Menghormati Orang Lain Adalah Perintah Allah

Menghormati Orang Lain Adalah Perintah Allah. Allah SWT adalah Tuhan yang memuliakan manusia. Hal ini dibuktikan bahwa Allah telah menyediakan segala fasilitas yang mereka butuhkan selama mereka hidup di dunia ini. Allah memberi mereka makanan dan minuman, pakaian, tempat tinggal, dll. Tidak ada satu manusia pun yang rizkinya dilupakan Allah SWT. Oleh karena itu Allah juga memerintahkan manusia untuk memuliakan sesamanya. Nabi SAW bersabda, ‘diharamkan bagi seorang muslim untuk menumpahkan darah, mengambil harta, dan merusak nama baik dan kehormatan muslim lainnya’.

Membunuh seorang muslim adalah dosa besar. Barangsiapa yang berani membunuh saudaranya maka ia juga harus dibunuh, dan di akherat nanti Allah memiliki keputusan sendiri, apakah Ia akan menyiksanya atau mengampuninya. Orang yang nekat mengambil harta milik orang lain -jika memenuhi syarat potong tangan- maka ia akan dihukum potong tangan, dan di akherat nanti ia diserahkan kepada Allah, apakah Allah akan menghukumnya atau mengampuninya. Dan orang yang tega menghancurkan nama baik dan kehormatan saudaranya maka ia harus bersiap untuk menerima balasan yang lebih kejam di akherat kelak. Kehormatannya akan dihancurkan Allah SWT dengan siksa neraka, na’udlibillahi min dzaalik.

Tidak ada perbuatan haram yang dilakukan kecuali ia akan mendatangkan akibat buruk pada pelakunya, baik di dunia maupun di akherat. Oleh karena itu kesabaran adalah senjata yang harus senantiasa dibawa oleh seorang muslim dalam kondisi bagaimanapun. Jangan sampai ia termakan oleh godaan hawa nafsu dan bisikan syetan yang akan membawanya pada perbuatan haram yang akan membinasakan. Dunia hanyalah kenikmatan yang sedikit dan sebentar, orang yang beriman tentu akan memilih kenikmatan akherat yang banyak dan kekal.

Apabila ia terlanjur menyakiti hati atau menyinggung perasaan orang lain maka ia harus cepat-cepat untuk mengakui kesalahannya dan meminta maaf. Allah mengetahui bahwa manusia memiliki banyak kekurangan dan keterbatasan sehingga ia seringkali melakukan kesalahan-kesalahan, oleh karena itu Allah memerintahkan kepada orang yang berbuat salah untuk meminta maaf dan memrintahkan kepada orang yang disalahi agar menerima permintaan maaf dari saudaranya. Sesungguhnya Allah adalah Tuhan yang sangat luas sifat maaf-Nya. Kepada hamba-hamba-Nya yang telah lama tenggelam dalam kemaksiatan, Allah masih tetap memintanya untuk bertaubat. Dan apabila ia bertaubat dan meminta maaf tentu Allah akan menerima taubatnya dan memaafkannya.

Apabila Allah masih memaafkan kesalahan hamba-Nya yang memenuhi langit dan bumi, mengapa kita tidak memaafkan kesalahan saudara kita yang hanya melakukan kesalahan yang kecil. Justru jika kita tidak mau memafkan kesalahan orang lain maka kita telah bermaksiat kepada Allah sehingga Allah akan meminta pertanggung jawaban kita di akherat kelak. Sedangkan orang yang meminta maaf telah gugur kewajibannya dan ia tidak memiliki pertanggung jawaban apa-apa di akherat kelak. Karena tidak semua orang memiliki hati yang lapang untuk memafkan kesalahan orang lain, maka setiap orang dituntut untuk berhati-hati dalam menggunakan anggota badannya. Mata, telinga, mulut, kaki, tangan, dll harus berusaha kita gunakan untuk melakukan kebaikan, ibadah, amal sholeh, dan taqwa

عَنْ ابْنِ عُمَرَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ وَلَا يَخْطُبْ بَعْضُكُمْ عَلَى خِطْبَةِ بَعْضٍ (رواه مسلم)

Dari Ibnu Umar ra, bahwa Nabi Saw bersabda, “Janganlah sebagian kalian membeli barang yang telah ditawar orang lain. Dan janganlah pula sebagian kalian mengkhitbah (meminang) wanita yang telah dikhitbah oleh orang lain.” (HR. Muslim, hadits no. 2530)

Hikmah Hadits ;
1. Keluhuran dan kemuliaan akhlak dalam Islam, tidak terkecuali akhlak dalam bermuamalah, bahwa kita dilarang untuk menelikung hak milik orang lain. Dalam kasus hadits atas, kita tidak boleh membeli barang yang sedang atau sudah ditawar oleh orang lain. Kecuali apabila calon pembeli tidak jadi membelinya. Karena ia sudah menawarnya dan sudah deal dengan pembeli dan oleh karenanya ia lebih berhak terhadapnya.

  1. Demikian juga dalam kasus mengkhitbah atau meminang seorang wanita; seorang muslim tidak boleh melamar seorang muslimah yang sudah dilamar oleh orang lain. Karena jelas, si pelamar pertama lebih berhak atas lamarannya tersebut. Kecuali apabila sudah jelas si muslimah tersebut menolaknya (sebelum ada lamaran berikutnya), atau apabila si pelamar mengundurkan diri dari lamarannya. Jika seperti itu, barulah orang lain boleh mengkhitbahnya.
  2. Larangan tersebut dimaksudkan agar setiap muslim tidak mencederai hak dan kehormatan muslim lainnya, karena sesama muslim adalah haram; darahnya, hartanya dan kehormatannya. Dan menelikung hak muslim lainnya baik dalam muamalah, ataupun dalam khitbah serta dalam hal2 lainnya, adalah berarti mencederai kehormatannya. Maka, hendaknya kita senantiasa selalu berusaha untuk menjaga hak dan kehormatan saudara kita sesama muslim, dengan tidak “menelikung” hak2 muslim lainnya, tidak menghalangi hak2 orang lain, serta berusaha untuk tidak mendzalimi hak2 orang lain.Wallahu A’lam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: