Komentar-Komentar Negatif Yang Ditujukan Pada Tasawuf Dan Tarekat, Karena Mereka Belum Mengerti

Komentar-Komentar Negatif Yang Ditujukan Pada Tasawuf Dan Tarekat, Karena Mereka Belum Mengerti Kami tidak lupa untuk mengingatkan adanya kelompok yang mengaku-aku sebagai orang yang paling memahami tasawuf, lalu menyebut dirinya sebagai orang sufi. Padahal sebenarnya mereka itu orang yang tidak memiliki agama.

Mereka adalah orang yang biasa menari dan melenggak-lenggok di dalam peringatan maulid nabi. Mereka gemar melakukan perbuatan-perbuatan yang menyimpang dari jalan lurus. Mereka itu bukanlah orang sufi dan tidak masuk dalam wilayah at-thuruq as-Shufiyyah (jalannya orang sufi).

Thoriqoh sufhiyyah adalah jalan yang mengantarkan seseorang untuk sampai pada kedekatan kepada Allah SWT.

Kami juga mengingatkan adanya kelompok yang berlawanan dari kelompok di atas. Dengan kesombongannya mereka mengatakan ‘mengapa kita tidak mempelajari cara beradab dan berakhlak yang baik dengan mengambilnya langsung dari sumbernya yaitu al-Qur’an dan al-Hadits’.

Ini adalah sebuah perkataan yang secara dzohir tampak benar, namun pada hakekatnya tidak benar. Sesungguhnya kita tidak mungkin bisa mengetahui rukun-rukun dan sunnah-sunnah shalat dengan cara mengambil secara langsung dari al-Qur’an dan al-Hadits. Akan tetapi kita mempelajarinya dari ilmu yang diciptakan oleh para ulama yang dinamakan dengan ilmu fiqih.

Di dalam ilmu fiqih, lalu kita akan menjumpai rukun-rukun shalat, sunnah-sunnah shalat, dan berbagai hukum permasalahan yang telah disarikan dari al-Qur’an dan al-Hadits. Pada masa ini tidak ada seorang alimpun yang bisa mengambil hukum secara langsung dari al-Qur’an dan al-Hadits.

Ada beberapa hal yang tidak disebutkan di dalam al-Qur’an dan al-hadits, namun penting untuk kita ketahui. Oleh sebab itu, kita harus belajar kepada seorang syekh dengan cara mendengarkan nasehat dan petuah-petuahnya. Kita tidak mungkin bisa mempelajari ilmu tajwid secara langsung dari al-Qur’an dan al-Hadits.

Ada istilah-istilah di dalam ilmu tajwid yang hanya akan kita dapatkan dari seorang guru dan syekh. Seperti contohnya, mad lazim itu panjangnya enam harokat. Kita akan bertanya ‘siapa yang menamakan mad itu dengan mad lazim, lalu apa dalilnya?’. Seorang ulama yang ahli dalam ilmu tajwidlah yang akan menjawab dan menjelaskan ini semua.

Begitu pula dengan ilmu tasawuf dan ilmu-ilmu yang lain. Ilmu tasawuf adalah ilmu yang diciptakan di masa Imam Junaid al-Baghdadi, yaitu sejak abad ke 4 hijriyah dan masih tetap ada sampai masa ini.

Ketika zaman telah rusak dan akhlaq yang buruk telah menyebar, maka rusaklah sebagian thoriqoh shufiyah. Banyak orang yang mengira bahwa inilah thoriqoh shufiyyah. Akan tetapi Allah akan terus menjaga tasawuf yang benar dan para ahlinya, serta akan melindungi mereka dengan perlindungan-Nya.

Allah berfirman,

إِنَّ اللَّهَ يُدَافِعُ عَنِ الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ كُلَّ خَوَّانٍ كَفُورٍ

Sesunggunya Allah akan melindungi orang-orang yang beriman. Dan sesunggunya Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat dan orang yang kafur nikmat. (QS. Al-Hajj: 38).

Dan sekarang kita telah mengerti mengapa kita harus mempelajari akhlaq dan cara membersihkan jiwa dari ilmu tasawuf, dan kita tidak mempelajarinya secara langsung dari al-Qur’an dan al-Hadits. Mari kita memohon kepada Allah SWT agar menunjukkan kepada kita pemahaman yang benar mengenai tasawuf dan thoriqoh. Wallahu ta’al a’la wa a’la

Syekh Ali Jum’ah, Al-Bayan

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: