Lebih Baik Minta Umur Yang Berkah, Dari Pada Minta Umur Panjang

Lebih Baik Minta Umur Yang Berkah, Dari Pada Minta Umur Panjang. Segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini telah ditetapkan Allah di zaman azali. Tidak ada siapa pun yang bisa mengubah takdir dan ketetapan Allah SWT. Apa yang Ia kehendaki pasti terjadi. Umur manusia juga merupakan salah satu hal yang ditetapkan-Nya. Ada manusia yang meninggal dalam kandungan, ada yang meninggal beberapa hari setelah dilahirkan, ada yang meninggal ketika balita, ada yang ketika dewasa, dan ada yang sudah tua. Segala rahasia ada di tangan-Nya dan Allah tetaplah Tuhan yang Maha Adil. Segala yang terjadi tidak mengurangi kesempurnaan kekuasaan, dan keperkasaan kerajaan-Nya.

Manusia tidak berkehendak untuk tercipta, tetapi Allah menghendaki agar ia tercipta maka ia tercipta. Tugas manusia hanya menerima atas keterciptaan ini dan menuruti apa yang dikehendaki oleh Sang Pencipta. Sang pencipta mengehandaki agar manusia melakukan shalat, maka manusia harus melakukan shalat, Sang Pencipta menghendaki puasa maka manuisa harus melakukannya, Sang pencipta menghendaki agar manuis tidak mencuri, maka manuisa tidak boleh mencuri, Sang Pencipta Menghendaki agar manusia tidak berzina, maka manusia tidak boleh melakukan zina, Sang Pencipta menghendaki manusia untuk sakit maka manusia harus bersabar dan menerimanya dengan senang hati, Sang Pencipta menghendaki musibah kepada manuis maka ia harus tabah dan pasrah pada-Nya, Sang Pencipta mengehendaki anugerah iman kepada manusia maka ia harus mensyukurinya dengan banyak memuji-Nya, Sang Pencipta menghenaki karunia rezeki kepada manuis maka ia harus memanfaatkannya untuk beribadah kepada-Nya. Sang Pencipta mengehnadaki umur yang pendek maka ia harus ikhlas, Sang Pencipta menghendaki umur panjang kepada manuisa maka ia harus menerima, dst.

Semua yang datang dari Allah adalah baik, oleh karena itu pada hakikatnya tidak ada takdir yanng buruk. Yang buruk adalah yang berasal dari manusia yang tidak bisa menyikapi takdir yang baik.  Semua takdir adalah baik jika manusia mampu menyaksikan sifat-sifat dan perbuatan Allah di dalam takdir itu. Begitupula sebaiknya semua takdir adalah buruk jika manusia tidak mampu menangkap sifat-sifat Allah dan perbuatan-Nya di dalamnnya. Umur panjang atau pendek sama saja. Jika manusia menerimanya lalu memanfaatkan umurnya untuk kebaikan dan ibadah maka akan berkah hidupnya meskipun umurnya pendek. Namun jika manusia malah menggunakan umurnya untuk hal-hal yang tidak baik maka umur yang panjang tidak akan terasa panjang, karena keberkahan umurnya telah dicabut. Oleh karena itu hendaknya kita tidak meminta umur yang panjang atau umur yang pendek, tetapi hendaknya kita meminta umur yang berkah kepada Allah. Karena umur yang berkah itulah yang akan membuat umur kita benar-benar kekal sampai tiada batasnya, itulah umur para penghuni ahli surga.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَتَمَنَّى أَحَدُكُمْ الْمَوْتَ إِمَّا مُحْسِنًا فَلَعَلَّهُ يَزْدَادُ وَإِمَّا مُسِيئًا فَلَعَلَّهُ يَسْتَعْتِبُ (رواه البخاري)

Dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Janganlah kalian berangan-angan mengharapkan datangnya kematian. Karena, kalaulah dia orang baik, siapa tahu ia bisa menambah kebaikannya. Dan kalaulah dia adalah orang jahat, siapa tahu ia bisa meminta penangguhan (untuk bertaubat).” (HR. Bukhari)

Hikmah Hadits ;

  1. Bahwa dalam menjalani roda kehidupan di dunia ini, tak jarang ada jurang terjal menghadang, ada aral besar yang melintang, atau bahkan samudra luas yang membentang; menghadang setiap langkah dalam menempuh perjalanan. Dan tak jarang, tajamnya aral yang melintang, ditambah dengan gelapnya sisi lain kehidupan dunia yang diwarnai dengan saling fitnah dan saling hantam, dihiasi juga dengan keburukan dan kemunafikan, membuat sebagian orang berputus asa dalam menjalani bentangan samudra kehidupan. Karena ia beranggapan, lebih baik “pulang” sekarang menuju kematian, dari pada harus menunggu hari esok yang entah fitnah apalagi yang akan menghadang, ataupun karena beratnya beban kehidupan, di tengah hedonisme nya zaman, atau juga karena beratnya permasalahan, yang terasa demikian mencengkram.
  2. Namun ternyata hadits di atas melarang siapapun untuk berharap dan meng-angankan kematian, terhenti dari segala aktivitas duniawi dan aktivitas pekerjaan. Karena betapapun, setiap detik kehidupan adalah anugrah ilahi, yang tentunya akan sangat berarti. Bisa jadi, dengan masih langgengnya nafas dalam badan, akan menambah kebaikan bagi setiap orang yang mendambakan keridhaan Ar-Rahman. Atau dengan masih langgengnya kehidupan, akan semakin memberi kesempatan bagi orang yang berbuat maksiat, untuk melakukan tauabatan nashuhan.
  3. Maka Islam mengajarkan optimisme dalam menapaki jalan menuju hari depan, dan melarang pesimisme dalam mengarungi setiap cobaan dan ujian. Karena sekali lagi, setiap detik nafas yang dihembuskan, adalah samudra potensi kebaikan. Allah Swt berfirman, “..dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”. (QS. Yusuf : 87).Wallahu A’lam

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: