Berusaha Meniru Sunnah-Sunnah Rasulullah SAW

Berusaha Meniru Sunnah-Sunnah Rasulullah SAW. Orang yang paling dicintai Rasulullah SAW adalah orang yang paling benar dalam mengikuti sunnah-sunnah Rasulillah SAW. Dan untuk mengetahui bagaimana cara menjalankan sunnah dengan benar maka ia harus memiliki ilmu. Oleh karena itu kita dapat mengatakan bahwa orang yang paling benar dalam menjalankan sunnah adalah para sahabat, lalu tabi’in, lalu tabi’ tabi’in, dan para ulama. Mereka dikatakan menjalankan sunnah dengan benar karena mereka memilki ilmu yang luas yang tidak dimiliki oleh orang-orang yang hidup di zaman sekarang. Para sahabat hidup pada zaman Rasulullah, langsung menerima ilmu dari Rasulullah, dan apabila mereka melakukan kesalahan maka Rasulullah langsung menegur mereka. Sungguh beruntung orang-orang beriman yang hidup pada zaman Rasulullah SAW.

Namun kita tidak boleh berkecil hati, karena Rasulullah SAW bersabda bahwa seseorang bersama dengan orang yang diicintainya. Apabila kita mencintai Rasulullah dan para sahabatnya maka di akherat nanti kita juga akan dikumpulkan bersama mereka. Dan bukti cinta kita kepada mereka adalah kita berusaha menjalankan apa yang menjadi sunnah-sunnah mereka. Bagaimana mereka shalat, bagaimana mereka berpuasa, bagaimana mereka bergaul dengan masyarakat di siang hari, dan bagaimana mereka menghabiskan malam-malamnya. Jika kita benar-benar meniru jalan hidup mereka berarti kita telah benar-benar mencintainya. Namun jika tidak maka perkataan kita ‘mencintai mereka’ akan dianggap omong kosong belaka.

عَنْ أَنَسٍ أَنَّ نَفَرًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَأَلُوا أَزْوَاجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ عَمَلِهِ فِي السِّرِّ، فَقَالَ بَعْضُهُمْ لَا أَتَزَوَّجُ النِّسَاء،َ وَقَالَ بَعْضُهُمْ لَا آكُلُ اللَّحْم،َ وَقَالَ بَعْضُهُمْ لَا أَنَامُ عَلَى فِرَاش،ٍ فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ فَقَالَ مَا بَالُ أَقْوَامٍ قَالُوا كَذَا وَكَذَا؟ لَكِنِّي أُصَلِّي وَأَنَامُ، وَأَصُومُ وَأُفْطِر،ُ وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ، فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي (رواه مسلم)

Dari Anas ra bahwa beberapa sahabat Nabi Saw bertanya kepada istri Nabi Saw tentang amalan beliau yang tersembunyi. Maka, (setelah mengetahuinya) mereka berkata, “Aku tidak akan menikah-menikah.” Kemudian sebagian lagi berkata, “Aku tidak akan pernah makan daging.” Dan sebagian lain lagi berkata, “Aku tidak akan pernah tidur di atas kasurku.” Mendengar ucapan mereka, maka Nabi Saw memuji Allah dan menyanjung-Nya, kemudian beliau bersabda: “Ada apa dengan mereka? Mereka berkata begini dan begitu? Padahal aku sendiri shalat dan juga tidur, aku berpuasa dan juga berbuka, dan aku juga menikahi wanita. Maka barang siapa yang membenci sunnah-sunnahku, berarti dia bukan termasuj golonganku.” (HR. Muslim, hadits no. 2487)

Hikmah Hadits :
1. Luas dan universalnya makna dan cakupan sunnah, yang mencakup segala aspek kehiupan manusia, baik ibadah, muamalah, rumah tangga, sosial politik, ekonomi, dsb. Luasnya makna dan cakupan sunnah, adalah berbanding lurus dengan luasnya ajaran agama Islam, yang mencakup seluruh dimensi kehidupan. Itulah sebabnya, mengapa Allah Swt memerintahkan kita untuk mengamalkan ajaran Islam secara kaffah, sebagaimana firman’Nya dalan QS. Al-Baqarah : 208, “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.”

  1. Bahwa luasnya cakupan makna dan ajaran sunnah, sebenarnya juga sudah termaktub dalam definisi sunnah yang dideskripsikan oleh para ulama-ulama sunnah, diantaranya adalah definisi sunnah yang terdapat dalam kitab Ushulul Hadits, yaitu bahwa sunnah adalah segala hal yang datang dari Nabi Saw baik berupa perkataan, perbuatan, ketetapan yang beliau tetapkan (thd suatu hal tertentu), atau sifat fisik dan juga sifat perilaku sehari-hari beliau, atau juga sirah (perjalanan hidup beliau), baik yang terjadi sebelum masa kenabian, seperti tahannus beliau (penyendirian beliau) di Gua Hira, maupun yamg terjadi sesudah masa kenabian.
  2. Maka, Nabi Saw pun terlihat agak marah, ketika ada beberapa orang sahabat yang memahami sunnah secara parsial, sehingga mereka berkeinginan kuat untuk tidak menikah selamanya, atau yang berkeinginan untuk tidak tidur di kasur selamanya, atau yang berkeinginan untuk tidak memakan daging selamanya, dengan maksud untuk mengamalkan dan mengatasnamakan sunnah. Justru dengan mempersulit diri seperti itu, bukanlah termasuk sunnah. Karena ajaran sunnah itu sebenarnya indah; mengajarkan kita keseimbangan dalam ibadah, keharmonian dalam kehidupan sosial, keselarasan anatara unsur duniawi dan ukhrawi. Itulah sebabnya, mengapa beliau Saw menikah, beliau juga suka memakan paha kambing, beliau juga becanda dengan istrinya, beliau bercengkrama dan bergurau dengan para sahabatnya, beliau juga mengendarai unta, beliau juga menyisir rambutnya, beliau juga merapikan pakaiannya, beliau juga memakai parfum, beliau selalu tersenyum terhadap setiap orang yang dijumpainya, beliau juga berusaha menjadi yg terlebih dahulu menjabat tangan para sahabatnya, beliau santun akhlaknya, halus perkatannya,  tidak suka menjelekkan atau menyalahkan orang lain, beliau tawadhu dalam kesahariannya, zuhud dalam kehidupannya, dan beliau juga ramah dalam pergaulannya, shallallahu alaihi wasallam…Wallahu A’lam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: