mengingat Allah Dalam Setiap Nikmat Yang Dirasakan

Mengingat Allah Dalam Setiap Nikmat Yang Dirasakan. Ada manusia yang hijab hatinya telah dibuka oleh Allah, dan ada pula manusi yang hatinya masih terhijab, dan inilah yang terjadi pada kebanyak manusia. Orang yang hatinya telah terbebas dari hijab akan merasakan Allah di dalam segala sesuatu dan di segala perstiwa. Bahwa Allahlah yang mewujudkan, meniadakan, mendiamkan menggerakkan, menghidupkan, mematikan, meninggikan, merendahkan, memuliakan, menghinakan, mengindahkan, menjelekkan, membesarkan, mengecilkan, menyehatkan, memtaikan, mengkayakan, memiskinkan, memasyhurkan, mengkerdilkan, mengislamkan, mengkafirkan, dst.

Tidak ada daya dan kekuatan kecuali daya dan kekuatan Allah SWT. Tidak ada yang terjadi di alam semesta ini kecuali karena kehendak-Nya. Tidak ada yang wujud melainkan diwujudkan Allah, tidak ada yang hidup kecuali dihidupkan oleh Allah, tidak ada yang mati kecuali dimatikan oleh Allah. Tidak ada yang mulia kecuali dimuliakan oleh Allah, dan tidak ada yang hina kecuali dihinakan oleh-Nya. Allah lah pemeran satu-satunya di alam semesta ini. Dialah satu-satu-Nya dalang sedangkan para makhluk adalah wayang-wayang yang tanpa daya dan upaya. Wayang tidak bergerak jika tidak digerakkan, wayang tidak terbang jika tidak diterbangkan, wayang tidak bicara jika tidak dibicarakan, dst. Dialah Allah Dzat yang maha berkuasa atas segala sesuatu.

Orang yang terbuka hija hatinya akan melihat bahwa segala sesuatu berasal dari Allah SWT. Ketika ketataatan dan ketaqwaan menghampiri dirinya ia tidak menganggap bahwa ini semua adalah karena dirinya memang orang sholeh yang layak mendapatkan surga. Ketika kekeliruan dan kemaksiatan menghampirinya maka ia akan cepat-cepat mengakui kesalahannya lalu beristighfar memohon ampun agar segera dikeluarkan dari kondisi itu pada kondisi yang lebih baik. Ketika kenikmatan menghampirinya maka ia mengingat pada sang pemberi nikmat, bahwa nikmat ini tidak mungkin datang dengan sendirinya tetapi ia pasti datang dari Allah SWT, sehingga ia segera bersyukur dengan menjalankan ketaatan kepada-Nya. Ketika musibah menghampirinya ia terima dengan penuh kesabaran dan keridhoan, karena ia tahu bahwa musibah ini datang dari Dzat yang Maha Baik, dan apa pun yang dilakukan-Nya pasti memilki hikmah dan tujuan yang juga baik. Adapun orang yang hatinya masih terhijab akan bertindak sebaliknya, ia akan menyombongkan diri dengan ketaatan, menyalahkan tuhan ketika bermaksiat, kufur nikmat, dan berkeluh kesah ketika ditimpa musibah.

عن ابْن عَبَّاسٍ قَالَ مُطِرَ النَّاسُ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَصْبَحَ مِنْ النَّاسِ شَاكِرٌ وَمِنْهُمْ كَافِرٌ، قَالُوا هَذِهِ رَحْمَةُ اللَّهِ، وَقَالَ بَعْضُهُمْ لَقَدْ صَدَقَ نَوْءُ كَذَا وَكَذَا، قَالَ فَنَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ { فَلَا أُقْسِمُ بِمَوَاقِعِ النُّجُومِ حَتَّى بَلَغَ وَتَجْعَلُونَ رِزْقَكُمْ أَنَّكُمْ تُكَذِّبُونَ } (رواه مسلم)

Dari Ibnu Abbas ra berkata, “Suatu ketika manusia diberi hujan pada masa Nabi Saw, lalu beliau bersabda, “Dengan hujan ini, ada diantara manusia menjadi hamba yang bersyukur, dan ada pula yang menjadi kufur. Sebagian mereka berkata, ‘Hujan ini adalah sebuah bukti rahmat dari Allah Swt.’ Namun sebagian yang lain berkata, ‘Bahwa (ramalan) bintang ini dan bintang ini sungguh telah benar (sebab terjadinya hujan)’.” Ibnu Abbas berkata, “Kemudian turunlah ayat: ‘(Maka Aku bersumpah dengan tempat bagian-bagian bintang) ‘, sampai ayat: ‘(dan kamu mengganti rezki (yang Allah berikan) dengan mendustakan Allah) ‘ (Qs. Qs. Al Waaqi’ah: 75-82). (HR. Muslim, hadits no 107)

Hikmah Hadits ;

  1. Hujan merupakan salah satu nikmat sekaligus sebagai tanda, diantara tanda2 kebesaran Allah Swt. Maka hendaknya setiap kita bersyukur ketika setiap tetes rintik hujan mulai turun membasahi bumi. Bahkan seuntai doa dianjurkan untuk dilantunkan ketika airnya telah turun menghiasi alam, dengan doa, ‘Allahumma Shayyiban Naafi’a’ (Ya Allah, jadikanlah hujan ini bermanfaat).
  2. Namun ternyata terhadap nikmat dan anugerah dari Allah Swt tersebut, manusia terbagi menjadi dua golongan ; pertama golongan yang bersyukur, yaitu orang2 yang ketika datangnya nikmat dari Allah Swt, mereka mensyukurinya dan menisbatkannya kepada Allah Swt, dengan meyakini bahwa segala nikmat yang ada adalah anugrah Allah Swt. Sementara golongan yang kedua adalah golongan kufur, yaitu orang2 yang ketika datangnya nikmat dari Allah, mereka justru mengaitkannya dengan hal2 lain selain Allah Swt, seperti mengaitkannya dengan angka2 keberuntungan tertentu, hoki, atau ramalan2 bintang tertentu dan tidak mengaitkannya dengan Allah Swt. Mengaitkan nikmat dengan hal2 tersebut, ternyata merupakan perbuatan kekufuran dan kemusyrikan.
  3. Maka sebagai hamba yang telah mematrikan iman di dalam hati, hendaknya setiap kita selalu mengaitkan segala nikmat dan anugrah yang didapatkan, hanya kepada Dzat Yang Telah Memberikan Nikmat, yaitu kepada Allah Swt. Bahwa semua nikmat yang didapat, terjadi atas izin dan kehendak-Nya. Sehingga dengan demikian, maka insya Allah semakin usia bertambah, semakin anugerah dan nikmat berlimpah, akan semakin mendekatkan diri kita kepada Allah Swt. Ya Allah, jadikanlah kami semua sebagai hamba2-Mu yang srnantiasa bersyukur atas segala nikmat dan karunia-Mu, dan hindarkanlah kami semua dari sifat dan perbuatan yang mengantarkan pada kekufuran dan kemusyrikan… Amiiin Ya Rabbal Alamiin.Wallahu A’lam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: