Berziarah Ke Makam Ulama Mewujudkan Keamanan Negara

Berziarah Ke Makam Ulama Mewujudkan Keamanan Negara. Sejak kecil kita sebagai orang Indonesia telah dididik oleh orang tua kita agar mendoakan orang yang telah meninggal, utamanya leluhur kita. Setiap hari kamis sore para orang tua mengajak anak-anak mereka untuk pergi ke makam, membersihkan rumput dan sampah-sampah yang ada disekitarnya lalu dilanjutkan dengan membaca yasin dah tahlil. Para orang tua mengatakan bahwa para leluhur yang telah berada di alam kubur senantiasa menantikan kiriman “makanan” dari anak cucunya yang masih hidup di dunia. Tentu saja makanan mereka tidak sama dengan makanan dunia, namun makanan mereka adalah bacaan tasbih, tahlil, takbir, shalawat, istighfar, ayat-ayat suci yang pahalanya dikirimkan kepada mereka.

Para leluhur akan merasa senang apabila ada anak cucuknya yang datang berziarah di kuburnya, sama halnya mereka senang dikunjungi ketika masih hidup di dunia. Dan tentu saja para leluhur akan membalas kebaikan anak cucunya dengan kebaikan pula. Di alam barzah mereka selalu berdoa kepada Allah untuk kebaikan anak cucunya. Mereka memohon kepada Allah agar keturunanya diselamatkan dan dimuliakan Allah selama hidup di dunia dan di akherat nanti.

Disamping itu para orang tua juga menganjurkan anak-anaknya untuk berziarah ke makam-makam para ulama dan wali-wali Allah. Mereka mengatakan bahwa nikmatnya Islam dan Iman yang sekarang mereka rasakan bukanlah datang secara tiba-tiba, akan tetapi Islam bisa berkembang luas hingga bisa dijalankan dengan baik oleh banyak orang karena peran dan perjuangan yang gigih dari para ulama. Para ulama telah mengorbankan nyawa, harta, waktu, dan umurnya demi menyiarkan agama Islam hingga sampai ke pelosok negeri. Oleh karena itu sebagai santri dan murid yang tahu berterimakasih, mereka berziarah ke makam-makam wali dengan niat mendoakannya.

Para wali dapat melihat siapa saja yang datang ke makamnya. Para wali adalah orang-orang yang baik budi dan hatinya yang tidak mungkin membalas kebaikan dengan tangan kosong, akan tetapi mereka akan mendoakan siapa pun yang menziarahinya. Doa para wali tentu saja tidak sama dengan doa orang biasa. Inilah yang diharapkan oleh para penziarah di makam-makam wali. InsyaAllah ketika para penziarah menjumpai kesulitan di hari kiamata kelak, dengan izin Allah para wali akan datang menolongnya. Karena para ulama juga diberi izin oleh Allah untuk memberikan syafaatkepada orang-orang yang dikenalnya.

Berziarah ke makam para ulama dan wali Allah adalah salah satu bukti bahwa kita mencintai pewaris para nabi yang berarti kita mencintai nabi Muhammad SAW. Dan mencintai nabi Muhammad adalah bukti bahwa kita mencintai Allah SWT. Dan barangsiapa yang mencintai Allah maka Allah akan mencintai kita. Dan barangsiapa yang dicintai Allah maka kita akan diampuni dosanya, diselamatkan dari api nereka, dimuliakan di dunia dan di akherat, dimasukkan ke dalam surga-Nya lalu disuguhi dengan berbagai macam hidangan-hidangannya.

Apabila kita melihat fenomena yang terjadi di dunia saat ini, banyak negara-negara Islam yang porak poranda akibat perang saudara, radikalisme, serangan negara asing, maupun konflik lain yang berkepanjangan dan tak kunjung selesai. Sebut saja mulai dari Irak, Mesir, Suriah, Libya, Yaman dan lain sebagainya mengalami penderitaan perang saudara.

Ironisnya, negara-negara itu merupakan tempat kelahiran atau pernah ditempati para ulama dan waliyullah nan agung seperti Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani (Baghdad, Irak) Imam Nawawi (Nawa, Damaskus) dan lainnya.

Lalu apa kaitannya, negara-negara yang porak poranda itu dengan para ulama yang ada di dalamnya, baik yang masih hidup maupun yang telah wafat?

“Saya pernah bertanya kepada Habib Luthfi bin Yahya, mengapa banyak negara-negara yang menghasilkan ulama dan wali besar justru sekarang banyak yang hancur?” kata Sekjen PBNU H Helmy Faishal Zaini pada pidato sambutan pembukaan Kongres IPNU-IPPNU, Sabtu (5/12), di Asrama Haji Donohudan, Boyolali.

“Karena mereka yang hidup sudah tidak lagi menghormati yang mati,” tutur Helmy menirukan jawaban dari Habib Luhtfi.

Dipaparkan Helmy, di negara tersebut mulai luntur budaya kirim doa kepada para ulama yang sudah wafat, maupun bertawasul. “Berbeda dengan di Indonesia, di negara ini, ziarah ke makam para wali masih sangat ramai. Masih ada warga NU, yang tawadhu’ kepada para ulama,” ujar dia.

Menurutnya, sikap penghormatan kepada para ulama baik yang masih hidup maupun sudah wafat mungkin menjadi salah satu sebab turunnya rahmat Allah. “Kalau tidak ada NU, mungkin negara ini sudah hancur, tak ada lagi yang kenal Pancasila,” tegas dia.

Pada momen kongres ini, ia juga berharap para kader IPNU-IPPNU senantiasa berkomitmen menjaga NKRI. “Sebagai organisasi pelajar milik NU harus berkomitmen menjaga NKRI jangan sampai dipecah belah oleh pihak tertentu, yang tidak ingin Islam di Indonesia menjadi damai,” tegasnya.

Wallahu A’lam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: