Kualitas Iman Seseorang Dapat Dilihat Dari Perbuatan-Perbuatan Baik Yang Dilakukannya

Kualitas Iman Seseorang Dapat Dilihat Dari Perbuatan-Perbuatan Baik Yang Dilakukannya. Dikatakan bahwa iman itu bertambah dan berkurang. Ketika iman bertambah maka perbuatannya juga akan semakin baik, dan sebaliknya ketika iman berkurang maka perbuatan baiknya akan berkurang. Iman ada di dalam hati yang selalu bergerak-gerak (terkadang tebal dan terkadang tipis imannya). Oleh karena itu agar hati selalu dalam kondisi iman, iman harus terus diperbaharui dengan memperbanyak membaca dzikir laa ila ha illallah. Kalimat-kalimat dzikir bagus diamalkan kapan dan dimana saja, dan hendaknya setiap muslim memiliki rutinitas wirid tertentu yang dilakukan setiap harinya dengan bilangan tertantu.

Ketika seseorang mempertahankan kebiasaan dzikirnya setiap hari maka pada saatnya nanti ia akan merasakan nikmatnya dzikir, sehingga ia akan semakin mensyukuri nikmatnya iman. Ketika ia sadar akan nilai dari nikmat iman yang dibeikan Allah kepadanya, maka ia akan terus berusaha menjaga imannya agar tidak keluar dari hatinya. Oleh karena itu untuk menjaga imannnya ia akan senang melakukan perbuatan-perbuatn yang baik. Ia akan gemar membantu orang lain, menghormati dan mengasihi manusia dan alam sekitar. Ia akan menebarkan benih-benih cinta kepada siapa saja yang dijumpainya.Jika tidak sengaja ia melakukan suatu perbuatan yang menyakiti atau menyinggung perasaan orang lain maka ia akan cepat-cepat meminta maaf tanpa harus malu dan menunda-nunda. Inilah orang yang dikatakan beriman kepada Allah dan hari akhir.

Apabila kita melihat orang yang mengaku beriman kepada Allah dan hari akhir tetapi ia suka berkata kotor, gemar menyakiti hati para tetangga, atau meremehkan tamu yang datang ke rumahnya maka pada hakikatnya ia belum beriman. Iman itu pengakuan hati dan harus ditunjukkan dengan anggota badan. Hal itu dapat kita saksikan pada orang-orang yang jelas kualitas keimananya, para nabi, para ulama, dan orang-orang sholeh. Mari kita lihat bagaimana kehiudpan mereka bersama dengan teman-temannya, bagaimana mereka membangun hubungan baik dengan masyarakat, bagaimana cara memperlakukan manusia dengan hormat, dst. Mereka adalah orang-orang yang telah benar-benar beriman sehingga mereka pantas kita jadikan sebagai suri tauladan yang kita ikuti.

Mencintai dan mendekat kepada para ulama adalah cara termudah untuk mempertebal iman kita. Dengan hanya menatap wajahnya yang bersih, duduk di majlisnya, dan mendengarkan nasehat-nasehatnya kita seperti mendapatkan suntikan vitamin yang akan membuat kita semakin bersemangat untuk mempertebal iman. Kata-katanya seolah-olah makanan yang memberikan energi bagi kelesuan pikiran dan kemalasan jiwa kita, sehingga kita termotivasi untuk memperbaiki diri lalu melakukan hal-hal yang mulia. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa ulama adalah para wakil-wakil Allah di bumi, karena merekalah orang-orang yang mewarisi para nabi dan Rasul. Mereka adalah orang-orang pilihan yang meneruskan dakwah dan risalah Islam, memberi petunjuk dan pelajaran kepada siapa saja yang mau menerimanya.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَه،ُ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ (رواه مسلم)

Dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia mengucapkan perkataan yang baik atau hendaklah ia diam. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tetangganya. Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya.” (HR. Muslim, hadits no. 67)

Hikmah Hadits ;
1. Iman akan melahirkan buah yang akan menjadi penghias setiap orang yang memilikinya. Dan diantara buah keimanan sebagaimana digambarkan dalam hadits di atas adalah;
#1. Bertutur kata yang baik yang menentramkan dan membuat tenang orang lain. Bukan perkataan yang membuat orang lain gelisah, tidak nyaman, atau bahkan menimbulkan permusuhan. Jikapun tidak bisa bertutur kata yang baik, maka diam atau tidak berkomentar adalah lebih baik baginya.
#2. Memuliakan tetangganya, yaitu dengan berbuat ihsan kepada mereka, menyayangi dan menghormati mereka, membantu keperluan dan kebutuhan mereka, serta tidak menyakiti hati dan perasaan mereka.
#3. Memuliakan tamunya, yaitu dengan menerima tamu dengan baik, memperlakukan mereka dengan baik dan juga memberikan hak2 tamu sebagaimana diajarkan dalam ajaran agama Islam.
2. Ketiga hal di atas merupakan buah sekaligus konsekwensi yang terlahir dari keimanan. Mafhum mukhalafah (logika terbalik) dari hadits di atas adalah, bahwa orang yang tidak bertutur kata yang baik, orang yang tidak memuliakam tetangga dan tamunya dengan baik, seolah adalah orang- orang yang tidak mempunyai iman atau orang yang tidak sempurna imannya. na’udzubillahi min dzalik. Semoga kita semua termasuk ke dalam golongan orang2 yang memiliki dasar iman yang kokoh, yang terpatri dan mengakar di dalam hati, serta diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Amiin Ya Rabbal Alamiin.

Wallahu A’lam bis Shawab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: