Ramadhan Bulan Mulia, Namun Tidak Memberikan Kemuliaannya Bagi Sebagian Orang

Ramadhan Bulan Mulia, Namun Tidak Memberikan Kemuliaannya Bagi Sebagian Orang. Ketika bos atau majikan kita sedang akan menunjukkan kebaikan dan kedermawanannya, kemudian ia mengatakan bahwa jika engkau melakukan pekerjaan ini dan itu di bulan ini maka aku akan menambahkan bayaran dan gajimu, tidak hanya dua kali lipat bahkan sampai 10 kali lipat dan sampai 100 kali lipat, tergantung kesungguhanmu dan keikhlasanmu melakukan pekerjaan itu.

Karyawan yang mendengar perkataan bos itu pasti merasakan senang yang meluap-luap. Bagaimana tidak pekerjaannya sama tetapi bayaran yang akan dibayarkan berlipat-lipat. Reaksinya tentu ia tidak akan mencukupkan diri untuk melakukan satu jenis pekerjaan saja, tetapi ia akan melakukan pekerjaan sebanyak-banyaknya dengan harapan ia akan menerima gaji yang semakin berlipat ganda. Tentu ia juga akan semakin bersemangat ketika menjalankannya.

Pada bulan Ramadhan ini Allah ingin menambahkan karunia dan anugerahnya kepada hamba-hamba-Nya. Allah berkehehdak untuk memuliakan bulan-bulan selain Ramadhan, namun Allah berkehendakuntuk memliakan ramadhan. Sepertiga awal dari bulan ini Allah memberikan ampunan, sepertiga pertengahan Allah memberikan rahmat, dan sepertiga yang terakhir Allah akan memberikan jaminan dibebaskan dari neraka.

Sebagai hamba yang cerdas dan berakal tentu ia akan menyambut informasi Tuhan mereka. Ia akan merasakan kegembiraan yang luar biasa, karena pintu surga dibuka lebar-lebar, pitu neraka ditutup rapat-rapat, dan syetan-syetan dibelenggu. Semua amal ibadah baik yang wajib maupun yang sunnah dilipatgandakan oleh Allah SWT. Maksiat dan perbuatan dosa yang telah ia lakukan di bulan-bulan sebelumnya telah dijamin oleh Allah untuk diampuni.

Tentu karunia dan nugerah Allah itu tidak Cuma-Cuma diberikan begitu saja, tetapi ia diberikan kepada hamba-hamba yang benar-benar memohon ampunan, meminta rahmat dan benar-benar berlari menjauh dari api neraka dengan cara meningkatkan amal ibadah, bertekadfuntuk bertaubat dan tidak mengulangi kesalahan-kesalahan yang lalu, dan berusaha menyucikan hati sesuci-sucinya dari segala macam najis dan penyakit hati yang lama menjangkitnya.

Apabila seorang muslim menyambut bulan ini dengan sambutan yang hangat, tentu Ramadhan juga akan memberikan buah dan manfaatnya yang tak terhitung jumlah dan nilainya. Dan satu malam yang pahala ibadah di dalamnya dilipatkan sampai 1000 bulan tentu ia akan bisa meraihnya dengan izin Allah SWT.

Namun ternyata bulan yang mulia ini tidak terlalu mendapatkan sambutan yang mulia dari bebrapa orang yang belum dibuka hatinya. Sambutannta kepada harta dan kesenangan dunia lebih ia utamakan dari pada sambutan kepada karunia Allah dan kehidupan akherat. Dalam hal ini Tokoh panutan bangsa inidonesia –KH Musthofa Bisri- telah menuangkan tulisannya dalam sebuah kesempatan.

Gus Mus mengatakan: Semestinya, kalau melihat sambutan dan pernyataan-pernyataan kaum muslimin menjelang Ramadan, tentu bulan suci itu adalah bulan yang istimewa. Tapi di manakah letak istimewanya? Apakah hanya pada perubahan jadwal makan, ramainya tarawih keliling, dan lomba ceramah agama, termasuk dagelan-dagelan di televisi? Bukankah selain itu semuanya seperti berjalan sebagaimana biasa?

Simaklah media massa, media cetak, atau elektronik; bacalah berita-berita. Bukankah isinya tidak banyak berbeda dengan hari-hari sebelum Ramadan? Anda masih dapat menikmati gosip selebritas, sinetron percintaan, dan film kekerasan. Anda masih bisa membaca berita, mulai copet yang dikeroyok di pasar hingga korupsi dengan manuver-manuver politikus. Anda masih bisa menyaksikan demo-demo dan tindakan-tindakan kekerasan atas nama agama. Anda masih melihat tokoh-tokoh memamerkan keahliannya mengulas dan memutarbalikkan fakta.

Apakah hanya pedagang-pedagang warung yang harus “menghormati” Ramadan dan mereka yang merusak tatanan justru bisa terus melenggang “melecehkan” kesucian Ramadan? Atau apakah sebenarnya maksud kita dengan penghormatan terhadap Ramadan itu?

Bukankah lebih mirip dan cukup jika penghormatan kita terhadap bulan suci itu berupa berpuasa dan beribadah? Mendekatkan diri kepada Allah Yang Maha Suci? Konon puasa berasal dari bahasa Sanskerta: upavasa. “Upa” berarti dekat dan “vasa/wasa” berarti yang maha agung. Upavasa berarti mendekatkan diri kepada Yang Maha Agung. Mendekatkan diri kepada Allah dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya adalah yang paling disukai-Nya. Semua perintah Allah adalah untuk kepentingan hamba-Nya. Untuk kesempurnaannya sebagai hamba sehingga pantas dekat dengan-Nya.

Para wali, kekasih Allah, memulai pendekatannya kepada Allah dengan cara itu. Dengan menunjukkan kehambaan mereka yang tulus dan tuntas kepada Tuan mereka. Allah Yang Maha Agung. Melaksanakan segala perintah Tuan adalah prioritas utama hamba sejati. Jadi mereka memulai dari niat dan membersihkan hati.

Puasa adalah salah satu perintah Allah yang istimewa. Kebanyakan perintah-perintah Allah sangat rentan terhadap godaan pamer. Salat, misalnya, yang seharusnya sebagaimana ibadah-ibadah yang lain dan dilaksanakan semata-mata untuk Allah, sering kali pelaksanaannya tak dapat mengelak dari godaan pamer. Puasa, karena sifatnya, lebih jauh dari godaan itu. Kecuali, mereka yang memang maniak pamer, hampir sulit dibayangkan orang yang berpuasa pamer kepada orang lain: menunjukkan puasanya.

Orang yang berpuasa seharusnya adalah orang yang berkeyakinan kuat bahwa puasanya dapat membuat Tuhannya ridha, atau minimal yakin ada pahala untuk puasanya. Kalau tidak, alangkah ruginya berpuasa hanya untuk menahan lapar dan haus.

Semua amal ibadah diganjar minimal 10 kali lipat dan bisa sampai 700 kali lipat dan seterusnya, kecuali puasa. Puasa merupakan ibadah yang hanya Allah sendiri yang tahu seberapa besar Ia akan mengganjarnya. “Kullu ‘amali Ibni Adam lahu illash shiyaam,” kata Allah dalam hadis Qudsi, “fainnahu lii wa anaa ajzii bihi.” (HR Bukhari Muslim dari Abu Hurairah r.a). “Semua amal manusia miliknya, kecuali puasa. Puasa adalah milik-Ku; Aku sendiri yang akan membalasnya.”

Wallahu A’lam

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: