Masuk Surga Atau Neraka Ada Di Tangan Allah SWT

Masuk Surga Atau Neraka Ada Di Tangan Allah SWT. Allah adaah Dzat yang memilki sifat Al-Qohhar (pemaksa) juga sifat Al-Jabbar (penunduk). Dengan sifat-sifat itu Allah akan memaksa seseorang untuk mendapatkan hidayah-Nya atau memaksanya untuk tidak mendaptkan hidayah-Nya. Allah berhak untuk memaksa seseorang untuk masuk surga juga berhak untuk memaksanya masuk ke neraka. Tidak ada seorang pun yang mampu menghalangi kehendak dan kuasa Allah SWT. Jika Allah telah memutuskan pasti terjadi dan terlaksana.

Dikatakan di dalam hadits qudsi bahwa sebelum Allah meletakkan sel-sel benih manusia -yang akan lahir setelah nabi Adam sampai hari kiamat- ke dalam badan nabi Adam, Allah berkata pada sebagian sel-sel benih itu, ‘ini akan menjadi penduduk surga dan Aku tidak peduli’. Lalu Allah berkata pada separuh sel lainnya, ‘ini akan menjadi penduduk neraka dan Aku tidak peduli’. Setiap manusia menginginkan menjadi penduduk surga, namun Allah memilki keinginan yang tidak bisa dicegah, ada sejumlah manusia yang nanti akan menjadi penduduk surga dan ada sejumlah manusia lain yang akan dimasukkan ke dalam neraka. Itu semua telah menjadi ketetapan-Nya yang tidak bisa diganggu gugat.

Meskipun demikian Allah tetap memerintahkan manusia untuk beramal, karena jika ia mau beramal baik maka Allah akan berkenan menurunkan rahmat-Nya. Dan jika rahmat-Nya telah turun pada seseorang maka itulah bukti bahwa orang itu kelak akan menjadi penduduk surga. Namun apabila Allah memerintahkan untuk beramal tetapi ia enggan menjawab panggilan Allah, dan ia malah asyik dengan keinginan-keinginan hawa nafsunya maka Allah tidak berkenan untuk menurunkan rahmat-Nya. Dan tercegahnya seseoranng dari rahmat-Nya menjadi tanda bahwa ia kelak akan menjadi bagian dari penduduk neraka, na’udlubillahi min dzalik.

Namun surga atau neraka memang Rahasia Allah, dan kebesaran kuasa Allah untuk memasukkan seseorang ke dalam surga atau neraka dapat kita baca dalam hadits nabi yang menceritakan bahwa ada seseorang yang selama hidupnya melakukan amalan penduduk surga, namun ketika tinggal satu jengkal lagi ia akan masuk ke dalam surga, ternyata ia ditakdirkan untuk melakukan perbuatan penduduk neraka, dan jadilah ia penduduk neraka. Sebaliknya, ada orang yang selama hidupnya mengamalkan amalan penduduk neraka, dan ketika tinggal sejengkal lagi akan masuk ke neraka ternyata takdir Allah telah menetapkan baginya untuk melakukan amalan penduduk surga, sehingga pada akhirnya ia termasuk ke dalam golongan penduduk surga. Semoga kita semua digolongkan ke dalam penduduk surga, amiin ya Rabbal Aalamin.


عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِعَمِّهِ عِنْدَ الْمَوْت،ِ قُلْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ أَشْهَدُ لَكَ بِهَا يَوْمَ الْقِيَامَة،ِ فَأَبَى فَأَنْزَلَ اللَّهُ { إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ } الْآيَةَ (رواه مسلم)

Dari Abu Hurairah ra berkata, “Rasulullah Saw bersabda kepada pamannya menjelang hari wafatnya, ‘Pamanku, ucapkanlah, ‘La ilaha illallah’ (tiada tuhan selain Allah), agar aku bisa bersaksi untukmu dengan kalimat tersebut pada hari kiamat kelak.” Namun pamannya menolaknya. Maka Allah Swt menurunkan firman-Nya, ‘(Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, akan tetapi Allah lah yang memberikan hidayah kepada siapa saja yang dikehendakinya).’ (QS. Al-Qashash: 56). (HR. Muslim, hadits no. 36)

Hikmah Hadits ;
1. Kecintaan Nabi Saw yang teramat sangat terhadap pamannya, yaitu Abu Thalib. Karena memang Abu Thalib lah yang merawat Nabi Saw sejak kecil sepeninggal orang tua dan kakek beliau. Kasih sayang Abu Thalib kepada Nabi Saw sangatlah besar, bahkan Nabi Saw lah yang sering didudukkan di pangkuan Abu Thalib di sisi Ka’bah, yang bahkan tak seorang pun dari anak kandungnya yang diperlakukan seperti itu. Abu Thalib juga lah yang selalu melindungi Nabi Saw dari tipu daya dan amarah kafir Qurays yang berusaha menyakiti Nabi Saw. Dan masih banyak lagi curahan kasih sayang Abu Thalib yang dilimpahkan kepada keponakannya tersebut, Nabi Muhammad Saw. Maka tak heran, jika Nabi Saw sangat menyayangi paman kandungnya tersebut, melebihi rasa sayang beliau kepada orang lain.

  1. Namun ternyata, betapapun cinta dan kasih sayang beliau kepada pamannya yang sangat tinggi, dan betapapun istijabahnya (mudah dikabulkannya) doa beliau kepada Allah Swt, namun hidayah adalah hak mutlak Allah Swt. Hingga kendatipun beliau di sisi pamannya menjelang hari wafatnya, walau segenap curahan rasa sayang yang beliau limpahkan kepada pamannya menjelang hembusan nafas terakhirnya, dan walaupun bahasa terindah, cara tersantun, serta ungkapan hati yang paling mendalam yang beliau sampaikan kepada pamannya, agar sang paman mau mengucapkan kalimat La Ilaha Illallah. Namun sekali lagi, hidayah adalah milik Allah Swt. Sang paman, tidak mau mengucapkan kalimat tersebut, hingga detik dan hembusan nafas terakhir mengiringinya.
  2. Maka, sudah sepatutnya kita bersyukur atas nikmat hidayah yang Allah berikan kepada kita, kepada kerabat dan keluarga kita. Inilah nikmat terindah dalam kehidupan seseorang. Karena, kendatipun dunia ada dalam genggaman, walaupun kekuasaan ada dalam jangkauan, namun itu semua belum tentu dapat mengantarkan kita pada hidayah Allah Swt… Ya Allah, berilah kami indahnya hidayah-Mu, langgengkanlah hidayah tersebut dalam hati sanubari kami, berikanlah pula sejuknya hidayah-Mu pada orang2 yang kami sayangi dan kami kasihi, agat kami semua senantiasa bahagia dalam curahan rahmat dan hidayah-Mu… Amiiin Ya Rabbal AlamiinWallahu A’lam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: