Cerita Karamah-Karamah Dari Para Wali Allah, Apa Itu Benar?

Karomah adalah suatu peristiwa yang terjadi di luar kebiasaan manusia, yang tidak diikuti dengan pengakuannya sebagai nabi, atau pendahuluan sebelum menjadi nabi. Karomah adalah sesuatu yang menakjubkan yang Allah tampakkan pada hamba-hambanya yang soleh, yang selalu melaksanakan syareat Islam dan beristiqomah mengikuti sunah nabi Muhammad SAW.

Para ulama mensyaratkan bahwa karomah harus terjadi pada orang yang mentaati aturan syareat Islam dan mengikuti sunah nabi Muhammad SAW. Syarat ini berfungsi untuk menolak pengakuan seseorang yang memiliki suatu kelebihan, namun ia tidak melaksanakan syareat agama dan tidak mentaati perintah Allah dan rasul-Nya.

Beriman pada karomah para wali dan kekasih Allah termasuk dasar aqidah ahlussunnah wal jama’ah. Imam at-Thohawi berkata, “kami beriman pada adanya karomah-karomah para wali Allah yang diriwayatkan dengan sanad orang-orang yang terpercaya. (al-aqidah at-thohawiyah).

Sesunggunya mengingkari karomah wali dapat mengeluarkan seorang muslim dari agama Islam. Karena percaya pada karomah wali termasuk prinsip aqidah Islam. Yang memiliki karomah pada hakekatnya adalah Allah SWT, dan Dia ingin menampakannya pada diri hamba-hamba-Nya yang taat dan patuh kepada syareat-Nya sebagai bagian dari tanda-tanda kekuasan-Nya.

Imam al-Jalal al-Mahalli mengatakan bahwa karomah bisa terjadi pada diri orang-orang yang soleh, yang mentaati peritah Allah SWT dan yang menjauhi perbuatan maksiat. Orang soleh ini selalu kuat dan teguh pendiriannya untuk menolak godaan syahwat. Dan karenanya ia mendapatkan karomah dari Allah SWT.

Diantara contoh karomah yang pernah terjadi adalah mengalirnya sunggai nil dengan sebab surat dari sayyidina Umar rodliyallahu ‘anh. Contoh lainnya Umar dapat melihat penglima perangnya yang sedang berperang di Nahawan. Bahkan Umar dapat berkata kepada panglimanya tadi -yang benama Sariyah-, dan Sariah dapat mendengar suara Umar. Umar berkata kepada Sariyah, “wahai Sariah! gunung! gunung!” -yang bermaksud memberitahunya bahwa ada musuh di balik gunung-.

Contoh lainnya adalah sahabat Kholid bin Walid yang meminum segelas racun yang mematikan, namun racun itu sama sekali tidak memiliki efek apapun pada tubuh Kholid. Dan masih banyak hal-hal menakjubkan lainnya yang terjadi pada diri para sahabat nabi rodliyallahu ‘anhum. (syarkh jalaluddin al-mahalli li jam’il jawami’).

Ibnu Taimiyyah berkata, “ada banyak orang soleh yang bisa melakukan perbuatan-perbuatan di luar kebiasaan manusia, karena sebab keimanan dan ketaqwaannya kepada Allah SWT. Dan peristiwa luar biasa itu dinamakan dengan karomah”. (al-fatawa al-kubro).

Para ulama mengatakan bahwa yang termasuk karomah para wali adalah kemampuan mereka melihat sesuatu yang ghaib. Mengenai masalah ini, Ibnu ‘Abidin mengatakan, “termasuk salah satu bentuk karomah para wali adalah kemampuan mereka melihat dan mengetahui hal-hal ghaib. Para ulama sangat menolak madzhab mu’tazilah yang menolak adanya karomah karena bersandarkan pada ayat,

عَالِمُ الْغَيْبِ فَلا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا (٢٦) إِلا مَنِ ارْتَضَى مِنْ رَسُولٍ

Allah adalah Dzat yang mengetahui hal-hal yang ghaib, dan Dia tidak akan menampakkan hal ghaib itu kepada seorangpun kecuali rasul yang ia ridloi. (QS. Al-Jin: 26-27).

Para ulama mengatakan bahwa yang dimaksud dengan rasul pada ayat ini adalah malaikat. Jadi maknanya, Allah tidak akan menampakkah suatu hal yang ghaib kepada seorangpun dengan tanpa perantara, kecuali malaikat. Adapun nabi-nabi dan wali-wali Allah terkadang ditampakkan atas mereka hal-hal ghaib, namun dengan perantara malaikat. (khasyiyah Ibnu ‘Abidin).

Karomah-karomah orang-orang yang soleh banyak terjadi pada saat mereka masih hidup. Dan tidak ada dalil yang menunjukkan berakhirnya karomah setelah mereka wafat. Justru yang ada adalah dalil yan menunjukkan sebaliknya. Bahwasanya karomah para wali dan kekasih Allah itu masih tetap ada setelah wafatnya.

Telah diriwayatkan, bahwa Allah menjaga jasad ‘Ashim bin Tsabit setelah wafatnya, kemudian Allah membangkitkan jasad ‘Ashim, lalu ia melindungi kaum muslimin dari serangan musuh. (HR Bukhori, Ibnu-Habban, dan al-Hakim).

Imam al-Bujairimi mengatakan, “ada seorang murid yang bertanya kepada gurunya, “jika ada mayit yang membaca surat sajdah (sebagai karomahnya), apakah orang yang mendengarnya disyareatkan untuk bersujud?’”, sang guru menjawab, “benar!, disunnahkan untuk bersujud, sebab karomah para wali Allah itu tidak hilang karena sebab wafatnya. Hal ini mungkin saja terjadi mayit sebagai bentuk karomah yang diberikan Allah kepadanya, karena mayit tidak sama dengan benda mati”. (khasyiyatul bujairimi).

Dari penjelasan singkat di atas dapat kita simpulkan bahwa beriman pada karomah para wali dan kekasih Allah termasuk permasalahan aqidah yang sudah disepakati oleh para ulama. Barang siapa yang mengingkari karomah, maka aqidahnya masih dipertanyakan, dan perbuatannya bisa mengeluarkan dirinya dari agama Islam, Na’udlubillahi min dzaalik.

Seorang muslim yang baik hendaknya tidak mengingkari karomah hamba-hamba Allah yang soleh di masa hidupnya maupun setelah wafatnya. Wallahu ta’ala a’la wa a’lam.

Syekh Ali Jum’ah, Al-Bayan Lima Yusyghilul Adzhaan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: