Keluar Dari Ramadhan, Keluarnya Rasa Cinta Dunia Dari Hati Kita

Keluar Dari Ramadhan, Keluarnya Rasa Cinta Dunia Dari Hati Kita. Ramadhan telah kita lewati, selayaknya hamba yang beriman semakin kuat keimanannya. Iman kepada adanya hari akhir, iman kepada surga, dan iman kepada Allah SWT. Semakin besar iman seseorang maka akan semakin besar pula ketaqwaan dan ibadahnya. Orang yang beriman dengan adanya pahala akherat akan semangat beribadah ketika ia mendengar dari seorang da’i akan pahala ibadah puasa ramadhan. Ia akan semakin rajin membaca Al-Qur’an ketika mengetahui berapa banyak pahala yang akan ia peroleh ketika membaca satu huruf ayat Al-Qur’an saja.

Ketika ia mendengar pahala dan fadhilah mengerjakan tarawih yang berbeda-beda, mulai malam pertama hingga malam ke-tigapuluh, ia menjadi sayang untuk meninggalkannya walaupun hanya semalam. Ia juga tidak segan-segan mengelurkan sebagian hartanya untuk diberikan kepada yang berhak ketika mendengar berapa besar kelipatan pahala sedekah di bulan Ramadhan. Oleh karena itu salah satu pelajaran yang dipetik dari bulan Ramadhan adalah mengurangi kecintaan seseorang kepada dunia, sehingga kecintaannya akan berganti pada akherat. Apabila seseorang telah memperoleh kecintaan yang sempurna pada akherat maka ia akan menjadi hamba yang bertaqwa kepada Allah. Dam tiada balasan atas ketaqwaan seseorang kecuali surga-Nya.

Kualitas ibadah dan penghayatan kita akan makna Ramadhan dapat kita lihat dan rasakan setelah kita keluar dari ramdhan. Pada bulan syawal ini mari kita melihat diri kita masing-masing, apakah ketamakan nafsu kita kepada dunia sudah berkurang atau malah semakin besar. Jika ketamkaan kiya telah berkurang maka kita telah mendapatkan berkah ramadhan, namun jika ketamakan kita malah semakin besar maka Allah belum memberikan keberkahannya. Akan tetapi meskipun rasa cintanya kepada dunia sulit dihilangkan, ia harus terus meneruskan perjuangannya pada bulan syawal ini dan pada bulan-bulan berikutnya. Dan Allah pasti akan memberikan hidayah kepada orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk mencari jalan-Nya.

Apabila seseorang tidak berusaha untuk menghilangkan rasa cintanya kepada dunia, maka selamanya ia tetap mencintai dunia. Bahkan ia tidak merasa malu meskipun usianya telah menua. Dan jika usianya telah menua sedangkan kecintaannya pada dunia belum hilang maka akan sulit diharapkan kebaikannya. Walaupun dipaksa untuk menggunakan waktunya untuk berdzikir mengingat Allah dengan membaca tahlil, tasbih, tahmid, dan takbir, ia akan tetap menolaknya. Waktunya banyak ia habiskan bersama dengan apa yang dicintainya.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ يَبْلُغُ بِهِ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ قَلْبُ الشَّيْخِ شَابٌّ عَلَى حُبِّ اثْنَتَيْنِ حُبِّ الْعَيْشِ وَالْمَالِ (رواه مسلم)

Dari Abu Hurairah ra meriwayatkan dari Nabi Saw, bahwa beliau bersabda: “Hati orang yang sudah tua, akan tetap menjadi muda dalam dua perkara, yaitu; dalam hal mencintai kehidupan dan mencintai harta benda.” (HR. Muslim, hadits no. 1734)

Hikmah Hadits ;
1. Kecenderungan dan fitrah manusia, yang selalu mencintai dan berselera pada dua hal kendatipun raganya telah pudar dimakan usia. Kedua hal tersebut adalah cinta pada kehidupan dan cinta pada harta benda. Bahkan Nabi Saw dalam hadits di atas membahasakannya dengan istilah ‘hati orang yang sudah tua akan tetap menjadi muda’ dalam cinta pada kehidupan dan cinta harta benda. Hal ini menunjukkan betapa daya tarik dan daya pikat kehidupan dunia dan harta benda yang demikian besarnya. Dia tiada akan pernah pudar, kendatipun usia telah renta. Tiada akan pernah sirna, kendatipun kekuatan tubuh telah mulai usang. Hati oranf yang audah tua pun akan tetap selalu membara pada kedua hal di atas, sebagaimana membaranya hati para pemuda.

  1. Bahwa cinta pada kehidupan atau hubbul ‘aisy ( حب العيش ), maknanya adalah mencintai segala yang memberikan manfaat dan kenyamanan serta kesenangan pada kehidupan dunia. Mencakup segala bentuk ma’isyah yaitu penghasilan yang menjanjikan, tempat tinggal yang mewah dan nyaman, pekerjaan yang mapan, kedudukan yang pendamping hidup yang cantik nan menawan dan segala fasilitas dan kesenangan kehidupanan lainnya. Sedangkan cinta pada harta ( حب المال ) adalah segala cinta dan ambisi terhadap segala bentuk harta yang disukai, seperti simpanan uang dan tabungan, emas dan perhiasan, segala bentuk aset kekayaan, dsb. Terhadap kedua hal ini, tiada seorang pun yang pudar keinginan dan ambisinya. Bahkan kecenderungannya semakin bertambah usia, seringkali akan semakin ingin memiliki lebih banyak kemewahan dunia dan harta benda.
  2. Namun makna terpenting yang tersirat dari hadits Nabi Saw di atas adalah sebuah pesan yang sangat berharga, yaitu agar setiap kita senantiasa berhati2 sebisa mungkin terhadap kemapanan kehidupan dan harta benda. Karena kedua hal inilah yang sering menjerumuskan dan merusak kemuliaan manusia, bahkan ketap kali menjerembabkan manusia pada lembah kehinaan. Na’udzubillahi min dzalik.Wallahu A’lam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: