Bersikap Bijak Ketika Menjadi Imam Dalam Shalat Berjamaah

Bersikap Bijak Ketika Menjadi Imam Dalam Shalat Berjamaah. Bijaksana adalah salah sifat Allah yang juga diperintahkan agar hamba-Nya juga memiliki sifat ini. Diantara sifat-sifat Allah ada yang diperintahkan agar manusia juga memilikinya, inilah yang dinamakan dengan sifat jamal. Diantara sifat jamal adalah rahman (maha pengasih), rahim (penyayang), jawaad (baik), hakim (maha bijak), dll. Namun ada juga sifat-sifat Allah yang harus hanya untuk Allah, sehingga apabila manusia memakai sifat-sifat Allah ini maka ia akan mendapatkan murka dari-Nya, inilah yan dinamakan dengan sifat jalaal. Diantara sifat jalaal adalah kabir (maha besar), matakabbir (sombong), malikal mulki (rajanya raja), karim (maha mulia), dll.

Orang yang berupaya untuk menjadi ‘abdan rabbaniyan (hamba yang bertuhan) akan senantiasa membersihkan hatinya dari segala macam kotoran-kotoran hati. Dan ketika ia berhasil mengosongkan hatinya maka ia akan diisi dengan cahaya ilahi, karena cahaya ilahi hanya akan masuk ke dalam hati-hati yang suci. Cahaya ilahi yang menguasai hati akan mendorong pelakunya untuk memiliki sifat yang baik dimana sebelumnya ia memiliki sifat buruk. Diantara sifat baik itu adalah bijaksana.

Sifat bijaksana harus dimiliki oleh setiap muslim dalam kehidupannya. Bahkan di dalam shalatpun seseorang harus menggunakan sikap bijaknya. Rasulullah pernah mendapatkan aduan dari masyarakat perihal salah seorang sahabatnya yang ketika menjadi imam, ia terlalu panjang ketika membaca surat Al-Qur’an. Dan Rasulullah pun menegurnya agar ia lebih memperhatikan siapa yang menjadi makmukmnya. Karena diantara mereka ada yang memiliki kepentingan dan kebutuhan masing-masing seusai mengerjakan shalat. Diantara mereka ada orang-orang tua yang tidak kuat jika berdiri terlalu lama, kaum ibu yang hendak menyusui anaknya, atau para ayah yang sedang ditunggu oleh istri dan anak-anaknya di rumah.

Sesungguhnya hubungan manusia kepada Allah tidak akan terlaksana (baca: tidak sempurna) jika ia tidak mengedepankan toleransi kepada sesama manusia. Bahkan mungkin Allah akan murka jika sampai menyakiti hati atau menyinggung perasaan sesamanya. Diceritakan bahwa ada seorang ahli ibadah yang menyepi di sebuah gubuk yang jauh dari perkampungan. Pada suatu hari ibunya rindu padanya, sehingga ia segera mendatanginya di rumah peribadatannya. Ketika ibunya memanggil, ia tidak menjawab karena ia sedang shalat. Ia ragu untuk menjawab panggilan ibunya dan ia lebih memilih untuk melanjutnya shalatnya. Ibunya terus memanggilnya sampai tiga kali, namun ia tetap melanjutkan shalatnya. Sang ibu pun kecewa lalu beranjak pulang dalam keadaan marah. Karena begitu sakit hati sang ibu, ia mendoakan anaknya dengan keburukan. Tidak lama kemudian pemuda ahli ibadah tadi diuji oleh Allah dengan fitnah dari seorang pelacur. Namun karena kasih sayang Allah, pemuda tadi masih bisa diselamatkan dan termasuk hamba yang dirahmati Allah SWT.

Kisah di atas menunjukkan betapa Allah sangat memperhatikan toleransi dan kepentingan umat manusia. Sehingga dikatakan di dalam hadits bahwa tidak beriman kalian sehingga kalian mencintai saudaranya sebagaimana kalian mencintai diri sendiri.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا أَمَّ أَحَدُكُمْ النَّاسَ فَلْيُخَفِّف،ْ فَإِنَّ فِيهِمْ الصَّغِيرَ وَالْكَبِيرَ وَالضَّعِيفَ وَالْمَرِيض،َ فَإِذَا صَلَّى وَحْدَهُ فَلْيُصَلِّ كَيْفَ شَاءَ (رواه مسلم)

Dari Abu Hurairah ra bahwa Nabi Saw bersabda, “Apabila salah seorang dari kalian mengimami manusia (dalam shalat berjamaah), maka hendaklah ia meringankannya. Karena di antara mereka ada anak kecil, orang tua, orang yang lemah, dan orang yang sedang sakit. Namun apabila ia shalat sendirian, maka silahkan dia shalat sekehendaknya.” (HR. Muslim, hadits no. 714)

Hikmah Hadits ;

1. Pentingnya shalat berjamaah, dimana keutamaan shalat berjamah adalah lebih baik 27 derajat dibandingkan dengan shalat sendirian. Maka oleh karenanya, kaum muslimin sejak zaman Nabi Saw sangat antusias melaksanakan shalat secara berjamaah, baik laki-laki, perempuan, tua, muda, besar, kecil, bahkan orang sakitpun turut antusias mengerjakan shalat berjamaah di masjid.

2. Maka Nabi Saw menganjurkan agar Imam memahami situasi dan kondisi shalat berjamaahnya. Dari aspek kondisi waktu yang tersedia, lingkungan yang ada, termasuk siapa saja yang hadir menunaikan shalat berjamaah. Karena bisa jadi, banyak orang tua, anak-anak, atau bahkan orang sakit yang turut menjadi ma’mumnya. Dan hendaknya Imam bersikap bijak, yaitu tidak terlalu memanjangkan bacaan shalatnya, jika kondisinya demikian adanya. Atau juga jika ada kondisi lainnya, seperti shalat berjamaah di pusat keramaian manusia, seperti di area rumah makan, rest area, terminal, airport, stasiun, rumah sakit, dsb. Karena umumnya mereka adalah orang-orang yang waktunya terbatas, dan antrian untuk melaksanakan shalat juga terkadang cukup panjang, karena keterbatasan kapasitas mushallanya. Maka sebaiknya Imam juga tidak memanjangkan bacaannya, jika kondisinya demikian adanya.

2. Apabila ingin memanjangkan bacaan dalam shalatnya, maka silakan saja ia memanjangkan bacaannya sesuai dengan keinginan hatinya, jika ia sedang shalat sendirian, seperti ketika shalat tahajud sendiri, atau ketika melaksanakan shalat-shalat lainnya. Atau terkecuali juga di tempat-tempat atau acara-acara yang memang sudah dikondisikan sejak awal, atau sudah diberitahu sejak awal, bahwa di masjid tersebut akan melaksanakan shalat malam secara berjamaah dengan bacaan yang cukup panjang.

Wallahu A’lam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: