Berhati-Hati Dalam Berbicara Agar Tidak Jatuh Dalam Kekafiran

Berhati-Hati Dalam Berbicara Agar Tidak Jatuh Dalam Kekafiran. Dikatakan di dalam firman Allah bahwa kehidupan dunia ini hanyalah main-main dan senda gurau. Ayat ini mengandung nasehat kepada manusia agar ia tidak terlalu serius dalam memikirkan urusan duniawi, karena kehidupan ini hanyalah main-main. Jika dunia dan yang segala ada di dalamnya pada saatnya nanti akan hancur mengapa kita terlalu sibuk dan bersungguh-sungguh dalam memikirkannya, bahkan sampai melupakan Allah SWT. Kesungguhan manusia seharusnya dalam hal bagaimana dunia yang sedikit dan yang akan hancur ini bisa memberikan bekal sebanyak-banyaknya untuk kehidupannya di akherat kelak. Adapun jika tidak ada hubungannya dengan akherat maka cukuplah hanya bermain-main dan bersenda gurau.

Islam adalah agama yang bertujuan untuk menyenangkan umatnya baik di dunia dan di akherat. Oleh karena itu Islam tidak membatasi kaum muslimin untuk melakukan apa saja selama perkara itu dibolehkan dan tidak merugikan bagi dirinya dan orang lain. Termasuk salah satu hal yang dibolehkan adalah bercabda atau bersebda gurau. Di banyak riwayat banyak kita temukan kisah-kisah Rasulullah yang bersenda gurau dengan istri-istrinya dan para sahabatnya.  Meskipun bersenda gurau mereka tidak sampai melampaui batas-batas yang ditetapkan oleh Allah SWT. Justru candaan mereka itu mengandung ibadah karena mengandung niat untuk menyenangkan hati orang lain atau mempererat persatuan dan ikatan persaudaraan.

Anggota badan yang paling banyak dipakai dalam melakukan senda gurau adalah mulut. Perkataan yang keluar dari mulut kita harus benar-benar dijaga agar jangan sampai ada kata-kata yang membuat pihak lain tersinggung. Jangan sampai kata-kata itu menusuk perasaan saudara kita yang akan menorehkan kesedihan dalam hatinya, mengalirkan air matanya, atau bahkan menumbuhkan bibit-bibit permusuhan dan dendam. Luka dari benda tajam akan cepat hilang ketika sembuh, Namun luka dari tajamnya lisan tidak akan sembuh meski tahun-tahun telah berlalu.  Dikatakan dalam sebuah hadits bahwa anggota badab yang cepat membusuk di dalam kubur adalah mulut dan kemaluan. Hal itu karena banyaknya dosa yang besumber dari kedua anggota itu.

Apabila kata-kata yang membuat tersingguh manusia saja bisa memunculkan bahaya yang akan menimpa pelakunya, apalagi dengan kata-kata yang membuat tersinggung Allah SWT. Tentu saja ia akan berhadapan dengan murka-Nya yang akan menggelisahkan hatinya  di dunia dan di akherat. Oleh karena itu jangan sampai keluar dari mulut kita kalimat-kalimat yang akan mendatangkan ancaman dan siksa Allah yang tidak bisa disamakan dengan siksa manapun.

عَنْ أَبِي ذَرٍّ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَيْسَ مِنْ رَجُلٍ ادَّعَى لِغَيْرِ أَبِيهِ وَهُوَ يَعْلَمُهُ إِلَّا كَفَرَ، وَمَنْ ادَّعَى مَا لَيْسَ لَهُ فَلَيْسَ مِنَّا وَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ، وَمَنْ دَعَا رَجُلًا بِالْكُفْرِ أَوْ قَالَ عَدُوَّ اللَّهِ وَلَيْسَ كَذَلِكَ إِلَّا حَارَ عَلَيْهِ (رواه مسلم)

Dari Abu Dzar ra bahwa dia mendengar Rasulullah Saw bersabda: “Tidaklah seseorang yang mengakui orang lain sebagai bapaknya, padahal ia mengetahuinya (bahwa dia bukan bapaknya), maka ia telah kafir. Barangsiapa yang mengaku2 sesuatu yang bukan miliknya maka ia bukan dari golongan kami, dan berarti ia akan menempati tempat duduknya dari neraka. Dan barangsiapa memanggil seseorang dengan kekufuran, atau berkata, ‘Wahai musuh Allah’ padahal tidak demikian, kecuali perkataan tersebut akan kembali kepadanya.” (HR. Muslim, hadits no 93).

Hikmah Hadits
1. Bahwa orang yang beriman, tidak boleh melakukan perbuatan2 yang bertentangan dengan konsekwensi keimanannya, yang bahkan dapat mengantarkannya pada kekafiran. Perbuatan2 yang terlarang tersebut adalah ;

#1. Menisbatkan nasab dirinya kepada orang lain yang bukan ayah kandungnya. Hal ini sangat dilarang dalam Islam, termasuk di dalamnya juga menisbatkan nasab orang lain kepada yang bukan ayah kandungnya, seperti mengadopsi anak, lalu membuang nama ayah kandung anak tersebut, dan menggantikannya dengan nama dirinya. Karena dengan demikian berarti ia telah merampas kehormatan orang lain yaitu hak anak kandungnya.

#2. Mengaku-aku barang atau aset milik orang lain, sebagai barang atau aset miliknya. Termasuk juga di dalamnya mengambil harta benda milik orang lain.  Karena dengan demikian berarti ia telah merampas hak orang lain secara bathil. Dalam riwayat lain, Nabi Saw bersabda, ‘Barang siapa yang berbuat curang kepada kami, maka ia bukan termasuk golongan kami.’ (HR. Muslim)

#3. Memanggil orang lain dengan panggilan atau gelar kekafiran atau sebagai musuh Allah. Karena sesama muslim adalah bersaudara, yang oleh karenanya tidak boleh saling mengkafirkan satu dengan yang lainnya. Maka siapa yang memanggil saudaranya dengan sebutan seperti itu, maka panggilan tersebut akan kembali pada dirinya sendiri. Kecuali apabila orang tersebut sudah sangat jelas dan terang benderang melakukan perbuatan yang bertentangan dengan Aqidah Islamiyah.

  1. Maka oleh karenanya, hendaknya setiap kita berusaha semaksimal mungkin untuk menghindarkan diri dari segala perbuatan yang dapat merusak keimanan, bahkan membawa pada kekafiran, sebagaimana dijelaskan dalam hadits di atas.Wallahu A’lam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: