Makanan Yang Haram Mencegah Diterimanya Amal

Makanan Yang Haram Mencegah Diterimanya Amal. Allah adalah Dzat yang Maha Suci, sehingga ia tidak akan menerima sesuau kecuali yang suci. Diantara syarat seseorang yang akan mengerjakan shalat adalah sucinya badan dari hadast dan najis. Orang yang berhadats harus berwudhu terlebih dahulu sebelum menjalankan shalat, agar ia menjadi suci dihadapan Allah SWT. Setelah badan menjadi suci maka ia juga harus memperhatikan pakaian dan tempat untuk mengerjakan shalat. Jika terdapat najis maka harus dihilangkan terlebih dahulu sampai benar-benar hilang warna, rasa, dan bau najis.

Setelah badan, pakaian, dan tempat shalat suci, ketika melaksanakan shalat hati dan pikiran juga harus dituntut untuk suci dari segala sesuatu selain Allah. Ia hanya boleh memikirkan satu hal, yaitu Allah SWT. Bagaimana mungkin ia menyembah Allah, tetapi pikirannya ada pada selain Allah. Tentua ia akan dikatakan bohong atau pura-pura dengan shalatnya. Fokusnya hati hanya pada Allah dinamakan khusu’. Khusu’ adalah salah satu rukun shalat, sehingga jika seseorang mengerjakan shalat tanpa khusu’ maka shalatnya batal dan tidak diterima Allah SWT.

Disamping itu semua, kesucian makanan yang masuk ke dalam perut juga menjadi perhatian Allah SWT. Dikatakan bahwa Allah tidak akan menerima ibadah seseorang selama 40 hari (ada yang mengatakan lebih) jika ia memakan makanan yang haram atau minum-minuman keras. Apalah artinya kebaikan dan ketaatan jika sarana yang ia gunakan itu haram. Tentu Allah tidak akan menilainya sebagai sebuah kebaikan, justru sebaliknya kebaikan itu akan berubah menjadi keburukan yang akan menimpa pelakunya di dunia dan di akherat.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا، وَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ، فَقَالَ { يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنْ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ } وَقَالَ { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ } ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ ،فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ؟ (رواه مسلم)

Dari Abu Hurairah ra berkata; bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Wahai manusia, sesungguhnya Allah itu Maha Baik dan Dia tidak akan menerima sesuatu melainkan yang baik pula. Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang mukmin seperti yang diperintahkan-Nya kepada para Rasul. Firman-Nya: ‘Wahai para Rasul! Makanlah makanan yang baik-baik (halal) dan kerjakanlah amal shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.’ (QS. 23 : 51), Dan Allah juga berfirman: ‘Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah rezeki yang baik-baik yang telah kami rezekikan kepadamu.'” (QS. 2 : 172).

Kemudian Nabi Saw menceritakan tentang seorang laki-laki yang panjang perjalanannya, sehingga rambutnya kusut, masai dan berdebu. Orang itu mengangkat tangannya ke langit seraya berdo’a: “Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku.” Padahal, makanannya haram (dibeli dari uang haram), minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram dan diberi makan dengan makanan yang haram. Maka bagaimanakah Allah akan memperkenankan do’anya?.” (HR. Muslim, hadits no. 1686)

Hikmah Hadits :
1. Pentingnya mencari rizki yang baik, halal dan thayib. Karena Allah Swt adalah Maha Baik, dan Allah tidak akan menerima segala amal ibadah kecuali yang berasal dari rizki yang baik, halal dan thayib saja. Karena rizki dan karunia Allah sangat luas, dan kita diperintahkan untuk menempuh cara mencari rizki dengan cara yang baik dan halal. Demikian pulalah Allah Swt memerintahkan para Rasul dan seluruh hamba-hamba-Nya sebagaimana telah difirmankan-Nya dalam Al-Qur’an.

  1. Bahwa rizki yang diperoleh secara tidak halal atau tidak sah, seperti mengambil hak orang lain, curang dalam takaran dan timbangan, transaksi yang tidak sesuai dengan syariah, dsb yang kemudian digunakan untuk ibadah (seperti utk zakat infak shadaqah) atau menjadi sarana dalam ibadah (seperti untuk biaya haji, umrah, atau utk beli pakaian, makanan dan kebutuhan hidup lainnya), maka hal tersebut akan menjadi penyebab tidak diterimanya ibadah dan segala doanya oleh Allah Swt. Hal ini sebagaimana yg disabdakan Nabi Saw perihal seseorang yang perjalanannya untuk ibadah sangat panjang (spt sedang melaksanakan haji dan umrah), hingga pakaiannya lusuh dan masai krn panjangnya perjalannya. Bahkan ia mengangkat kedua tangannya memohon kepada Allah Swt, namun Allah tiada menerima amal ibadah dan doa-doanya lantaran makanan, minuman, pakaian dan kebutuhan hidupnya, dipenuhi dengan rizki yang perolehannya secara haram.
  2. Maka sebagai hamba Allah Swt dan pengikut Nabi Saw yang setia, mari kita bersama berusaha semaksimal kita untuk tidak mendapatkan rizki kecuali yang benar-benar kita yakini kehalalannya, terhindar dari segala yg syubhat bahkan yang haram. Karena rizki yang haram, akan menjadi bumerang di Hari Kiamat dan menjadi penyebab tidak diterima dan tidak dikabulkannya amal ibadah serta doa seseorang. Na’udzubillahi min dzalik.Wallahu A’lam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: