Bulan Syawal Melatih Diri Menerima Pemberian-Nya Dengan Senang Hati

Bulan Syawal Melatih Diri Menerima Pemberian-Nya Dengan Senang Hati. Selain menciptakan hati dan akal, Allah juga menciptakan nafsu di dalam diri manusia. Jika akal dan hati adalah penunjuk jalan yang harus diikuti maka perintah nafsu tidak boleh diikuti. Rasulullah SAW memrintahkan umatnya untuk meminta fatwa kepada hatinya, karena hati yang bersih selalu mengajak pemilikinya menuju kebaikan. Sedangkan ajakan hawa nafsu harus ditolak karena ia selalu memerintahkan pelakunya pada keburukan.

Hati memerintahkan pelakunya agar merasa cukup dengan rezeki yang diberikan Allah berapapun jumlahnya. Sedikit atau banyak harus diterima dengan senang hati. Agama mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak terletak pada banyaknya pemberian Allah, akan tetapi hati yang puas kepada Allah SWT. Akan tetapi nafsu senantiasa mengajak manusia untuk mencintai rezeki yang banyak. Ia selalu mengajak manusia untuk terus-menerus menumpuk harta benda. Meskipun ia telah memiliki simpanan uang yang banyak ia masih terus mencari dan mencari bahkan sampai waktu malam menjelang. Emas beratus-ratus gram belum membuatnya puas, ia masih ingin menambah dan menambah lagi. Tanahnya yang beribu-ribu hektar serasa masih kurang. Bahkan karena kerakusannya trhadap harta, ia tidak segan melanggarrambu-rambu agama. Ia berani untuk melakukan kecurangan dan kelicikan di sana sini. Korupsi seperti telah menjadi makananya sehari-hari.

Hati dan pikiran yang seharusnya ia gunakan untuk merenungi kebesaran dan keagungan Allah SWT malah ia gunakan untuk berfikit tentang harapan, masa depan, dan angan panjang yang tak pernah hilang. Bagaimana ia bisa memiliki mobil sebanyak-bnayaknya, bagaimana ia bisa memiliki rumah yang megah nan mewah yang tiada bandingannya. Bagiamana ia bisa makan enak setiap hari. Ketamakan yang luar biasa sampai melalaikan kewajibannya untuk membantu tetangga-tetangganya yang membutuhkan. Ia lupa untuk mengelurkan zakatnya yang hanya beberapa persen dari hartanya, atau mungkin ia sengaja lupa.

Setelah ia mendapatkan apa yang menjadi harapannya ia berbangga diri dan merasa sombong. Kepada banyak orang ia memuji-muji dirinya, tentang kedisiplinanya, tentang kerajinanya, tentang kecerdasannya, tentangpendidikannya dsb. Ia lupa bahwa apa yang melekat dalam drinya itu semata-mata kehendak dan anugerah dari-Nya. Jika ia tidak lupa kepada Allah pasti ia tidak merasa kurang dengan apa yang diberikan Allah. Ia pasti merasa cukup kemudian menggunakan kelebihan hartanya untuk membantu saudaranya yang membutuhkan.

عَنْ حَكِيمِ بْنِ حِزَامٍ قَالَ سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَعْطَانِي، ثُمَّ سَأَلْتُهُ فَأَعْطَانِي، ثُمَّ سَأَلْتُهُ فَأَعْطَانِي، ثُمَّ قَالَ إِنَّ هَذَا الْمَالَ خَضِرَةٌ حُلْوَةٌ ،فَمَنْ أَخَذَهُ بِطِيبِ نَفْسٍ بُورِكَ لَهُ فِيهِ ،وَمَنْ أَخَذَهُ بِإِشْرَافِ نَفْسٍ لَمْ يُبَارَكْ لَهُ فِيه،ِ وَكَانَ كَالَّذِي يَأْكُلُ وَلَا يَشْبَعُ، وَالْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنْ الْيَدِ السُّفْلَى (رواه مسلم)

Dari Hakim bin Hizam ra berkata, aku meminta sedekah kepada Nabi Saw, maka beliau pun memberikannya padaku, kemudian aku meminta lagi, maka diberikannya lagi, kemudian aku meminta lagi, maka beliau pun memberikannya lagi. Sesudah itu, beliau bersabda: “Sesungguhnya harta itu hijau dan manis. Maka siapa yang menerimanya dengan hati yang baik, niscaya ia akan mendapatkan keberkahannya. Namun, barang siapa yang menerimanya dengan nafsu serakah, maka dia tidak akan mendapat keberkahannya. Dia akan seperti orang yang makan, namun tidak pernah merasa kenyang. Dan tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.” (HR. Muslim, hadits no. 1379)

Hikmah Hadits ;

1. Kedermawanan Nabi Saw, yang selalu memberikan apapun yang beliau miliki terhadap orang yang memintanya, kendatipun orang tersebut meminta berulang-ulang kepada beliau, beliau tetap memberinya. Dan cara Nabi Saw yang bijak dalam memberikan nasehat kepada para sahabatnya, sehingga tidak menyinggung perasaan orang yang diberi nasehat. Hal ini sebagaimana nasehat beliau kepada Hakim bin Hizam yang berulang2 meminta sedekah kepada beliau, dan beliau menasehatinya secara bijak dan baik, agar jangan selalu meminta-meminta dan berusaha menjadi yang memberi.

2. Bahwa harta yang menjadi hak dan milik kita, akan diberikan keberkahannya oleh Allah Swt bilamana kita menerimanya dengan hati yang baik, ikhlas dan penuh dengan keridhaan. Karena dengan demikian berarti kita mensyukuri nikmat yang Allah anugerahkan kepada kita. Sebaliknya, jika rizki yang kita terima justru diiringi dengan rasa tiada puas, selalu merasa kurang dan diselimuti nafsu keserakahan, maka Allah Swt akan mencabut keberkahan rizki tersebut, karena berarti kita tidak mensyukuri nikmat yang Allah berikan kepada kita. Dia diibaratkan seperti orang yang memakan makanan, namun tiada pernah merasa kenyang; selalu ingin makan dan makan lagi, na’udzubillahi min dzalik.

3. Pujian terhadap orang yang selalu berusaha memberi (tangan diatas) dan selalu menolong serta membantu orang lain. Dan himbauan agar jangan menjadi orang yang selalu meminta dan berharap pemberian dari orang lain, meskipun sekedar meminta pemberian oleh-oleh atau pemberian lainnya. Karena memberi adalah implementasi syukur, dan meminta adalah seolah kita kurang bersyukur.

Wallahu A’lam

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: