Bagaimana Menyikapi Perbedaan Pendapat Diantara Para Ulama Dalam Bidang Fiqih

Terbitnya buku-buku yang bertujuan untuk mengajak pembacanya menganut madzhab pengarangnya, dan menuduh orang yang berbeda pendapat dengannya dengan sebutan ahli bid’ah, fasiq, dan sesat dapat menimbulkan bahaya dan kekhawatiran di kalangan umat Islam. Bahkan hal ini dapat menimbulkan perpecahan diantara orang-orang Islam.

Setiap orang bebas mempertahankan madzhabnya, menjelaskan dan memaparkan semua dalil dan segala hal yang menguatkan pendapatnya. Namun tidak dibenarkan jika ia menuduh orang yang bertentangan dengan madzhabnya dengan sebutan ahli bid’ah, sesat, dan fasiq.

Jadi Bagaimana Menyikapi Perbedaan Pendapat Diantara Para Ulama Dalam Masalah Fiqih ?

Hal yang harus kita ketahui bersama adalah meskipun berbeda pendapat, para ulama salafussholih tidak saling menjelekkan satu sama lain, apalagi sampai menganggap pendapatnya paling benar. Sesungguhnya tindakan memaksakan banyak orang untuk mengikuti pendapatnya dan menganggap bahwa hanya madzhabnya yang paling benar, dapat menyebabkan perpecahan umat.

Permasalahan yang prinsip di dalam agama Islam telah disepakati oleh para ulama zaman dahulu dan sekarang. Adapun selain itu -yang dinamakan dengan permasalahan ijtihadiyyah (hasil ijtihad para ulama)- membolehkan setiap orang untuk mengikuti madzhab yang disukainya selama madzhab itu adalah madzhab para ulama salafussholih yang memegang teguh syareat Islam, serta mengikuti petunjuk dan aturan yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Perselisihan di dalam permasalahan ijtihadiyyah sudah terjadi sejak zaman sahabat rodliyallahu ‘anhum. Imam al-Qosim bin Muhammad bin Abu Bakar as-Siddiq mengatakan, “Allah telah memberikan kebaikan kepada kita dengan adanya perbedaan pendapat para sahabat nabi dalam masalah-masalah ijtihadiyyah. Karena dengan begitu kita bisa lebih bebas memilih amalan dan pendapat yang kita sukai”.

Imam Sufyan ats-Tsaruri mengatakan, “apabila engkau melakukan suatu amalan yang diperselisihkan oleh para ulama, dan engkau melihat amalan orang lain yang tidak sama denganmu, maka janganlah engkau melarangnya”. (khilyatul auliyaa). Imam Ahmad bin Hambal berkata, “hendaknya seorang faqih (ahli fiqih) tidak memaksakan orang-orang untuk mengikuti madzhabnya”, (al-adab as-syar’iyyah).

Imam madzhab Hambali -Ibnu Qudamah al-Muqoddasi- mengatakan, “Allah telah menciptakan para ulama, dimana mereka adalah orang-orang yang paling bisa memahami kaidah-kaidah agama.

Mereka adalah orang yang bisa menjelaskan permasalahan-permasalahan hokum Islam. Kesepakatan mereka mengenai suatu hal adalah dalil untuk kita. Sedangkan perbedaan mereka tentang hukum suatu permasalahan adalah rahmat”. (al-mughni).

Dikisahkan ada seseorang yang mengarang sebuah kitab yang membahas tentang masalah perbedaan pendapat ulama seputar ilmu fiqih. Lalu Imam Ahmad berkata padanya, “janganlah engkau menamakan kitabmu ini dengan ikhtilaaf (perbedaan), tetapi namakanlah kitabmu ini dengan kitaabus si’a’ah (kitab yang menjelaskan tentang luas dan tolerannya hukum Islam).

Meskipun seseorang telah yakin dengan kebenaran madzhab dan pendapatnya, serta meyakini kesalahan pendapat orang yang berbeda dengannya, ia tidak boleh menuduh orang lain sebagai ahli bid’ah atau ahli fasiq. Imam al-Hafidz adz-Dzahabi mengatakan, “jika ada seorang mujtahid (ahli ijtihad) yang melakukan kesalahan di dalam ijtihadnya, kita tidak boleh menjulukinya sebagai ahli bid’ah, fasiq, dan sesat.

Karena kesalahan seperti ini adalah kesalahan yang dimaafkan oleh Allah SWT. Para ulama dan mujtahid adalah orang-orang yang memiliki derajat dan kedudukan yang mulia di sisi Allah. Mereka adalah orang-orang yang senantiasa mengajak manusia untuk mendekat kepada Allah SWT. (siyar a’laam an-nubalaa’). Ibnu Taymiyah mengatakan, “apabila kami berpegang pada suatu pendapat di dalam masalah yang diperselisihkan, kami tidak menyalahkan dan menjelekkan pendapat ulama lainnya”. (al-adab as-syar’iyah, Ibnu Muflih).

Dari penjelasan diatas kita dapat menyimpulkan bahwa perbedaan pendapat diantara ulama adalah rahmat di dalam agama Islam, dengan ketentuan bahwa ulama yang kita ikuti harus memenuhi syarat yang diperlukan untuk melakukan ijtihad (mengambil hukum dari dalil al-Qur’an dan al-Hadits). Adapun ajakan seseorang untuk mengikuti pendapatnya dengan mengatakan bahwa pendapatnya yang paling benar dan pendapat yang lainnya itu salah, lalu menganggap orang yang berbeda pendapat dengannya sebagai ahli bid’ah, fasiq dan sesat adalah tindakan yang tidak benar.

Karena hal ini akan menimbulkan perpecahan dan mengakibatkan permusuhan diantara umat Islam. Semoga Allah senantiasa membuka hati dan pikiran kita semua. Amiin ya robbal ‘alamiin. Wallahu ta’ala a’la wa’lam.

Syekh Ali Jum’ah, Al-bayan

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: