Jika Anda Ragu Maka Tinggalkanlah Ini Sebabnya

Jika Anda Ragu Maka Tinggalkanlah Ini Sebabnya. Segala ibadah yang diperintahkan Allah berfungsi untuk mendatangkan ketenangan dan kebahagiaan bagi manusia. Barangsiapa yang menghabiskan banyak waktunya untuk menjalankan ibadah maka ia akan memiliki hati yang tenang. Namun, barangsiapa yang menghabiskan waktunya untuk melakukan hal-hal selain ibadah maka ia akan berpotensi untuk melakukan hal-hal yang diragukan (baca: hukum halal haramnya), sehingga ia akan dilanda kecemasan dan kekhawatiran.Hanya orang cerdaslah yang akan melakukan segala sesuatu dengan niat ibadah, karena hal itu akan mendatangkan ketenangan. Dan orang yang bodoh akan menyusahkan dirinya sendiri, karena ia memilih untuk melakukan hal-hal yang tidak termasuk kedalam ibadah.

عَنْ أَبِيْ مُحَمَّدٍ الْحَسَنِ بْنِ عَلِيِّ بْنِ أَبِيْ طَالِبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، حَفِظْتُ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: دَعْ مَا يَرِيْبُكَ إِلَى مَا لاَ يَرِيْبُكَ، فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِيْنَةٌ، وَالْكَذِبَ رِيْبَةٌ رواه الترمذي وأحمد

Dari Abu Muhammad Hasan bin Ali bin Abi Thalib ra, beliau berkata, aku hafal hadits dari Rasulullah SAW: “Tinggalkanlah sesuatu yang meragukanmu kepada sesuatu yang tidak meragukanmu. Sesungguhnya shidiq itu membawa pada ketenangan dan dusta itu membawa pada keragu-raguan.” (HR. Tirmidzi & Ahmad)

HIKMAH HADITS:

  1. Salah satu makna dari shidiq adalah keyakinan terhadap apa yang ditegaskan oleh Al-Qur’an dan As-Sunnah (baca ; wahyu). Hal ini sebagaimana diceritakan dalam sebuah riwayat, “Pada peristiwa isra’ dan mi’raj, ketika seluruh manusia mendustai Rasulullah SAW, namun Abu Bakar justru membenarkan kejadian tersebut. Al-Hakim meriwayatkan, “Pagi hari pada setelah peristiwa isra’ mi’raj kaum musyrikin mendatangi Abu Bakar seraya mengatakan, “Apakah kamu mempercayai sahabatmu (yaitu Rasulullah SAW) yang mengira bahwa ia telah melakukan perjalanan ke Baitul Maqdis tadi malam?” (kaum musyrikin menganggap dengan kejadian tersebut, dapat menjadikan iman Abu Bakar pudar). Abu Bakar balik bertanya, “Apa benar Muhammad mengatakan hal tersebut?”. Mereka menjawab, “benar”. Lalu Abu Bakar mengatakan, “Sungguh apa yang diakatannya itu benar. Dan (bahkan) aku akan membenarkannya pula, jika ia mengatakan lebih dari itu…” (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak).

Oleh karena itulah Abu Bakar mendapatkan julukan Asshidiq. Gelar Asshidiq ini merupakan pemberian dari Allah melalui lisan Rasulullah SAW, sebagaimana yang diriwayaaatkan oleh Ali bin Abi Thalib. Dan jadilah sifat shidiq ini menjadi khas dimiliki oleh Abu Bakar sebelum dimiliki oleh sahabat-sahabat yang lainnya. Dan hal ini terjadi karena sikap Abu Bakar yang senantiasa “membenarkan” segala apapun yang datangnya dari Allah dan Rasul-Nya.

  1. Bahwa salah satu dimensi shidiq adalah keyakinan terhadap ajaran Allah dan Rasul-Nya. Kisah Abu Bakar As-Shidiq di atas menggambarkan tentang hal tersebut, bahwa beliau senantiasa mengimani dan percaya terhadap wahyu, apapun bentuknya, meskipun seluruh manusia pada saat tersebut meragukannya. Imam al-Baihaqi meriwayatkan dalam Syu’ab Iman dari Umar bin Khattab:

قَالَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ لَوْ وُزِنَ إِيْمَانُ أَبِيْ بَكْرٍ بِإِيْمَانِ أَهْلِ اْلأَرْضِ لَرَجَّحَ بِهِمْ

“Jika ditimbang keimanan Abu Bakar dengan keimanan seluruh umat maka akan lebih berat keimanan Abu Bakar.” (Syu’abul Iman, bab al-Qaul fi ziyadatil Iman wa Naqshanih; I/69)
Bahkan Rasulullah SAW sendiri juga pernah memuji keislaman Abu Bakar, sebagaimana yang dikutip oleh Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wa al-Nihayahnya; “Tiada aku mengajak seorang masuk Islam, tanpa ada hambatan, keraguan, tanpa mengemukakan pandangan dan alasan, hanya Abu Bakar lah. Ketika aku menyampaikan ajakan tersebut, dia langsung menerimanya tanpa ragu sedikitpun.”

  1. Sikap shidiq (iman & yakin) terhadap syariah seperti ini akan membawa pada ketentraman dan kedamaian. Demikianlah yang disabdakan oleh Rasulullah SAW dalam hadits di atas, “Sesungguhnya shidiq itu membawa pada ketenangan dan dusta itu membawa pada keragu-raguan…” Karena syariah tidak akan pernah (selamanya) menyulitkan dan atau menyengsarakan. Syariah akan membahagiakan dan menentramkan serta menyelematkan. Sebaliknya, tidak meyakini wahyu atau dusta akan berdampak pada keragu-raguan dan kesulitan. Oleh karenanya hendaknya setiap kita senantiasa yakin dan komitmen terhadap wahyu, dimanapun dan dalam kondisi apapun. Karena dengan yakin dan membenarkan wahyu, akan menjadikan kita tentram. Allah SWT berfirman :

مَا يُرِيدُ اللّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُم مِّنْ حَرَجٍ وَلَـكِن يُرِيدُ لِيُطَهَّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan ni`mat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur. (QS. Al-Maidah : 6)

  1. Dalam konteks “kekinian” shiddiq dapat diimplementasikan dalam bentuk “keyakinan” terhadap nilai-nilai syariah. Dalam muamalah umpamanya, shiddiq dapat diimplementasikan dalam bentuk “kejujuran” ketika bertransaksi; tidak mengurangi timbangan (baca ; spec) dan juga tidak menutupi kekurangan objek yang ditransaksikan. Atau pada skup yang lebih luas dalam muamalah kontemporer, shiddiq merupakan sebuah sikap dimana “komitmen” terhadap syariah menjadi acuan utama dalam bertransaksi, sehingga orientasinya tidak semata-mata materi namun maslahat untuk umat; ingin menyelematkan mereka dari muamalah ribawiyah yang sudah mendarah daging di kalangan umat. Sikap seperti ini, insya Allah akan mendatangkan kemaslahatan baik di dunia maupun di akhirat.

Dalam sebuah riwayat dikisahkan ketika Rasulullah SAW bercerita tentang pintu-pintu surga, “Barangsiapa yang menginfaqkan dua jenis (berpasangan) dari hartanya di jalan Allah, maka dia akan dipanggil dari pintu-pintu surga; (lalu dikatakan kepadanya): “Wahai ‘Abdullah, inilah kebaikan (dari apa yang kamu amalkan). Maka barangsiapa dari kalangan ahlu shalat dia akan dipanggil dari pintu shalat dan barangsiapa dari kalangan ahlu jihad dia akan dipanggil dari pintu jihad dan barangsiapa dari kalangan ahlu shiyam (puasa) dia akan dipanggil dari pintu ar-Rayyan dan barangsiapa dari kalangan ahlu shadaqah dia akan dipanggil dari pintu shadaqah”. Lantas Abu Bakar Ash-Shidiq ra berkata, “Demi bapak dan ibuku (sebagai tebusan) untukmu wahai Rasulullah, jika seseorang dipanggil diantara pintu-pintu yang ada, itu sbeuah kepastian, namun apakah mungkin seseorang akan dipanggil dari semua pintu?”. Rasulullah SAW menjawab: “Benar, dan aku berharap kamu termasuk diantara mereka”. (HR. Bukhari Muslim)

  1. Sebaliknya sikap kadzib (baca : mengabaikan syariah), akan membawa pada keragu-raguan. Kita dapat mengambil ibrah dan pelajaran yang sangat berharga dari peristiwa Perang Uhud, dimana para rumath (pasukan pemanah) yang diperintahkan untuk standby berdiri di atas bukit untuk menjadi garda terdepan untuk memanah kaum musyrikin. Namun ternyata mereka “mengabaikan” pesan Rasulullah SAW tersebut, hanya karena ingin menggapai materi yang ada di bawah bukit, yang sedang diperebutkan oleh kaum muslimin lainnya. Al-Hasil, pasukan kaum musyrikin yang kala itu masih dipimipin oleh Khalid bin Walid, mampu mengobrak-abrik hampir seluruh kekuatan kaum muslimin. Alih-alih mendapatkan harta yang sedang diperebutkan, kaum muslimin justru mengalami kekalahan. Inilah dampak dari mengabaikan “pesan” Rasulullah SAW.
  2. Dalam konteks kekinian, hendaknya kita tidak mengabaikan nilai-nilai syariah dalam segala aktivitas, khususnya dalam bermuamalah. Terlebih-lebih apabila tujuan dari mengabaikan syariah tersebut, hanya sekedar untuk mendapatkan “ghanimah” yang masih belum jelas antara halal dan haramnya (baca ; syubhat). Karena bisa jadi, alih-alih mendapatkan ghanimah, justru kita akan terpuruk ke dalam kenistaan yang mendalam, dimana ghanimah tidak didapatkan sementara di sisi yang lain harus memikul dosa lantaran mengabaikan nilai-nilai syariah tersebut. Pesan-pesan Rasulullah SAW dalam muamalah demikian banyaknya, namun bukan bertujuan untuk menyulitkan kita semua. Pesan-pesan tersebut adalah supaya kita merasa tentram, nyaman dan bahagia.
  3. Diantara benefit seseorang yang shidiq adalah bahwa ia akan mendapatkan apa yang “diyakininya” tersebut, meskipun (bisa jadi) apa yang diimpikannya tersebut tercapai. Misalnya seseorang atau satu organisasi atau satu lembaga tertentu yang menda’wahkan ekonomi syariah, dengan “mimpi” bahwa Indonesia akan menjadi Negeri Ekonomi Syariah terkemuka di dunia, kemudian ia berjuang dengan sepenuh jiwa dan raganya untuk mengaharpkan keridhaan Allah SWT. Namun belum lagi cita-citanya tercapai, ajal telah datang untuk menjemputnya, maka dalam kondisi tersebut ia akan mendapatkan “pahala” seperti apa yang telah dicitakannya. Dalam sebuah riwayat Rasulullah SAW bersabda :

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ سَأَلَ اللَّهَ الشَّهَادَةَ بِصِدْقٍ بَلَّغَهُ اللَّهُ مَنَازِلَ الشُّهَدَاءِ وَإِنْ مَاتَ عَلَى فِرَاشِهِ – رواه مسلم

Bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa mengharapkan mati syahid dengan sungguh-sungguh, maka Allah akan mengangkatnya sampai ke derajat para syuhada’ meski ia meninggal dunia di atas tempat tidurnya”. (HR. Muslim)

Wallahu A’lam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: