Hukum Mengkonsumsi Daging Impor

Bismillah, walhamdulillah, wassholatu wassalamu ‘ala sayyidina Rasulillah, wa alihi washohbihi wa man walah, wa ba’d. Hukum asal memakan daging hewan ternak adalah haram, melainkan ada bukti yang jelas bahwa hewan itu disembelih secara syar’i -yaitu ruh hewan itu keluar dengan cara disembelih oleh seorang muslim atau ahli kitab-.

Hewan yang boleh dimakan dagingnya disyaratkan 3 hal yaitu:

1. Hewan itu harus halal -seperti onta, sapi, domba, kelinci, dan lain-lain-. Sedangkan hewan yang diharamkan oleh agama -seperti babi, anjing, ular, dan lain-lain- maka dagingnya tidak boleh dimakan. Adapun hewan yang menjadi perselisihan para ulama tentang keharamannya, mayoritas ulama menyatakan dagingnya haram dimakan.

2. Hewan itu disembelih di tenggorokannya, jika memungkinkan. Jika tidak memungkinkan untuk disembelih di bagian tenggorokannya -seperti dalam keadaan ketika diburu-, maka boleh disembelih dibagian mana saja.

Menghilangkan nyawa yang sesuai syareat dapat dilakukan dengan tiga cara yaitu,

  1. Adz-dzabh adalah menyembelih hewan di leher bagian atas.

2. An-nahr adalah menyembelih hewan di leher bagian bawah.

3. Al-‘aqr adalah melukai hewan di bagian mana saja dengan berbagai alat yang bisa membunuhnya. Ini dilakukan ketika berada dalam keadaan darurat dimana hewan itu tidak bisa disembelih di bagian lehernya.

 Jika hewan yang halal dagingnya itu tidak sedang berada dalam kondisi darurat yang memungkinkan disembelih di bagian lehernya, tetapi kita tidak melakukannya maka hewan itu tidak boleh dimakan, karena hukumnya dianggap sebagai bangkai.

3. Orang yang menyembelih hewan itu adalah orang Islam atau ahli kitab (yahudi dan nasrani). Dalil yang membolehkan sembelihan orang Islam dan ahli kitab adalah firman Allah,

وَطَعَامُ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حِلٌّ لَكُمْ وَطَعَامُكُمْ حِلٌّ لَهُمْ

Makanan ahli kitab itu halal bagi kalian, dan makanan kalian juga halal bagi mereka. (QS. Al-Maidah: 5).

lafadz tho’aam (makanan) pada ayat di atas sifatnya umum. Ia mencakup hewan yang disembelih dan semua makanan yang terbuat dari bahan-bahan yang halal dimakan. Mayoritas ahli tafsir dan para ahli fiqih mengatakan bahwa yang dimaksud dengan lafadz at-tho’aam pada ayat di atas adalah sembelihan dan daging yang halal, karena itulah hal yang sering ditanyakan oleh banyak orang mengenai hukumnya.

Adapun semua makanan hukum aslinya jelas halal. (at-tahrir wat tanwiir). Imam Ibnu Qudamah mengatakan, “para ahli ilmu telah bersepakat bahwa memakan sembelihan orang ahli kitab itu hukumnya boleh”. (al-mughni).

Apabila orang yang menyembelih hewan itu bukan muslim atau bukan ahli kitab -baik itu orang murtad, penyembah berhala, orang atheis, atau penyembah api- maka hewan sembelihannya tidak halal. Imam ar-Romli mengatakan, “jika ada orang fasiq atau ahli kitab mengatakan bahwa ia yang telah menyembelih kambing itu, maka sembelihannya kita terima sebab mereka adalah orang-orang yang diperbolehkan oleh Islam untuk menyembelih hewan”. (nihayatul muhtaj).

At-Thohir bin ‘Asyur mengatakan, “hikmah dibolehkannya para ahli kitab untuk menyembelih hewan adalah karena agama mereka adalah agama samawi yang mengharamkan hal-hal yang kotor dan najis. Mereka juga memiliki aturan-aturan agama -yang merupakan wahyu ilahi-, yang menjadikan mereka berbeda dengan orang-orang musyrik dan penyembah berhala”. (at-tahrir wat-tanwir).

Dari keterangan di atas dapat kita simpulkan bahwa jika daging yang diimpor itu halal dagingnya dan disembelih oleh orang Islam atau ahli kitab dengan cara syar’i, maka daging impor itu halal dimakan. Adapun cara untuk mengetahui agama orang yang menyembelih hewan itu adalah dengan melihat mayoritas pemeluk agama negara pengimpor, atau dengan melihat kemasan yang tertulis apakah disembelih dengan cara Islam atau tidak. Apabila daging impor itu datang dari negara penganut atheis, penyembah berhala, atau penyembah api, maka haram hukumnya. Begitu pula daging yang disembelih bukan dengan cara syar’i -seperti dibunuh dengan disetrum, digiling dengan mesin, atau dipukul kepalanya- maka daging itu dihukumi sebagai bangkai yang tidak boleh dimakan. Wallahu ta’ala a’la wa a’lam.

Syekh Ali Jum’ah, Al-Bayan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: