Setiap Muslim Diperintahkan Untuk Berdakwah, Dengan Dakwah Cara Rasulullah

Setiap Muslim Diperintahkan Untuk Berdakwah, Dengan Dakwah Cara Rasulullah. Para nabi dan rasul adalah utusan-utusan Allah yang diperintahkan untuk menyampaikan wahyu yang mereka terima dari-Nya. Wahyu Allah berisi petunjuk-petunjuk yang akan mengantarkan umat manusia menuju kehidupan yang bahagia nan abadi. Sungguh beruntung orang yang mau menerima petunjuk itu dan sungguh celaka orang yang menolak petunjuk itu. Orang-orang yang menerima petunjuk-petunjuk dari para nabi pada akhirnya akan menerima ilmu dan hikmah, dan mereka akan menjadi da’i (penyeru kebaikan) bagi kelurga, teman, dan lingkungannya masing-masing. Oleh karena itu ketika para nabi wafat, mereka telah meninggalkan orang-orang yang akan meneruskan dakwahnya. Merekalah para pewaris para nabi yang harus diikuti dan didengar nasehatnya.

Dakwah berarti menganjurkan orang lain untuk berbuat baik dan melarangnya dari hal-hal yang buruk. Meskipun itu berat tetapi harus dilakukan, karena itu perintah Allah yang harus dilaksanakan. Ada cara-cara yang telah dijelaskan oleh para ulama tentang tata cara berdakwah yang baik. Para ulama adalah para pewaris nabi yang sukses dalam menjalankan dakwahnya karena keluasan ilmunya, sehingga kita perlu mengambil ilmu-ilmu yang disampaikannya.

Ilmu-ilmu dalam berdakwah sangat dibutuhkan, karena seorang da’i akan menghadapi berbagai macam jenis manusia dengan berbagai karakter dan wataknya, berbagai macam pendidikan dan pekerjaannya, latar belakang kehidupannya, status sosialnya, dsb. Dibutuhkan metode yang baik agar dakwah bisa terlaksana dengan baik, sehingga ajaran islam bisa dipahami secara sempurna. Seorang da’i yang benar-benar mengetahui ilmu berdakwah akan mendapatkan sambutan yang hangat, sehingga akan semakin banyak orang-orang yang tertarik pada ajaran Islam. Ia benar-benar mengetahui siapa yang dihadapinya, dimana tempatnya, apa ilmu dan nasehat yang harus disampaikan, dan kalimat-kalimat apa yang dipilihnya.

Adapun orang yang kurang mengatahui ilmu-ilmu berdakwah akan banyak mengalami kendala-kendala yang menghadangnya. Ilmu dan nasehat yang disampaikannya tidak bisa diterima dengan baik oleh pendengar, sehingga sering akan timbul kesalah pahaman yang akan memunculkan permasalahan yang lebih besar. Da’i yang belum sempurna dalam menguasai tata cara dan ilmu berdakwah hendaknya ia terlebh dahulu menyibukkan diri untuk belajar ilmu berdakwah yang baik. Bagaimana menyampaikan dengan cara yang halus, dengan kata-kata yang sopan, dan tidak menyinggung perasaan. Jiwa dakwah memang harus dimiliki oleh setiap muslim, namun jika ilmu berdakwa belum dikuasai maka fungsinya sebagai pewaris para nabi tidak akan tercapai dengan baik. Justru yang terjadi malah sebaliknya orang-orang merasa terancam, takut, dan akhirnya lari dari Islam.

عن أبي سَعِيدٍ رضي الله عنه قال سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ (رواه مسلم)

Dari Abu Said ra berkata, bahwa aku mendengar Rasulullah Saw bersabda, “Barangsiapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, maka hendaklah ia merubah dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka hendaklah ia merubah dengan lisannya. Dan jika ia tidak mampu juga, maka hendaklah ia merubah dengan hatinya. Namun yang demikian itu adalah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim, hadits no 70)

Hikmah Hadits ;
1. Orang yang beriman kepada Allah, dengan iman yang benar, murni dan tulus, ia tidak akan menyukai perbuatan mungkar dan kemaksiatan. Iman di dalam hatinya akan bergejolak dan membuncah menggerakkan akal fikiran dan anggota badannya untuk menentang kemungkaran tersebut.
2. Kategori iman yang paling tinggi adalah #1. keimanan seseorang yang mau merubah kemungkaran dan memaksiatan dengan tangannya. Maksud dengan tangannya adalah dengan kekuatan fisiknya, atau dengan kekuasaan dan wewenang yang dimilikinya, atau juga dengan pengaruhnya. Namun yang perlu dicatat adalah bahwa merubah kemungkaran dengan tangannya ini tidak selalu identik dengan kekerasan, anarkis atau perbuatan yang dapat menimbukkan kerugian material lebih besar. Akan tetapi tetap dilakukan dengan tatacara yang sejalan dengan nilai-nilai Islam. Intinya, merubah kemungkaran dengan tangannya adalah suatu keharusan dan menjadi konsekwensi iman, namun tidak dilakukan dengan cara kemungkaran pula.
3. Nah, jika ia tidak mampu menghilangkan kemungkaran dengan tangannya, maka lisannya lah yang harus merubahnya. Yaitu dengan cara memberikan nasehat yang baik, argumentasi yang baik, tutur kata yang baik, tidak mengeluarkan kata kasar dan atau kotor serta ungkapan yang dapat memberikan pengaruh yang baik.
4. Terakhir adalah hatinya, jika dalam kondisi tangannya tak mampu berbuat, atau lisannya tak mampu berucap terhadap kemungkaran yang terjadi, oleh karena satu dan lain hal atau kondisi, maka batasan terakhir imannya adalah hati yang mengingkari perbuatan mungkar atau maksiat tersebut. Inilah batas terakhir keimanan dalam diri seseorang, yaitu manakala hati masih mengingkari. Adapun jika hati sudah tidak mengingkari, bahkan justru menikmati, jangan-jangan ini pertanda bahwa sudah tiada iman yang teraisa di dalam hatinya, na’udzubillahi min dzalik…

Wallahu A’lam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: