Maksiat Terkadang Lebih Baik Dari Pada Taat

Maksiat Terkadang Lebih Baik Dari Pada Taat. Apa makna perkataan Syekh Ibnu Athoillah di dalam kitabnya al-hikam, ‘ma’shiyatun awrotsat dzullan waftiqoron khoirun min thoo’atin awrotsat ‘izzan wastikbaaron’ (perbuatan maksiat yang menyebabkan pelakunya merasa hina dan butuh kepada Allah, lebih baik (di sisi Allah) dari pada ketaatan yang menyebabkan pelakunya merasa sombong dan berbangga diri), sesuai dengan prinsip dasar syareat agama Islam?

Jawab : Bismilah, walhamdulillah, wassholatu wassalamu ‘ala sayyidina Rasulillah, wa alihi wa shohbihi wa man walah, wa ba’d. Kitab al-Hikam karya Syekh Ibnu Athoillah as-Sakandari rodliyallahu ‘anh merupakan kitab tauhid yang paling besar dirasakan manfaatnya oleh kaum muslimin. Kitab ini menjelaskan jalan yang paling cepat dan mudah untuk menuju Allah SWT. Salah seorang syarih (penjelas) kitab al-Hikam, imam as-Syarnubi mengatakan bahwa kitab al-Hikam adalah kitab yang paling besar memberi manfaat kepada seseorang untuk mengantarkannya mengetahui jalan yang telah ditempuh oleh para ahli ma’rifat. Kitab ini mengandung hal-hal yang paling detail dalam ilmu tauhid, meskipun ditulis dengan ungkapan-ungkapan yang ringkas dan padat. (syarhil hikam ibnu athoillah as-sakandari, Abdul Majid as-Syarnubi).

Allah SWT telah memerintahkan hamba-hamba-Nya agar taat kepada-Nya, dan Allah menjadikan ketaatan itu sebagai sebab yang mengantarkan seseorang mendapatkan kemenangan dan mendapatkan ridlo-Nya, juga menjadi sebab untuk dapat berkumpul bersama dengan para nabi, shiddiqin, dan syuhada’. Firman Allah: “barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah akan memasukkannya kedalam surga yang mengalir didalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya, dan itulah kemenangan yang besar”. (an-Nisa’:13).

-firman Allah: “dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya”. (an-Nisa’:69).

-firman Allah: “dan barang siapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya, takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang- orang yang mendapat kemenangan”. (an-Nur:52).

-firman Allah: “niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar”. (al-Ahzab 71).

Allah SWT telah melarang hamba-hamba-Nya untuk melakukan maksiat, dan menjadikan maksiat sebagai sebab yang menjadikan seseorang mendapatkan murka dari-Nya, mendapatkan siksa di akherat, dan sebagai tanda orang yang berada di jalan kesesatan. Firman Allah: “barangsiapa yang mendurhakai Allah dan rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya, dan baginya siksa yang menghinakan”. (an-Nisa’: 14).

-firman Allah: “dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. dan barangsiapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya, maka sungguhlah dia telah sesat dengan sesat yang nyata”. (al-Ahzab: 36).

Allah SWT memerintahkan manusia agar mendekat kepada-Nya, dan Ia telah menjadikan hati manusia sebagai alat untuk mendekat. Firman Allah: “maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati, yang dengan itu mereka dapat memahami, atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar, karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada”. (al-Hajj: 46).

-firman Allah: “demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketaqwaan hati”. (al-Hajj: 32).

-firman Allah: “dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu, dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah Maha mengetahui isi hati”. (Ali Imron: 154).

Nabi Muhammad SAW bersabda, innallah la yandzuru ila suwarikum wa amwaalikum, wa lakin yandzuru ila quluubikum wa a’maalikum (HR Muslim), artinya: “Allah tidak melihat pada bentuk dan hartamu, tetapi Allah melihat pada hati dan amalmu”. Nabi juga bersabda, “ingatlah! sesungguhnya di dalam tubuh manusia ada segumpal darah, jika itu baik maka seluruh badan akan baik, dan jika ia buruk maka seluruh badan akan menjadi buruk. Segumpal darah itu adalah hati”. (HR Bukhori, Muslim).

Maksiat hati lebih berbahaya dari pada maksiat yang tampak dari anggota badan. Dan maksiat anggota badan sesungguhnya timbul dari penyakit yang ada di dalam hati yang harus disembuhkan. Oleh karena itu dikatakan hati yang sehat akan menyehatkan badan. Namun, mungkin terjadi adanya sebuah ketaatan anggota badan, tetapi di dalam hatinya terdapat penyakit yang berbahaya. Dan sebaliknya, ada kemaksiatan dari anggota badan tetapi kemudian hatinya mau merenung, berfikir, sadar, lalu bertaubat dan kembali kepada Allah SWT.

Syekh Ibnu Athoillah as-Sakandari berkata, ma’shiyatun awrotsat dzullan waftiqooron khoirun min tho’atin awrotsat ‘izzaan was tikbaaron (kemaksiatan yang menjadikan seorang hamba merasa hina diri dan merasa butuh kepada Allah SWT, lebih baik dari pada ketaatan yang menjadikan seorang hamba memiliki rasa takabur dan sombong) adalah hikmah yang sangat agung. Dan kita tidak akan memahami hikmah ini dengan baik kecuali setelah memahami hikmah sebelumnya.

Pada hikmah sebelumnya pengarang kitab mengatakan, rubbama fataha laka babat tho’ah, wa ma fataha laka babal qobuul, wa rubbama qodlo ‘alaika bidzdzambi, fa kaana sababan fil wushuul (mungkin Allah SWT mentakdirkanmu mendapatkan kesempatan melakukan berbagai macam ketaatan, tetapi Allah tidak menerima ketaatan itu. Dan mungkin Allah mentakdirkanmu tergelincir untuk melakukan suatu kemaksiatan, tetapi kemaksiatan itu justru menjadi sebab sampainya engkau kepada Allah SWT”.

Mengenai hikmah ini, Syekh Ibnu ‘Ibad an-Nafazi ar-Rondi mengatakan, “hal ini bisa terjadi karena ketaatan seseorang sering kali dibarengi dengan penyakit-penyakit hati yang dapat merusak nilai keikhlasan, seperti berbangga diri, bergantung kepada amal ibadah, dan merendahkan orang yang tidak melakukan kebaikan seperti dirinya. Dan itu semua dapat menghalangi diterimanya suatu ibadah. Sebaliknya terkadang perbuatan dosa dibarengi dengan hati yang berlari menuju Allah SWT untuk memohon ampunan, menyerahkan diri, dan bertaubat.

Dan dengan seluruh perasaan hina ia berdo’a memohon rahmat kepada Allah SWT, lalu ia mengagungkan dan menghormati orang yang tidak berbuat dosa. Dan semua inilah yang menjadi sebab ampunan dan sampainya ia kepada Allah SWT. Oleh karena itu kita tidak boleh memandang seseorang dari betuk dan rupanya, tetapi dari hatinya”. (syarkh muhammad bin ibrahim ‘ala kitabil hikam).

Setelah menyebutkan hikmah di atas kemudian pengarang menyebutkan hikmah berikutnya, ma’shiyatun awrotsat dzullan waftaqooron khoirun min thoo’atin awrotsat ‘izzan wastikbaaron (kemaksiatan yang membuahkan sifat hina dan merasa butuh kepada Allah, lebih baik dari pada maksiat yang membuahkan sifat sombong dan takabbur). Mengenai hikmah ini syekh ar-Rondi mengatakan, “tidak diragukan lagi bahwa perasaan hina dan merasa butuh kepada Allah SWT adalah sifat-sifat yang harus dimiliki oleh seorang hamba Allah yang sejati.

Dan hamba yang berhias diri dengan sifat-sifat ini akan mengantarkannya sampai kepada kehadirat Allah SWT. Sedangkan sifat takabur dan sombong adalah sifat-sifat tuhan. Allah akan murka jika sifat-Nya dipakai oleh seorang hamba”. (syarh muhammad bin Ibroohim ala kitabil hikam).

Dari penjelasan di atas kita dapat memahami bahwa ungkapan hikmah yang dikatakan oleh Ibnu ‘Athoillah as-Sakandari sesuai dengan prinsip dasar agama Islam dan selaras dengan tujuan syareat dan ahlak yang mulia.

Hikmah ini sama sekali tidak dimaksudkan untuk memuji kemaksiatan atau menghina ketaatan, akan tetapi hikmah ini mendorong kita untuk terus memperbaiki dan membersihkan hati agar tidak merasa berbangga diri atas ketaaan yang dilakukan, dan memperingatkan agar kita segera bertaubat ketika sedang tergelincir dalam jurang kemaksiatan. Mari kita memohon kepada Allah SWT agar senantiasa melimpahkan kedamaian dan keselamatan. Wallahu ta’ala a’la wa a’lam.

Syekh Ali Jum’ah, Al-Bayan

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: