Kedudukan Fatwa Di Dalam Islam

Bismillah, walhamdulillah, wassholatu wassalaamu ‘ala sayyidina Rasulillah, wa aalihi wa shohbihi wa man walaah, wa ba’d. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa ini telah sangat maju. Dengan kemajuan teknologi kita bisa mengetahui berbagai informasi dari tempat yang sangat jauh dengan cepat.

Dengan internet setiap orang dapat melihat dan mendengar fatwa dan petuah ilmu dari siapapun dan dari tempat manapun. Semua madzhab telah disajikan di internet. Ada banyak ceramah dari para syekh, ustadz, dan da’i dari berbagai macam kelompok, aliran, dan latar belakang.

Disamping itu di internet ada banyak pemikiran keislaman dan fatwa-fatwa yang tersebar. Namun hal ini akan menimbulkan efek negatif dan sangat berbahaya, karena setiap orang bisa mengamil fatwa dari orang yang tidak diketahui latar belakangnya, padahal sebenarnya ia tidak memiliki kapasitas yang cukup untuk mengeluarkan fatwa. Oleh karena itu sebagai muslim yang baik kita harus berhati-hati dalam memastikan bahwa fatwa yang kita ambil berasal dari orang-orang yang ahli dalam berfatwa.

KEDUDUKAN FATWA

Sesungguhnya fatwa menempati kedudukan yang luhur. Firman Allah,

وَيَسْتَفْتُونَكَ فِي النِّسَاءِ قُلِ اللَّهُ يُفْتِيكُمْ فِيهِنَّ

Mereka meminta fatwa kepadamu mengenai para wanita. Katakanlah (wahai Muhammad)!, Allah yang memberi fatwa kepadamu tentang mereka. (QS. An-Nisa’: 127).

Allah SWT telah menginformasikan kepada kita bahwa Allahlah yang memberi fatwa kepada hamba-hamba-Nya. Oleh karena itu fatwa pada hakekatnya adalah perkataan Allah yang merupakan hukum syar’i yang mulia.

Allah SWT telah mengangkat nabi Muhammad SAW untuk menduduki jabatan sebagai mufti. Oleh karena itu segala apa yang dikatakan nabi Muhammad adalah wahyu dari Allah sebagaimana firman-Nya,

وَالنَّجْمِ إِذَا هَوَى (١) مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوَى

Demi bintang ketika terbenam!, kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru. (QS. An-Najm: 1-2).

-firman Allah,

بِالْبَيِّنَاتِ وَالزُّبُرِ وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

Keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab. Dan kami turunkan kepadamu (Muhammad) al-Qur’an, agar engkau menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka. Dan supaya mereka memikirkannya. (QS. An-Nahl: 44).

Begitu mulia tugas seorang mufti, karena mufti pada hakekatnya menyampaikan suatu hukum yang bersumber dari Allah SWT. Mufti adalah kholifah (pengganti) nabi Muhammad SAW dalam melaksanakan tugas -menjelaskan hukum suatu permasalahan kepada umat Islam-. Dan setelah nabi Muhammad tiada, tugas jabatan mufti kemudian digantikan oleh para sahabat yang mulia, para tabi’in, dan para ulama setelahnya.

Berfatwa adalah menjelaskan hukum Allah SWT dan mengaplikasikannya di dalam lehidupan umat manusia. Seorang mufti adalah orang yang mengatakan kepada orang yang meminta fatwa bahwa engkau harus melakukan hal ini karena ini diperintahkan oleh Allah, atau engkau tidak boleh melakukan ini karena ini hukumnya haram. Oleh Imam al-Qorofi mufti dianggap sebagai orang yang mampu menerjemahkan maksud dan keinginan Allah SWT.

Sedangkan Ibnu Qoyyim mengibaratkannya sebagai seorang menteri yang mengawal seorang raja. Jika seorang menteri mendapatkan kemuliaan dan kehormaan karena melayani raja, maka bagaimana pendapatmu dengan pengawal rajanya langit dan bumi, Allah ‘azza wajalla. (i’laamul muwaqi’in, Ibnu Qoyyim).

Tidak boleh hukumnya seseorang berfatwa karena maksud ingin dihormati dan mencari pujian manusia, atau dengan niat yang buruk, atau untuk kesombongan. Nabi besabda, “tindakan sembrono dalam mengeluarkan fatwa bagi seseorang dapat mengantarkannya masuk kedalam neraka jahanam”. (HR ad-Darimi, Ibnul Mubarok).

Dalam hal ini Imam an-Nawawi berkata, “berfatwa memiliki keutamaan yang agung, karena mufti adalah pewaris para nabi sholawatullahi ‘alaihim yang melakukan kewajiban fardlu kifayah. Akan tetapi ia bisa tergelincir dan melakukan kesalahan yang dapat menimbulkan bahaya. Oleh karena itu banyak ulama yang mengatakan bahwa mufti adalah wakil Allah di bumi.

Karena bahaya dan akibat dari kesalahan mengeluarkan fatwa sangatlah besar, maka banyak sahabat yang enggan untuk memberikan fatwa ketika ditanya mengenai suatu masalah. Diriwayatkan dari Abdir Rohman bin Abi laila, beliau berkata, “aku menjumpai 120 sahabat Rasulullah SAW dari kaum anshor. Ketika salah seorang dari mereka ditanya tentang suatu masalah ia enggan menjawab dan melemparkan pertanyaan ini kepada yang lain, lalu sahabat yang lain juga melemparkannya kepada yang lain, begitu seterusnya sampai akhinya kembali pada sahabat yang pertama kali ditanya. Dari Ibnu Mas’ud dan Ibnu Abbas rodliyallahu ‘anhuma, beliau berkata, “barangsiapa yang mengeluarkan fatwa atas apa saja yang ditanyakan, maka ketahuilah bahwa ia adalah orang gila”.

Diriwayatkan dari ‘Atho’ bin Saib at-Tabi’i, beliau berkata, “aku mendapati sekelompok orang alim yang soleh. Apabila salah seorang diantara mereka ditanya mengenai suatu hal, kemudian ia menjawab, maka badannya akan bergetar karena takut kepada Allah”. Dari Sufyan bin ‘Uyainah dan Sahnun mereka berkata, “orang yang banyak mengelurkan fatwa adalah orang yang paling sedikit ilmunya”. Imam as-Syafi’i pernah ditanya mengenai suatu masalah tetapi ia tidak menjawab, lalu ada yang berkata, “mengapa engkau tidak menjawab?”, beliau berkata, “sampai aku tahu apakah kemuliaan itu ada dalam diam atau dalam menjawab”.

Dari Haitsam bin Jamil, beliau berkata, “aku melihat imam Malik ditanya mengenai 48 permasalahan, dan beliau menjawab 32 masalah dengan jawaban ‘saya tidak tahu’. Diriwayatkan juga bahwa pernah imam Malik ditanya mengenai 50 masalah dan ia tidak menjawab satupun. Imam Malik mengatakan, “barangsiapa ingin menjawab suatu pertanyaan, maka sebelum mejawab ia harus terlebih dahulu menimbang dirinya dengan surga dan neraka”.

Beliau juga pernah ditanya oleh seseorang, kemudian beliau menjawab, “saya tidak tahu”, lalu ada seseorang yang berkata, “itu adalah masalah yang ringan dan mudah”, beliau berkata, “tidak ada hal yang ringan dan mudah dalam urusan ilmu”. Imam Syafi’i berkata, “aku tidak melihat seseorang yang lebih berhak untuk mengeluarkan fatwa dari pada Ibnu ‘Uyainah, namun beliau diam dan tidak mengeluarkan fatwa”. as-Shoimari dan al-Khothib berkata, “barangsiapa yang bersemangat dan terburu-buru untuk mengeluarkan fatwa maka akan sedikit taufiqnya, dan ia akan mengalami kegoncangan dalam urusan hidupnya”.

Apabila seseorang tidak senang menduduki jabatan sebagai mufti atau merasa tidak memiliki kemampuan dalam mengelurkan fatwa, atau khawatir akan banyak melakukan kesalahan di dalam fatwanya maka ia harus segera menolak jabatan ini dan menyerahkannya kepada orang yang pantas memikul tanggung jawab ini. Nabi bersabda, “janganlah engkau meminta kepemimpinan dan tanggung jawab.

Barangsiapa yang meminta, maka seluruh permasalahan akan dipikulkan kepadanya. Akan tetapi jika ia diberi jabatan maka ia akan mendapat pertolongan dari Allah untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang akan dihadapinya”. (al-majmu’, Imam an-Nawawi).

Syekh Ali Jum’ah, Al-Bayan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: