Adab dan Etika Buang Hajat Dalam Islam

Adab dan Etika Buang Hajat Dalam Islam. Islam adalah agama yang sempurna sebagaimana dikatakan di dalam Al-Qur’an bahwa hari ini telah Aku sempurnakan bagimu agamamu dan telah aku cukupkan bagimu nikmat-Ku dan Aku ridlo Islam menjadi agama bagimu. Kesempurnaan Islam mengatur seluruh perilaku manusia mulai bangun tidur sampai akan tidur lagi. Setiap perilaku memiliki adab dan etika yang diatur oleh syareat Islam. Apabila manusia mau mengikuti aturan Allah maka hidupnya akan bahagia di dunia dan di akherat. Tetapi apabila ia melanggar aturan Allah maka hidupnya akan sengsara di dunia dan di akherat.

Dikatakan dalam hadits bahwa agama itu mudah maka janganlah dipersulit. Di hadits yang lain dikatakan, ‘mudahkanlah dan jangan dipersulit’. Larangan Allah harus kita jauhi dan perintah Allah harus kita laksanakan sesuai kapasitas dan kemampuan kita. Sesungguhnya Allah tidak akan membebani seseorang di luar batas kemampuannya. Apabila manusia mau bersabar dalam menjakankan Islamnya dan menahan keinginan hawa nafsunya maka Allah akak memberikan hadiah berupa surga-Nya. Siapa yang tidak ingin masuk ke dalam surganya, tentu setiaoo orang sangat ingin memasukinya.

Pada hakekatnya aturan Allah tidak mengandung kemanfaatan yang akan dirasakan-Nya. Sejak zaman azali Allah telah maha Kuasa tanpa ada makhluk yang mengakui kekuasaan-Nya. Allah telah Maha Agung sebelum ada makhluk yang mengagungkan-Nya, Allah telah Maha Terpuji sebelum ada makhluk yang memuji-muji-Nya, Allah Maha Tinggi, sebelum adanya makhluk yang meninggikan-Nya, dst. Oleh karena itu jika tidak kembali kepada Allah pasti kemanfaatan dari aturan Allah akan kembali kepada manusia itu sendiri. Setiap larangan dan perintah pasti mengandung kemaslahatan bagi manusia baik tampak atau tidak, baik sadar mauoun tidak.

Ada hikmah di balik aturan Allah yang memerintahkan untuk makan dan minum sambil duduk. Ada hikmah di balik aturan Allah yang memerintahkan untuk makan dengan mengunakan tangan kanan. Ada hikmah dibalik perintah tiga kali dalam setiap basuhan pada setiap anggota wudlu. Ada hikmah di balik larangan memakan makanan yang diharamkan. Ada hikamah di balik mandi besar bagi orang yang junub, Ada hikmah dibalik kaki kiri yang kita langkahkan ketika masuk ke wc dan kaki kanan yang kita langkahkan pertama kali ketiak keluar wc. Ada hikmah di balik perintah Allah agar ia duduk ketika buang air besar maupun air kecil, dst. Sesungguhnya Islam menghendaki kebaikan untuk umat manusia dalam setia aturannya.

عَنْ أَبِي أَيُّوبَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا أَتَيْتُمْ الْغَائِطَ فَلَا تَسْتَقْبِلُوا الْقِبْلَةَ وَلَا تَسْتَدْبِرُوهَا بِبَوْلٍ وَلَا غَائِط،ٍ وَلَكِنْ شَرِّقُوا أَوْ غَرِّبُوا (رواه مسلم)

Dari Abu Ayyub ra berkata, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Apabila kalian mendatangi tempat buang hajat, maka janganlah kalian menghadap kiblat dan jangan pula membelakanginya; baik saat buang air besar atau saat buang air kecil. Akan tetapi menghadaplah ke timur atau ke barat.’ (HR. Muslim, hadits no. 388)

Hikmah Hadits ;

  1. Betapa luhur dan mulianya etika dan akhlak dalam Islam, yang mengajarkan tatakrama dalam kehidupan sehari-hari, termasuk juga mengajarkan tatakrama dalam hal- hal yang kecil, seperti saat membuang hajat di kamar kecil atau di tempat pembuangan hajat lainnya, seperti di jamban, dsb.
  2. Diantara adab dan etika yang diajarkan Islam saat buang hajat adalah, agar kita tidak menghadap ke arah kiblat atau membelakanginya, yaitu arah menghadap atau membelakangi Ka’bah, baik pada saat buang hajat kecil maupun pada saat buang hajat besar. Karena arah Ka’bah merupakah arah yang digunakan untuk menghadapkan wajah kita saat menjalankan berbagai ibadah yang utama, khususnya ibadah shalat. Sehingga tidak patut untuk menghadapkan diri ke arah Ka’bah yang terletak di tanah suci, kecuali dalam hal melakukan amal perbuatan yang baik dan suci pula, yaitu seperti saat shalat, membaca Al-Qur’an, berdzikir dan berdoa, dsb.
  3. Maka, apabila kita hendak membuang hajat, usahakan semaksimal mungkin untuk tidak menghadap ke arah Ka’bah. Kita dianjurkan menghadap ke arah mana saja, yang bukan arah Ka’bah dan bukan juga arah membelakangi Ka’bah. Adapun konteks diperintahkan untuk menghadap ke timur atau ke barat, sebagaimana disebutkan Nabi Saw dalam hadits di atas, mengandung pengertian, bahwa pada saat itu posisi Nabi Saw dan para sahabat adalah di Madinah, yang terletak di sebelah utara kota Mekah. Artinya dari Madinah, Kiblat ada di posisi sebelah selatan. Maka, jangan menghadap ke Selatan (menghadap arah Ka’bah), jangan pula menghadap ke Utara (membelakangi Ka’bah), namun hendaknya menghadaplah ke arah yg bukan arah Ka’bah atau arah membelakangi Ka’bah (yaitu ke arah timur atau arah barat). Subhanallah, betapa indah dan mulianya akhlak dan etika dalam ajaran agama Islam.Wallahu A’lam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: